Riausastra.com – Emak, adalah sebutan istimewa bagi setiap wanita yang telah menikah. Menjadi seorang emak cukup membahagiakan. Tapi, menjadi seorang emak juga cukup merasakan kerempongan.

Bagaimana dengan seorang wanita yang sudah menikah, tapi belum dikaruniai anak? Jangan pernah berkecil hati, Mak. Allah Maha Tahu yang terbaik buat hamba-Nya. Bisa jadi, emak yang memiliki anak sedang diuji kesabarannya dalam mendidik anaknya. Begitu juga dengan emak yang belum memiliki anak atau tidak memiliki anak sama sekali. Sama, Mak. Emak juga sedang diuji kesabarannya dalam menerima ketentuan Allah.

Goresan sederhana ini khusus buat saya, emak baperan zaman now. Jika ada yang merasa samaan, mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat. (Maaf ya mak-emak, kepedean banget sayanya).

Kita, emak-emak sosialita, (hobi main media sosial, maksudnya) punya banyak peer. Tak heran jika anak pulang sekolah, minta diajarin buatin peer, emaknya dah nolak duluan. Alasannya lagi sibuk. Padahal emaknya telah lelah dengan banyaknya peer rumah tangga yang sedang ia kerjakan perlahan-lahan. (Ngelesnya kebangetan).

Anak kita, kita ajarkan doa buat kedua orangtua, yang bunyinya begini, “Ya Allah ampunilah dosa kedua orangtuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka “MENDIDIKKU” sewaktu masih kecil.” (Sumber: ceramah Ustadz Abdul Somad Rahimahullah).

“Peer terberat emak adalah mendidik anak”.

Jadi:

Emak tak perlu baper saat anak belum lancar calistung, tapi baperlah jika anak tidak dekat dengan ayat-ayat Al-Quran, dan tak sempurna mengamalkan isinya (Peer ini belum tuntas).

Emak tak perlu baper saat anak tidak mendapat nilai tinggi dan juara kelas di sekolah, tapi baperlah jika anak tak mampu mengembangkan potensi dirinya. Sebab, setiap anak itu unik dan juara. “Jangan sampai kita memaksa ikan bisa terbang dan burung bisa berenang”. (Sudah memilihkan sarana pendidikan yang tepat, insya Allah)

Emak tak perlu baper saat anak tak bisa ikut audisi menyanyi atau kontes kecantikan yang mempertontonkan eksotisme auratnya. Tapi baperlah saat anak tak memiliki rasa empati pada saudaranya se-Tanah Air, seakidah, serta sesama manusia, juga sesama ciptaan Allah.(Peer ini berupa hablum minannas. Berat banget, Dylan… )

Fokus pada peer ketiga. Empati. Tidak mudah menjadi pribadi yang empati dan memiliki rasa kepedulian yang dalam. Ada dua hal yang membutuhkan rasa empati “emergency”,(gawat darurat) saat ini. Empati pada siapa, Mak?

Empati pertama empati terhadap kerusuhan di Wamena, Papua. Apa hubungannya dengan emak-emak? Harga bawang putih sekilonya Seratus Rebu di Daerah Jawa, sudah bikin emak-emak galau. Jadi buat kue bawang, atau cukup rengginang aja, sajian buat lebaran.
Harus empati lah, Mak…
Tanpa empati dari emak, anak-anak, bapak-bapak, sesama emak di warong tetangga, akan sepele dengan kejadian ini. Kalau sudah emak yang empati, semua orang di rumah bisa diajak ikut serta berempati agar kematian massal ini diselidiki penyebabnya dan semestinya negara harus hadir di tengah-tengah kesedihan keluarga ahlul musibah..

Empati berikutnya, adalah empati emak buat saudara kita di Palestina..
Biasanya, disaat puasa ramadhan, emak pada baper kalau belum belanja baju raya, belum punya modal buat bikin kue lebaran, belum ada ongkos mudik dan balik kampung, serta tehaer yang akan dibagi-bagi ke sanak saudara, handai tolan, kaum kerabat (banyak kali ya, Mak..)

