sumber foto asli: pixabay

Kuncup-Kuncup Kehidupan

Bumi meringis panas dingin
Hawa raga menarik jejak perjalanan makhluk bermahkota
Mengikrarkan keberadaan keturunan anak cucunya
Memeluk makhluk pemimpin peradaban dengan luka dan duka
Lelah mengalah dalam pertarungan lingkungan yang abadi

Bumi kian renta, penuh kerutan dan uban yang menjuntai
Isyarat itu semakin nyata meresap di air tanah pada tahun kematian
tetapi insan masih terjebak pada lubang sempit bernama keangkuhan

Musim mengejek sungai hingga menangis
kemudian pergi tanpa berpamitan pada muara
Memohon lari ke langit berharap mendapat singgasana dan merdeka
tetapi yang dirasa hanya rindu kepada akar-akar bumi
kemudian bermohon kembali menjadi hujan

Menelusuri jejak dedaunan layu di bawah pusara cinta
yang terbaring kaku diselimuti kafan yang mulai lusuh
Kilometer kehidupan tetap berakhir di pelabuhan tepi pantai
yang menenangkan bagai pelukan Ibu

Jakarta, 29 November 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Diajak Pesta Malam
Artikel berikutnyaPuisi: Tentang Hujan
Anak sastra yang tersesat di fakultas teknik - Lulusan IT yang mencintai aksara dan mencintai coding pada akhirnya. Buku Antologi cerpen: ”The Millennials”, “Menggenggam bara”, “The Power of You”, “Beginilah Cara Kami Mendidik Anak”, “Ketika Badai Menerpa Rumah Tangga”, “Its Okay to Be Alone”. Buku Antologi Puisi: “Sajak Keheningan” Beberapa puisi di post di web pribadi. www.wildahurriya.com. Saat ini sedang belajar di kelas puisi KPO #37 bersama mentor Muhammad Asqa eNeste @duniaasqa

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini