Cerpen: Syarat Duniawi

0
Riausastra.com - “Kita telah berhasil, Kawan,” kata Maman, sesaat setelah sahabatnya, Reza, datang dan duduk di sampingnya. Reza pun tersenyum. “Kalau keadaan ramai terus seperti ini, atau lebih ramai lagi, kita harus menyusun rencana untuk...

Cerpen: Marsitungkolan

0
Riausastra.com - Malam ini, langit Kota Sidimpuan laksana sebuah ruang hening di antara gugusan gemintang. Pekatnya hari telah menjanjikan pergantian waktu. Seperti tak berdaya, insan terbuai dalam mimpi-mimpi panjang tak berpangkal dan tak berujung. Salah...

Cerpen: Anti Hujan

0
Riausastra.com - Betapa manisnya jambu madu yang tengah bermusim. Buahnya lebat. Dagingnya montok. Warnanya begitu menggoda, merah merekah. Nikmatnya, aduhai. Membayangkan keelokan buah jambu yang tengah ranum, sama halnya membayangkan dua buah nama tertera...

Cerpen: Rindu-Rindu Kaca Mayang

0
Riausastra.com - Pada musim yang mulai bersemi, rinai hujan rintik-rintik jatuh perlahan. Bila sudah gerimis, perasaan pun akan terbawa suasana. Ingin kuceritakan tentang rindu. Dia hadir dalam sunyi. Membelenggu rasa, meski dalam suasana ramai. Lalu,...

Cerpen: Langit-Langit Malam

0
Jangan, janjikan cinta yang biruBila kau hanya bermanis-manis di bibirJangan, bisikkan rindu yang semuBila kau hanya menabur luka di hati Riausastra.com - Kudengarkan sepenuh hati bait demi bait milik Pance Pondang dengan judul Di Saat...

Cerpen : Jebakan Betmen

0
Riausastra.com - “Assalamualaikum,” ucap Purnama dengan santainya saat memasuki ruangan kelas. “Mantap ya, Poo, sudah tengah sembilan baru nyampe di kelas. Memangnya tidak ada guru yang ngecek ke asrama tadi?” Tanya May pada wanita berkulit hitam...

Cerpen : Kesal

0
Riausastra.com - Aku terbangun dari tidurku. Kupandang arloji pada handphone seluler milikku, pukul 2.30 WIB. “Ternyata masih terlalu pagi,” bisik batinku. Kulirik ke arah samping kiriku. Kudapati pangeran kecilku, masih tertidur nyenyak. Jari-jari kecilnya memeluk...

Cerpen : Pendar Zapin di Negeri Istana

0
Riausastra.com - Ini adalah sebuah desa. Selayaknya sebuah desa, tentu saja menawarkan ketenangan. Sawah-sawah yang terhampar luas. Menghijau. Bila sudah waktunya, muncullah bulir-bulir padi yang semakin berisi, semakin merunduk. Lalu, menguning sempurna. Desa yang...

Cerpen : Darah Terakhir

2
Riausastra.com - Aku memandang sendu pada lelaki di hadapanku ini. Pikirannya kacau. Wajahnya penuh kecemasan. Sering kali ia memandangi telepon genggamnya. Melihatnya pucat pasi dan gelisah, membuatku turut serta merasakan apa yang dia rasakan:...

Cerpen : Salah Aku, Apa?

0
Riausastra.com - Salah aku, apa? Mengapa harus aku? Kenapa bisa begini, yach?             Beberapa pertanyaan ini singgah dalam benakku. Banyak hal yang tidak kumengerti. Akan tetapi, alasan hadirnya pertanyaan-pertanyaan ini akan kuuraikan, meskipun jawabannya belum kutemui.            ...

TRENDING TOPIK