Foto : Merdeka.com

Selamat Hari Guru

Aku, butiran embun yang menitik di bilangan pagi
Sejuk memukau saat diterpa pendar cahaya mentari
Pelangi singgah di pucuk fajar
Mempersilakan kemilau menjadi diriku

Kamu adalah mutiara, katamu pada senja
Sebab aku istimewa, pujimu
Sebab aku belum terpapar butiran dosa, serumu
Karena aku masih anak-anak, begitu alasanmu

Tapi, bagaimana mungkin aku akan tetap bertahan dengan kepolosanku
Bagaimana mungkin aku akan bertahan dengan sikap manisku
Karena aku bukan lagi kanak-kanak
Yang membiarkan luka menganga di tubuh negeri
Yang membiarkan zalim menikam malam panjang yang tak berakhir
Yang membiarkan bangku-bangku sekolah sepi karena tangisan darah yang tak bermuara

Aku anak-anak sebuah negeri
Ingin menggenggam setangkai mawar cinta
Yang kurangkai untuk guruku
Dan, dengan lembutnya bisa mengutarakan kata
“Selamat Hari Guru, Guruku”
Sebab si sini
Di tempat jiwa menopang mimpi
Tak ada yang lebih antusias
Kecuali menunggu kematian yang hakiki

Tanpa rasa sakit, tanpa rasa penyesalan, tanpa rasa pesimis
Guru-guru kami, tetaplah lentera dalam kegelapan Al-Quds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here