Puisi : Perempuan Dua Kota

0
Perempuan Dua Kota Perempuan dalam sebuah kotaMenyeka air mata untuk sekadar menutupi luka batinnya“Beri aku hakku!” teriaknya penuh harapWajah merahnya hanya dianggap angin lalu Perempuan...

Puisi : Perempuan Bersarung Sejengkal

0
Perempuan Bersarung Sejengkal Ini bukan tentang sebuah elegi yang datang bersama kekerasan masaIni tentang sebuah elegi yang diundang bersama gairah yang diinginiJika elegi adalah cermin...

Puisi : Selamat Malam Al-Quds

0
Selamat Malam Al-Quds Gelap tak selalu sempurnaTanpa setitik lentera di langit kelamMalam pun tibaInsan terlelap dibuai lelah yang mendera Mereka tiba-tiba terbangunDi riuh rendahnya nyanyian sunyi...

Kata Mereka, Dia Sahabat

0
Aku peluk anakku kuat-kuatAku redam gelisahku dalam doaAku hapus bias-bias ketakutanAku risau masa yang berganti tak lagi kusinggahi Kupeluk anakku erat-eratAku berjanji pada semesta yang...

Cerpen : Pendar Zapin di Negeri Istana

0
Riausastra.com - Ini adalah sebuah desa. Selayaknya sebuah desa, tentu saja menawarkan ketenangan. Sawah-sawah yang terhampar luas. Menghijau. Bila sudah waktunya, muncullah bulir-bulir padi...

Puisi : Cukup Jadi Manusia

0
Cukup Jadi Manusia Hey, sobat..Aku lihat, kamu sedang asyik menikmati udara segar, makan besar bersama keluarga, dan malamnya tidur lelap berbuai mimpiAku juga tau, masalah...

Cerpen : Darah Terakhir

2
Riausastra.com - Aku memandang sendu pada lelaki di hadapanku ini. Pikirannya kacau. Wajahnya penuh kecemasan. Sering kali ia memandangi telepon genggamnya. Melihatnya pucat pasi...

Puisi : Mata yang Berbicara

0
Mata yang Bicara Siluet senja menari-nari di kelopak mata indahmuMenggelorakan tarian luka yang mengisi kekosongan harapanSesekali batinmu ikut berteriak"Tatap aku dalam-dalam, dan rasakanlah getaran nuranimu!"...

Puisi : Orang-orang Abstrak

0
Orang-orang Abstrak Ada seseorang,Menekan "ucapan" untuk beberapa orangLewat kata yang ia deraikanTersirat makna berbaur rasa Sebagian orang menganggap label itu hanya ocehan belakaAda juga yang menganggap...

Puisi : Selamat Hari Guru

0
Selamat Hari Guru Aku, butiran embun yang menitik di bilangan pagiSejuk memukau saat diterpa pendar cahaya mentariPelangi singgah di pucuk fajarMempersilakan kemilau menjadi diriku Kamu adalah...

TRENDING TOPIK

Puisi: Senandika Penyesalan

Puisi: Teman Baru

Puisi: Lelaki Kopi