Riausastra.com – Aku memandang sendu pada lelaki di hadapanku ini. Pikirannya kacau. Wajahnya penuh kecemasan. Sering kali ia memandangi telepon genggamnya. Melihatnya pucat pasi dan gelisah, membuatku turut serta merasakan apa yang dia rasakan: risau.

Pukul 24.00 WIB. Bayangan tubuh mungil itu menari-nari dalam ingatanku. Matanya terpejam. Dadanya bergemuruh. Jantungnya terlihat berdetak di bawah kulit dadanya yang tipis. Beberapa tali infus terpasang di nadi kaki dan tangannya sekaligus. Di telapak kakinya sebelah lagi terpasang alat deteksi nadi. Tubuh kecil mungil itu dibungkus dalam plastik bening. Di hidungnya terpasang alat bantu pernafasan. Namanya Buble CPAP. Di sekeliling badan mungil itu dikelilingi kain yang dibentuk seperti lingkaran. Seolah-olah, kain itu mendekapnya.

Lambat laun, ingatan itu melemah. Melayang. Dan aku pun terlelap. Malam seakan menyisakan sedikit ruang agar mata lelah ini terpejam. Sebagaimana obat, tertidur pulas adalah penawar segala gundah.

Kring…kring…

Aku tersentak. Yang ditunggu-tunggu telah berdering. ­HP suamiku berdering. Aku terkesiap dan mencoba bangkit dari tempat tidurku. Ternyata suamiku juga demikian. Ia langsung spontan mengangkat panggilan di telepon genggamnya. Sudah kuduga. Telepon yang sama. Hampir setiap waktu dan setiap malam.  Panggilan yang menggetarkan hati.

“Pak, kondisi bayinya memburuk. Kita butuh tiga kantung darah. Segera ya, Pak,” ucap suara dari seberang di telepon.

Jam masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Aku deg-degan. Seperti malam-malam kemarin, aku bersama suamiku segera berangkat menuju PMI di Jalan Pattimura. Butuh setengah jam untuk perjalanan dari rumah menuju rumah sakit untuk mengambil surat pengantar pengambilan darah ke PMI. Dari rumah sakit, sekitar sepuluh menit menuju PMI.

Aku dan suamiku telah terbiasa menerima panggilan mendadak seperti ini. Adakalanya panggilan itu memberi kabar tentang keadaan si kecil yang sedang kritis. Kadang juga karena butuh persetujuan orang tua untuk dilakukan tindakan medis. Kadang-kadang untuk menebus obat khusus ke apotik rumah sakit. Apapun itu, setiap panggilan selalu membuat ketakutan. Bahkan, aku selalu lupa merawat luka ini. Luka pascasesar sekitar sebulan yang lalu.

Sekantung darah merah golongan AB plus telah selesai diproses di PMI. Surat keterangan dari PMI harus diantar kembali ke Ruang Perina. Aku sempatkan mengintip si kecil dari luar kaca. Tak terlihat jelas. Hanya bunyi alat deteksi nadi itu saja yang masih bersahut-sahutan. Sekitar empat orang perawat yang masih sibuk dengan tugasnya.

Menembus malam yang dingin telah terbiasa bagiku sejak seminggu pascasesar. Menemani lelaki istimewa ini adalah bahagiaku. Kadang-kadang, tak hanya rembulan yang menemani perjalanan kami. Sesekali gerimis ikut menemani.

Sesampainya di rumah, telepon genggam itu kembali berbunyi. Perasaan kembali tak karuan.

 “Maaf Pak, mau ngabari, ternyata darah yang diambil di PMI tidak cocok dengan bayinya, Pak,” ucap perawat dari Instalasi Neonatus itu.

“Kapan kami cari lagi di PMI, Sus?” Jawab suamiku.

“Sekarang aja, Pak. Dokter menyarankan agar darah itu segera ditransfusi. Bayinya anemia, Pak,” sambung suara suster itu.

Tanpa berpikir panjang, kembali, proses yang sama kami lakukan. Menjelang subuh ini ditemani hujan deras. Menembus gelap dengan kendaraan roda dua. Selepas menunaikan pengambilan darah di PMI, aku dan suamiku memutuskan untuk istirahat di masjid rumah sakit saja.

 Kurebahkan tubuhku. Kembali terngiang saat pendarahan sebulan yang lalu. Darah segar tak henti-hentinya mengalir. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya harus diadakan tindakan sesar. Usai kandungan belum genap tujuh bulan. Lahirlah si kecil dengan berat badan 1,3 kg dan panjang badan 41 cm. Kondisi paru-paru dan jantung yang belum matang membuat bidadari kecil ini harus menjalani perawatan di inkubator. Tali pusarnya masih berwarna putih cerah, pertanda perkembangannya masih jauh dari kata sempurna.

Aku mengadukan kesahku pada-Nya. Meski masih dalam kondisi nifas, aku yakin, doaku akan sampai pada-Nya. Lelah ini tak lagi menguraikan air mata. Kesedihan telah mengajarkan kekuatan dan ketegaran. Yang tersisa hanya sabar dan rindu.

Jam besuk telah tiba. Kudapati bayiku sedang makan. Bayi kecil mungil ini makan melalui selang. ASI tetap menjadi asupan utama. Meski tak pernah mengisap secara langsung, ASI ini kuperah setiap hari. Setiap perahan bisa sampai sepuluh botol ASI sehari. Setiap jam besuk, ASI yang sudah kubekukan di frezer kulkas di rumah akan kusalin ke kulkas Ruang Perina. Kulabeli botol-botol ASI itu dengan namaku agar tak tertukar dengan ASI bayi lain yang sedang dirawat di ruang yang sama dengan bayiku.

