Riausastra.com – Nuri berjalan menuju ruang tamu, setelah mendapatkan panggilan dari sang ayah yang kini terlihat meminum secangkir kopi hitam panas. Konon ayah pernah berkata tanpa meminum secangkir kopi hitam panas di pagi hari maka jangan harap ada semangat terpancar hingga malam hari. Namun, percayalah Nuri paham bahwa itu hanyalah dalih ayah untuk bisa selalu meminum kopi dengan kondisi lambung yang sudah tidak kuat itu.
Memasuki kelas 1 SMA bukan berarti menjadi penghalang Nuri untuk membaca banyak buku. Cita-cita Nuri ingin menjadi dokter, karena itu telah banyak buku-buku ilmiah yang telah Nuri baca untuk menambah pengetahuannya. Apalagi perihal permasalahan kesehatan dari kebiasaan ayahnya ini, Nuri sangat paham. Namun, batu sudah ayahnya, bingung Nuri untuk menjelaskan.
Setiap pagi sebelum pergi kerja dan mengantar Nuri ke sekolah ayah selalu berkata “Sebentar kopi hitam dulu biar semangat pagi”. Dan setiap pagi pula mulut Nuri mengingatkan ayahnya untuk mengurangi kebiasaanya. Dan kini bertambahlah perkataan ayah itu “Nuri mari duduk sebentar”. Entah kesalahan apa yang telah Nuri lakukan rasanya tidak ada.
“Pagi-pagi seperti ini ayah ajak diskusi, pasti ada sesuatu, coba beritahu Nuri!”
“Alah mak, anak ini sudah berpikir macam-macam, duduk saja, ayah mau berbicara”
“Perihal apa ayah” Sambung Nuri “Nilai Nuri buruk ya, atau Nuri melakukan kesalahan?”
Ayah memijat kepalanya yang pusing mendengar omelan Nuri yang mirip dengan almarhum istrinya, cerewet. Untung saja ada kopi hitam panas, jadi bila sakit kepala datang maka ada kopi hitam panas yang mengobatinya. Ayah kembali meminum sedikit kopi yang berada pada gelas berwarna putih itu.
“Sudah banyak buku ilmiah yang Nuri baca, dan kebiasaan ayah tidaklah baik. Nuri tahu itu ayah. Sedangkan ayah membaca buku sastra, yang di dalamnya pasti hanya romansa, romansa, romansa saja, bagaimana ayah bisa sadar dengan kebiasan buruk ayah ini”
“Baik sekali mulut kamu itu nak, kurang-kurangilah mengucapkannya, apa yang kamu lontarkan itu tidak benar, dari membaca buku sastra banyak yang kamu bisa dapatkan Nuri, bukan perihal romansa saja”
“Nuri tidak percaya yah, sudah pernah Nuri lihat dan benar isinya romansa saja”
Kepala Nuri saat ini sangatlah keras, mungkin disamakan dengan batu, batupun kalah kerasnya dengan kepala Nuri. Dan ayah sedikit bingung bagaimana menjelaskan terkait banyaknya pengetahuan yang bisa didapatkan dari buku sastra kepada anak semata wayangnya ini.
“Nuri, kamu tahu bahwa ibu kamu itu orang Minang?” Tanya ayah pada Nuri yang menatapnya kebingungan, tiba-tiba sekali ayah membahas terkait ibu yang berasal dari Minang.
“Tiba-tiba sekali, memangnya kenapa ayah?”
Ayah diam sejenak.
“Sekali-kali kamu cobalah pulang kampung dan berkunjung ke rumah kakek dan nenek kamu yang ada di Padang, mungkin kamu bisa paham apa itu sastra saat berada di sana” Usul ayah.
Nuri terdiam mendengarnya, sudah 3 tahun semenjak meninggalnya ibu dan sudah 5 tahun Nuri tidak berkunjung ke kampung halaman sang ibu. Dan sekarang secara mendadak ayah memintanya untuk berkunjung ke Padang untuk memahami sastra, ada apa ini sebenarnya. Mata Nuri melihat ke kanan dan ke kiri pertanda bingung dengan usulan sang ayah yang mendadak itu. Kepalanya miring ke samping kanan, jelas sekali menandakan bahwa dirinya bingung.