Seringnya kita lupa berempati pada saudara kita di Palestina. Jangankan untuk berbuka, sahur saja belum tentu ada yang akan dimakan. Belum tentu pula bisa sahur di rumah. Belum tentu pula sahur bersama orang-orang tercinta. Belum tentu pula sahur dengan air minum. Yang ada, mereka sahur pakai air mata yang mulai mengering. Mereka hampir lupa caranya tertawa. Tapi, mereka tak pernah lupa, cara untuk bersyukur dan bertakwa. Mereka benar-benar Ahlul Jannah.

Sebagai emak yang penuh segala kekurangan, saya sering mengajarkan anak-anak saya agar mereka berempati pada Bumi tempat Qiblat Umat Islam pertama ini. Mungkin sebagian orang menganggap emak-emak yang mengajarkan anaknya mengenal perjuangan di Palestina, adalah bagian dari emak-emak garis keras. Tak masalah. Bukankah posisi garis keras atau garis lembek, akan menentukan posisi kita berpijak dan berpihak? Saya tak ragu berada di posisi ini..

Mak-emak baperan, sepertiku, kuy kita bangun mimpi kita dari sekarang. Meski kita bukan emak-emak terhebat, semoga kita dianugerahi Allah memiliki anak-anak yang hebat dalam berjuang di jalan Allah. Peer ini cukup rumit. Ya kan Mak?

Kita kesampingkan dulu peer-peer kita yang tak tuntas-tuntas seperti: piring kotor, lantai berselemak, rumah berserak, tak punya duit, tak sempat wiken dan nyalon, tak punya rumah, tak punya mobil, tak punya tas hermes, tak pernah makan siang di tepi Raja Ampat, tak sanggup jalan-jalan ke Turky, juga peer lainnya. Semoga peer keren kita di atas, mampu mengalahkan peer-peer remeh temeh kita yang lain. Aamiin

Kita tuliskan hari ini. Tak tahu kapan malaikat akan mengangkat doa kita ke langit. Lalu, Allah ijabah doa kita, barisan emak-emak sok banyak peer.

19 KOMENTAR

  1. Ngomong-ngomong soal emak emang nggak ada abisnya, haha.. ntah kenapa naluri seorang anak itu lebih kepada emak. Ngadunya kepada emak, pokoknya kalo masalah pikiran ngomongnya sama emak kalo masalah adu pukul ngomongnya sama ayah, hehe

  2. Emak harus kuat makk. Allah pasti membalas segala amal perbuatanmu. Jadi berjuanglah mencerdaskan anak-anakmu agar kelak kita sebagai orang tua bisa bangga.

  3. tidak cuma pe er emak doang, tp itu peer kedua orang tua si anak untuk mendidik anaknya.
    apalagi dimasa keemasannya. cepet banget niru. kudu hati2 bersikap, biar gak ditiru kebiasaan jelek kita sebagai ortu..

    Tio_iotomagz

  4. artikelnya mengedukasi, sebagai anak. bisa open mindset untuk gak usah susah dididik, apalagii ngelawan jangan. karene mulai sadar, jangan membebani pikiran

  5. Membahas tentang emak rasanya terharu. Perjuangan hingga tanggung jawab emak berat sekali. Mulai mendidik hingga membesarkan anaknya. Makasih artikelnya 🙁

  6. Emak, saya manggil ibu dengan sebutan emak juga di rumah. Memang rempong sih jadi emak-emak. Apalagi punya pe er yang berat untuk mendidik anak, duh rempongnya antara anak, rumah dan suami hehe

  7. Aminn semoga bisa punya anak2 yang hebat yang bisa membanggakan orang tua., orang tua emang madrasah pertama untuk anak2nya semoga kelak saya bisa jadi orang tua yang hebat amin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here