“Bidadari kecil Ibu, semangat untuk sembuh ya, Sayang. Ayah dan Ibu mencintaimu karena Allah,” bisikku di jendela inkubator sambil menyentuh tubuh lemah itu.

***

Sampai tujuh kali bolak-balik mengurus darah selama dua hari ini, ternyata tak satu pun yang cocok dengan si kecil.

“Coba dicari dari darah keluarga aja, Pak. Saya juga heran, tidak satu kantung pun yang sesuai. Sudah tujuh kantung kita proses, tapi semua tidak cocok.    Baru kali ini kejadian seperti ini, ” jelas Dokter Spesialis Anak ini saat aku dan suamiku dipanggil di ruang konsultasi.

Keluar dari ruang konsultasi, air mataku menetes. Teringat kondisi bayiku yang semakin kritis. Rindu dalam dadaku semakin membuncah. Aku merasa menjadi ibu yang gagal untuknya.

“Kita harus tetap berprasangka baik pada Allah ya, Sayang. Jangan menyerah. Pasti ada hikmah dibalik semua ini.”

Suamiku berusaha menguatkanku. Ia genggam tanganku dan memelukku erat. Aku tahu, ia pasti lebih gelisah. Namun, ia pandai sekali menyimpan kerisauan dalam hatinya. Meski sesekali air matanya tetap jatuh juga saat ia merasa pundaknya tak mampu lagi untuk bertahan. Bila sudah begitu, ia pasti akan melarutkan gundah itu di atas sajadah.

Mencari pendonor dari keluarga terdekat, tidak ada yang punya golongan darah AB plus. Golongan darah suamiku A plus, sedangkan aku B plus. Aku mulai bingung dan merasa putus asa. Tapi, tidak dengan lelaki bertubuh tinggi itu. Lelaki istimewa itu tetap optimis.

 Aku dan suamiku mengabarkan ke beberapa grup WA bahwa kami membutuhkan pendonor darah golongan AB plus. Tiga orang mengirimkan pesan ke suamiku. Suamiku memutuskan untuk bertemu dengan ketiganya di PMI selepas magrib.

Pendonor pertama bernama Bayu. Teman lama suamiku. Bayu adalah seorang kepala sekolah di sekolah tahfidz Quran. Sebelum donor darah, Bayu baru saja berbuka puasa sunnah. Pendonor kedua bernama Ilham. Ilham seorang Guru Tahfidz Quran sekaligus Hafidz Quran. Ilham ternyata baru berbuka puasa sunnah juga. Sedangkan pendonor ketiga bernama Aisyah. Ibu dari empat orang anak. Seorang wanita salihah yang jam terbangnya sudah tinggi untuk mengisi taklim ibu-ibu dan remaja putri. Aisyah juga baru saja berbuka puasa sunnah.

Ada bahagia yang tak terkira dalam benakku dan benak suamiku. Selepas mendonor, aku dan suamiku berterima kasih buat orang-orang istimewa ini. Mereka telah Allah kirimkan buat si kecil. Allah jadikan kehadiran dan kedemawanan mereka adalah hadiah terindah di saat-saat sulit seperti ini.

Berselang dua jam, satu kantung darah pertama telah berhasil ditransfusi ke tubuh si kecil. Ada bahagia dan lega dalam hati ini. Keesokan harinya, darah di kantung kedua dan kantung ketiga selesai ditransfusi.

“Dari hasil cek labor, setelah ketiga kantung darah masuk ke tubuh si kecil, sekarang kondisinya sudah stabil,” jelas perawat saat aku dan suamiku membesuk si kecil.

Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah.” Aku dan suamiku serentak mengucap syukur.

“Kemarin-kemarin, tak satu pun yang cocok. Ketiga darah terakhir ini baru lah cocok. Darah keluarga ya, Pak” tanya suster sambil membenarkan posisi Boble CPAP di hidung si kecil.

“Mmm, iya, Sus, darah keluarga. Keluarga karena Allah, Sus,” jawab suamiku tersenyum.

Bidadari kecil yang kami beri nama Airin membuka kedua matanya. Tubuh mungilnya masih tampak lemah. Bibir merahnya menguncup. Lucu sekali. Aku memasukkan tanganku ke dalam inkubator. Jari telunjukku menyentuh tangan kanannya. Kecil sekali. Tampak sekali, Airin baru saja berjuang melewati masa-masa kritisnya.

Seperti biasa, setiap jam besuk, akan selalu aku dan suamiku awali dengan membaca Quran. Dengan membaca ayat-ayat Allah ini, aku dan suamiku merasa tenang. Ketenangan ini ingin kami bagikan buat Airin. Makanya, tak bosan mengajak Airin untuk mendengar isi Kalam Allah ini.

“Sayang, tiga darah terakhir ini adalah darahnya para penghafal Quran. Allah hadiahkan buat Airin selepas mereka berbuka puasa sunnah. Mudah-mudahan berkah dan kelak, Airin tumbuh menjadi anak yang solehah. Semangat, Sayang,” ucap suamiku memberi semangat buat putri kecilnya.

Air mataku tak mampu kutahan. Haru bercampur bahagia. Rinduku semakin membuncah. Berharap Airin lekas pulih agar bisa kudekap dalam pelukakanku.

“Allah sayang kita, Nak. Allah tak pernah meninggalkan kita. Allah selalu mendengar doa dan rintihan kita. Cepat pulih, Sayang,” kubisikkan kalimat cinta ini lewat jendela inkubator.

***

Catatan : Cerpen ini dimuat di Riau Pos, 15 Desember 2019, Halaman 19

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here