“Tiba-tiba”
“Bukan tiba-tiba Nuri, ayah mengatakan ini justru baik maksudnya, walaupun ibu sudah tiada tetapi tidak putuslah tali silaturahmi kita dengan kakek dan nenek kamu yang ada di Padang sana dan sekalian dirimu belajar sastra di sana”
“Untuk apa Nuri memahami sastra ayah, tidak ada gunanya”
“Ada gunanya nak, baik sekiranya semua ilmu dirimu pahami, ilmu ilmiah kamu paham dan sastrapun kamu paham, maka seimbanglah ilmu pengetahuan kamu Nuri”
“Rasanya tidak perlu yah”
“Sekalian mengunjungi kakek dan nenek, mereka pasti rindu dengan kamu, terakhir bertemu dirimu pada saat kelas 5 SD”
“Namun, ayah ikut kan?”
“Ayah bekerja, tidak bisa ikut, kamu pergilah sendiri, nanti ayah belikan tiket, dan ayah kabari mamak kamu untuk menjemput kamu waktu sampai di Padang nanti”
“Mamak? Mamak ini perempuan yah?”
“Sudah pantas ternyata Nuri kamu untuk kembali ke kampung, belajarlah adat Minang pula disana nanti biar kamu tahu apa itu mamak”
“Loh, Mamak itu mamakan yah!”
“Bukan Nuri, mamak itu sebutan untuk abang dari ibu kamu nak, Om Zainal itu mamak kamu Nuri”
Nuri mengangguk, mencoba paham walaupun tidak paham dengan baik.
“Angguk-angguk saja, kamu paham memangnya?”
“Tidak ayah” Nuri tertawa kecil menutupi rasa malu dan bingungnya.
Dua minggu berlalu, libur sekolah kini tiba, sesuai dengan obrolan Nuri dan ayah lalu, kini Nuri tengah berdiri diam di depan bandara Internasional Minangkabau, menunggu mamak yang akan menjemputnya menuju rumah kakek dan nenek yang sudah 5 tahun tidak bersua dengannya.
Jantung Nuri berdegup dengan cepat, tangannya sedari tadi meremas tali yang tergantung pada tas bawaannya. Kakinya pula tidak tinggal diam turut serta terseret ke kanan dan ke kiri. Bingung, Nuri tidak tahu harus bagaimana dan sapaan apa yang harus Nuri lontarkan kepada mamak yang mungkin saja hampir tiba untuk menjemputnya.
“Nuri!” Kepala Nuri menatap kearah depan melihat suara yang memanggil namanya.
“Om Zainal?”
“Ondeh, janganlah panggil om, panggil mamak saja Nuri”
“Ooh hehehe, iya mamak Zainal”
“Ondeh, suko-suko Nurilah”
Menaiki mobil mamaknya, pada awalnya Nuri kira sang mamak adalah orang pendiam sehingga Nuri tidak memerlukan mengeluarkan banyak tenaga untuk menanggapi obrolan yang mungkin saja akan membuat Nuri bingung atau bahkan Nuri tidak tahu.
“Ondeh, sudah lama Nuri, mamak tidak berjumpa dengan kau, terakhir kau masih kecil sekali”
“Kelas berapa kini Nuri?”
“Bagaimana sekolahnya?”
“Ndak lapar Nuri?”
“Ondeh, maaflah Nuri kalau bahasa Indonesia mamak baserak, patah-patah sedikit lidah mamak kalau ngomong bahasa Indonesia ni”
“Baserak apa itu mak?” Kening Nuri berkerut, jujur banyak kosakata yang sedari tadi keluar dari mulut sang mamak yang tidak Nuri pahami.
“Baserak tu, baserak Nuri, ondeh apa ya…” Jari-jari mamak sedikit memukul stir kemudi mencoba berpikir “HAA, berantakan Nuri, berantakan, baserak itu berantakan”.
“Oalah, berantakan ya mak, paham Nuri sekarang” Nuri tersenyum kecil mencoba meredakan rasa canggung yang tengah dirinya rasakan “Oh iya mak, masih jauhkah lagi perjalanan kita?”.
“Lumayan Nuri, kakek dan nenek kamu inikan tinggalnya bukan di kota Padangnya tapi di Solok Nuri”
“Solok memangnya bukan Padang mak?”
“Solok itu bagian dari Sumbar, ibu kota Sumbar itu kota Padang”
“Terus kenapa ayah bilang Padang mak?”
“Orang-orang di luar Sumbar jarang ada yang tahu kota-kota di Sumbar Nuri, intinya kalau ke Sumbar pasti sebutnya Padang saja, entah Padang apa yang mereka sebutkan” Jelas mamak singkat “Ayah kau bilang, kau pulang kampung sekalian belajar sastra”
“Hehehe, iya mak, Nuri mau coba belajar sastra sekalian sama adat Minang mak”
“Rancak ma Nuri, bagus Nuri, jarang ada yang mau belajar sastra apalagi adat sekarang”
“Iya mak”
Rumah kayu bergaya panggung dengan tangga di depan halamannya mematahkan lamunan Nuri, dengan pohon mangga dikedua sisi dan beberapa bunga berwarna-warni terletak mengisi sisi-sisi rumah.
“Ondeh cucu den, ondeh Nuri rindu sangaik nenek jo kau” (Ya ampun cucuku, Ya ampun Nuri rindu sekali nenek dengan kamu).
“Artinya apa nek?”
“Ondeh, intinya rindu nenek sama kau, kau sudah makan? Makanlah dulu, habis itu tidur” Nenek berjalan mengiringi Nuri memasuki rumah.
Bukan kokokan ayam yang membangunkan Nuri dari tidurnya, melainkan ayam itu sendiri yang membangunkan Nuri, dengan masuk ke dalam kamar yang tidak dikunci, ayam itu beterbangan kesana-kemari hingga berjalan di atas badan Nuri. Raut muka Nuri sungguh tegang, terkejut dikarekan sapuan dari sayap ayam yang mengenai wajahnya, belum lagi ceker ayam yang sempat berdiri di atas pundaknya.
Pagi macam apa ini, Nuri mencoba mengusir ayam itu dibantu oleh sang nenek yang mendengar teriakan Nuri saat dibangunkan ayam itu di dalam kamarnya.
Sekeluarnya ayam dari rumah, mata Nuri kini tersadar di dalam rumah nenek dan kakeknya ini memiliki rak buku yang diisi penuh dengan berbagai judul buku dengan warna sampul yang berbeda-beda. Mulut Nuri tercengang melihat pemandangan itu, bagaikan sebuah perpustakaan, rumah itu hampir dipenuhi oleh buku-buku. Sebenarnya siapa kakek dan neneknya ini.
“Ini milik kakek dan nenek?”
“Iya nak, kakek kau yang lebih suka baca buku-buku ini, dan akhirnya nenek terikut kebiasaan dia ini”
“Buku apa ini nek?”
“Ini milik Buya Hamka, kau tau?”
Kepala Nuri menggeleng tidak tahu.
“Kalau A.A Navis kau tahu Nuri?”
Nuri kembali menggeleng.
“Marah Rusli”
“Itu pasti si Rusli yang marah, benarkan nek?”
“Ondeh Nuri, biar kau tau, nenek kasi kau tugas saja, malam ini kau nenek beri tugas untuk membaca cerpen dari A.A Navis yang judulnya Robohnya Surau Kami ini”
“Harus ini nek?”
“Tapi tujuan kau kesini untuk belajar sastra dan adat, dari sinilah kau mulai, besok malam kau jelaskan makna dari cerpen itu kepada kakek kau paham?”
Liburan seperti apa bila diberikan tugas yang tidak Nuri suka, membaca buku sastra, ini bagaikan mimpi buruk bagi Nuri. Lebih baik neneknya memberikannya tugas membaca buku-buku ilmiah dibanding ini. Dengan rasa berat hati Nuri membaca cepen itu di dalam kamarnya.
Walaupun cerpen itu pendek, berkali-kali Nuri mencoba membaca kembali isi cerpen tersebut, hingga akhirnya dirinya mulai terbenam di dalam isi cerita. Nuri bagaikan masuk dan menjadi karakter dari cerpen tersebut, rasa emosi, menyesal, takut dan lainnya bercampur di dada Nuri.
“Nuri, kau sudah siap membaca?”
