gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastracom – Nagari Jaho adalah salah satu nagari yang terletak di Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Nagari ini memiliki luas sekitar 6,40 km² dan tengah dikembangkan sebagai kampung wisata religi yang mengintegrasikan ekowisata, olahraga rekreasi, serta nilai-nilai kearifan lokal. Membangun sebuah Pojok Baca di Nagari Jaho bukan sekadar tentang menyusun rak dan menaruh buku, melainkan tentang membangun masa depan dari sebuah keinginan sederhana. Di tengah pesona alam Jaho yang asri, keberadaan ruang baca dapat memberikan manfaat bagi anak-anak dan pemuda untuk melihat dunia yang lebih luas.

Semua ini bisa dimulai dari langkah-langkah kecil yang bermakna besar. Bayangkan jika setiap rumah di Nagari Jaho menyumbangkan satu saja buku yang sudah tidak terbaca, atau jika para pemilik warung merelakan sedikit ruang di teras mereka untuk dijadikan tempat singgah para pembaca. Kita ingin mengubah tempat duduk santai menjadi tempat duduk yang berilmu. Pojok Baca ini tidak akan menjadi benda mati, melainkan menjadi aset nagari yang dijaga dan dirawat bersama sebagai milik kolektif yang berharga. Lebih dari sekadar tempat membaca, Pojok Baca di Nagari Jaho bisa menjadi pusat kreativitas dan diskusi warga.

Dengan adanya partisipasi aktif, ruang ini akan menjadi jembatan yang menghubungkan kearifan lokal Minangkabau dengan pengetahuan modern yang bermanfaat untuk kemajuan literasi dan sosial masyarakat di Tanah Datar. Di era digital yang penuh dengan arus informasi cepat, kehadiran Pojok Baca juga menjadi peran penting bagi generasi muda untuk melatih daya kritis. Melalui buku, masyarakat diajak untuk kembali mendalami informasi secara utuh dan tidak. Sekarang ini sering kita temukan berita palsu atau hoaks, kehadiran Pojok Baca juga menjadi peran penting bagi generasi muda untuk melatih daya kritis. Melalui buku, masyarakat diajak untuk kembali mendalami informasi secara saksama, memverifikasi data, dan tidak mudah terombang-ambing oleh berita yang belum jelas kebenarannya. Ini adalah bentuk kedaulatan berpikir yang sangat dibutuhkan di masa depan.

Partisipasi orang tua juga memegang peranan krusial. Mengajak anak-anak berkunjung ke Pojok Baca secara rutin akan menumbuhkan kebiasaan positif yang jauh lebih bernilai daripada sekadar menghabiskan waktu di depan layar gawai tanpa arah. Di sinilah peran literasi keluarga dimulai. Ketika seorang ayah membacakan cerita untuk anaknya di pojok nagari, saat itulah benih-benih kecerdasan dan kedekatan emosional ditanam. Setiap dukungan yang diberikan hari ini baik itu berupa buku, tenaga, maupun pemikiran akan menjadi lentera ilmu bagi mereka yang haus akan pengetahuan. Mari kita jadikan keinginan ini sebagai sebuah gerakan bersama, sebuah gotong royong yang bertujuan mencerdaskan kehidupan nagari.

Mari kita buktikan bahwa dari sudut kampung yang tenang ini, kita bisa melahirkan perubahan besar yang dimulai dari selembar halaman buku dan semangat kebersamaan masyarakatnya. Jaho bukan hanya akan dikenal karena keelokan alam dan religiusitasnya, tetapi juga karena masyarakatnya yang berfikir kritis, dan berwawasan global. Lebih jauh lagi, kita memimpikan Pojok Baca ini nantinya menjadi pusat pemberdayaan ekonomi kreatif bagi pemuda Nagari Jaho. Dari membaca, akan lahir gagasan untuk menulis. Dari menulis, akan lahir kemampuan untuk bercerita mengenai potensi nagari kita ke dunia luar melalui media digital. Para pemuda yang terbiasa berdiskusi di Pojok Baca akan memiliki kepercayaan diri lebih baik lagi, pengusaha muda yang inovatif, atau penggerak sosial yang solutif bagi permasalahan di Tanah Datar.

Sebagai penutup, mari kita renungkan bahwa sebuah peradaban besar tidak pernah dibangun dalam semalam, melainkan disusun bata demi bata oleh tangan-tangan yang peduli. Pojok Baca di Nagari Jaho adalah satu bata penting dalam bangunan peradaban kita. Dukungan Anda, sekecil apa pun itu baik berupa sumbangan satu buah buku cerita, waktu untuk mengajar membaca, atau sekadar membagikan semangat ini kepada tetangga adalah investasi yang tidak akan pernah sia-sia. Mari kita wujudkan ruang di mana setiap lembar buku yang dibuka adalah harapan baru yang menyala, memastikan bahwa cahaya ilmu akan terus benderang menerangi langkah generasi kita menuju masa depan yang lebih cerah, cerdas, dan bermartabat.

***

مڠوكير ماس دڤن ليوت ڤوجوق باچ

نڬاري جاهو اداله ساله ساتو نڬاري يڠ ترلتق د كچماتن ١٠ كوتو، كابوڤاتن تانه داتر، سوماترا بارت. نڬاري إني مميليكي لواس سكيتر ٦،٤٠ كم دان تڠه ديكمبڠكن سباڬاي كمڤوڠ ويسات رليڬي يڠ مڠينتڬراسيكن اكوويسات، اوله راڬ، ركرياسي، سرت نيلاي-نيلاي كئريفن لوكل. ممباڠون ڤوجوق باچ د نڬاري جاهو بوكن سكادر تنتڠ مڽوسون رق دان مناروه بوكو، ملاينكن تنتڠ ممباڠون ماس دڤن داري سبواه كئيڠينن سدرهان. د تڠه ڤسون ام جاهو يڠ اسري، كبردائن رواڠ باچ داڤت ممبريكن منفائت باڬي انق-انق دان ڤمودا اونتوق مليهت دونيا يڠ لبيه لواس

RSSN2608-2019-1426-0425
Artikel sebelumnyaPuisi: Malam, Seharum-Harumnya Malam
Artikel berikutnyaPuisi: Makan Siang
Septa Elvi Maesyah
Septa Elvi Maesyah, Perempuan yang lahir di kota Padang Panjang, 3 Maret 2005. Mahasiswa prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Padang. Saat ini ia menjabat sebagai Kepala Bidang Minat dan Bakat HMD Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, FBS UNP. Tulisannya termuat dalam beberapa buku antologi bersama serta media cetak dan online. Pernah meraih berbagai kejuaraan penulisan khususnya penulisan puisi mulai dari tingkat daerah, provinsi dan nasional. Pada tahun 2024, ia menjadi delegasi yang mewakili UNP mengikuti cabang lomba penulisan puisi dan mendapatkan Juara 3 tingkat Sumatera Barat. Tulisannya seperti essay, opini, artikel, bedah puisi dan puisi sering dimuat di koran daerah. Ia juga diminta oleh koran daerah untuk mengisi rubrik prestasi yang berjudul “Mahir Cipta Puisi Berujung jadi Ladang Prestasi. Kabar prestasinya sering dikabarkan lewat akun Instagram resmi Universitas Negeri Padang dan Fakultas Bahasa dan Seni.”Sapa aku di Instagram @sptelvi_

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini