Puisi: Muara Ramadhan
Muara Ramadhan
Langit membuka, malaikat berbaris membagi cinta mengapi-apiCintakan rasa cinta melangiti asmaralokaNyaLangit membuka, malaikat berbaris membagi cara merinduMuRedaRedakanlahMurka serakahMenggugat api dalam diri yang tidak...
Puisi: Tiga Hari Menjelang Sebelas
Tiga Hari Menjelang Sebelas
Pétang Delapan DesemberTiga langkah berat menuju angka yang dinantiSatu dasawarsa lebih memelihara janjiKini jalan pandang kita tak lagi searah
Di kursi kayu...
Puisi: Pondok Kehidupan
Pondok Kehidupan
Biarlah gedung-gedung pencakar langit itutumbuh subur di tengah lautan banjirbiarlah pesawat modern itu melintasiudara penuh kabut asap pekat
Sementara, aku bersandar di pondok kehidupandi...
Puisi: Kuncup-Kuncup Kehidupan
Kuncup-Kuncup Kehidupan
Bumi meringis panas dinginHawa raga menarik jejak perjalanan makhluk bermahkotaMengikrarkan keberadaan keturunan anak cucunyaMemeluk makhluk pemimpin peradaban dengan luka dan dukaLelah mengalah dalam...
Puisi: Matahari Tenggelam
Matahari Tenggelam
Kulihat lautTengah menari gelombang pasangDalam suara buih mempesonaSaat merahnya bola langit perlahan terlukisDi antara awan-awan putih seperti bulu dombaMemayung teduh jejak-jejak di pasirCamar...
Puisi: Sensasi
Sensasi
Ramai dalam kerumunanMematut layar terkembang lebarDi tanah lapang sebuah negeriTerpaku cerita alur terpampang mataKisah usang diulangDari secarik kertas perjuanganJaja sapi dan hijau sesawahanPeluh leluhur...
Cerpen: Ayah, Aku Ingin Pulang
Riausastra.com - Dengan sigap, Bu Nur menyiapkan pakaian dari lemari ke dalam tas ransel yang dibuka lebar. “Kenapa berangkat mendesak?” meski terdengar lembut, nada...
Puisi: Tasawuf Rindu
Tasawuf Rindu
Ada kegelisahan yang menetap dalam hati.Menggores dinding memberi peringatan.Mencipta kesan memberi perhatian.
Sorot matanya membuatku tersesat.Harapku puisi mengetuk pintu hatinya.Betapa inginku abadi di dalamnya.
Rindu...
Puisi: Digunduli Prestasi
Digunduli Prestasi
Pacu Jalur dinamakan ialah tradisi anak kuantanDari penjajahan nenek moyang tradisi ini telah terlestarikan
Tapi sayang seribu kali sayangIni bukan tentang lestarinya sebuah tradisiTapi...
Puisi: Ilham Barista
Ilham Barista
pada teduhan kafe ilmuwannyala fikir menggodak ligatpanas secangkir espressomenjamu harum ramuanmengadun asa wijaya
mencicip pesan ibunda"biar beribu batu merantauusah lelah menjerang ilmu,kehangatan yang abadinikmat...




