“Sudah nek”
“Ceritakan kepada kakek kau, apa yang kau dapat dari cerpen itu”
“Cerpen ini ada kritik sosial dan kita diajak untuk paham dengan agama kek”
“Bagus, apa lagi?”
“Jadi kita sebagai manusia dituntut untuk seimbang dengan beribadah sama Allah dan juga dengan kehidupan sosial kek”
“Bagus, setidaknya kau mulai pahamkan, kenapa cerpen ini dibuat?”
“Sepertinya Nuri paham kek”
Kakek mulai berjalan ke arah rak buku, dan mengambil buku yang sangat dirinya sukai, mungkin telah 6 atau 7 kali kakeknya membaca ulang buku ini.
“Tenggelamnya kapal van der wijck?”
“Kakek sangat suka buku ini, sudah berkali-kali kakek baca, dan tidak kakek sangka ada masanya buku ini populer sekali hingga dibuat menjadi film, dan tetap menjadi buah bibir hingga kini”
“Tapi bukannya ini isinya romansa kek?”
“Memangnya kamu sudah baca hingga habis?”
“Belum sih kek, tapi dari yang orang-orang bilang ini kisah romansa”
“Nuri, kamu jangan hanya mendengar ucapan orang, namun kau juga harus mencari tahu sendiri nak”
Baiklah, buku yang kini lebih tebal dibanding kemarin menjadi tantangan bagi Nuri. Kakek memberikannya waktu 3 hari untuk memahami buku yang banyak ini, dengan kelonggaran Nuri bisa menonton filmnya juga untuk dapat lebih mudah memahami isi dari buku itu.
Dimulai dari kamar, meja makan, depan halaman rumah, hingga sawah yang berada di dekat rumah menemani Nuri menyelam bersama kapal van der wijck. Awalnya memang Nuri mengira bahwa ini hanya romansa saja. Namun pada akhirnya Nuri mulai tertarik saat, para mamak yang menentang rasa cinta yang Hayati dan Zainudin rasakan. Rumit, itu yang awalnya Nuri rasakan, kenapa rasa cinta sesusah itu, dan kenapa penolakan kepada Zainudin sebulat itu.
Nuri mencoba mendalami buku itu, setelah membaca, menonton, kini Nuri coba mencari di media maya terkait budaya Minang. Dan jujur dari buku ini Nuri dapat memahami Minang lebih banyak lagi. Satu kata yang kini menghiasi kepala Nuri setelah membaca kisah dari Hayati dan Zainudin, pemahaman.
Pemahaman ini yang membawa Nuri mengenal Hayati dan Zainudin, mengenal budaya Minang. Bagaimana peran mamak, bagaimana garis keturunan bekerja, hingga bagaimana agama dan adat dibungkus secara bersamaan.
Kini Nuri paham, sastra bukan sekedar romansa saja, namun di samping itu dihiasi berbagai pengetahuan kehidupan, terkait adat, agama, sosial, dan lainnya. Dan kini Nuri paham bagaimana sastra bekerja untuk memberikan pemahaman lewat cerita yang diberikan hiasan. Sastra memang butuh pemahaman dan rasa ingin tahu, namun dari hal tersebut kita mendapatkan ilmu baru, atau hal baru yang tidak pernah kita temui di kehidupan sekitar.
“Nuri, sudahkah kau membacanya?”
“Sudah kakek”
“Apa yang kau dapat dari cerita yang ditulis Buya Hamka ini?”
“Banyak kek, sungguh rumit untuk dijelaskan, tapi Nuri mulai paham mengenai budaya Minang setelah membaca buku ini kek”
Nuri terdiam sejenak.
“Kini Nuri paham kek, sastra itu juga pengetahuan”
***
ججق وكتو
نوري برجالن منوجو رواڠ تامو، ستله منداڤتكن ڤڠڬيلن داري سڠ ايه كيني ترليهت ممينوم سچڠكير كوڤي هيتم ڤانس د ڤاڬي هاري ماك جاڠن هارڤ ادا سماڠت ترڤنچر هيڠڬ مالم هاري. نامون، ڤرچياله نوري ڤاهم بهوا إتو هاڽاله داليه ايه اونتوق بيس ممينوم كوڤي دڠن كونديسي لامبوڠ يڠ سوده تق كوات إتو
























