Puisi: Saat Harus Memilih
Saat Harus Memilih
Aku melewati malamku dalam sepiSendiri, berunding dengan isi hatiSegenap harapanSirna diterpa mimpi-mimpi semu
Airin tak di siniMenghabiskan sisa malam tak bersamakuTak mampu lagi...
Puisi: Kasih Telah Kami Terima
Kasih Telah Kami Terima
Kepada Sultan Syarief
Engkau serupa purnamayang bulat penuh dalam hidupMemancar terang cahaya pada malamkala surya lelap ke peraduan
Kami yang memangku rindu persatuan,menyungging...
Puisi: Maafkan Bunda, Nak
Maafkan Bunda, Nak
Terik telah menyapa hariNyanyian burung tak lagi merdu kudengarRasa yang kusimpan dalam diamKini berganti menyisakan ketakutan
Rabbii..Aku mencoba bertahanMeski pandangan tak lagi punya...
Puisi: Kujadikan Sejarah Lampau Seorang Ibu
Kujadikan Sejarah Lampau Seorang Ibu
Di tubuh usang ini terbekas tusukan-tusukansetajam fitnah mematikan karier seseorangmasih perih sama juga semalam,air mata tak tertahan hanyalah pemerian dukatapi...
Puisi: Assalamualaikum, Airin
Assalamualaikum, Airin
Angin bertiup sepoi-sepoi, SayangMenggugurkan daun-daun yang telah menguningTak satu pun dedaun itu mengeluhIkhlas sekali menerima takdirnya
Ingin sekali aku merenda hari ini dengan sabarMembiarkan...
Puisi: Keinsafan Mengetuk Pintuku di Tengah Malam
Keinsafan Mengetuk Pintuku di Tengah Malam
semalam aku terlepas kompashilang arah seperti layang-layang putus talike kiri ke kanan mabuk dipermain angintak tahu ke mana harus...
Cerpen: Perempuan yang Tergila-gila pada Ponselnya
Riausastra.com - Pukul satu dini hari. Aku sudah lelah, tetapi kedua mataku enggan tuk terpejam. Kepalaku terasa sangat penuh. Cerita yang kudengar dari seorang...
Puisi: Kitab Tiga Belas
Kitab Tiga Belas
Mulai meredam amarahMulai terasuki nafsu binatangBirahi bergejolakRumput terdiam bisu
Kambing mulai menampakkan kebingunganTak sadarkan diri dengan kutukan
Rumput tertawa terbahak-bahakHarimau memendam amarah
Kitab kuKitab ku
Sejarah...
Pantun: Dukung Pantun jadi Warisan Budaya Takbenda
Dukung Pantun jadi Warisan Budaya Takbenda
Sungguhlah megah jembatan siak tigaBerwarna kuning penanda sejahteraSungguhlah elok melayu berbahasaDengan pantun, pembuka bicara
Jikalau tuan hendak ke PekanbaruSinggah sebentar...
Puisi: Menikmati Pantai, Jatuh Cinta Lagi
Menikmati Pantai, Jatuh Cinta Lagi
Ombak yang pecah di kakimunampak karib dari waktu ke waktubuih-buih tak pernah meminta lebihsebagaimana kekasih yang tak akan menghitung cinta...




























