gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Era di mana layar ponsel menjadi jendela utama di dunia, realitas sering kali terdistorsi oleh filter dan sudut pengambilan foto yang sempurna. Di balik deretan postingan foto dengan outfit kekinian, latar kafe yang estetik, hingga handphone versi terbaru, tersimpan sebuah ketidaksesuaian yang kian nyata. Banyak anak muda yang terlihat mewah di dunia maya, akan tetapi  sebenarnya ia hanya mengejar tren yang membuat dirinya sendiri mengalami kesulitan. Fenomena ini bukan sekadar masalah gaya hidup, akan tetapi sebuah penyakit sosial yang dapat disebut sebagai “gengsi”. Gengsi telah berubah menjadi belenggu yang mengikat kebebasan finansial, kewarasan mental, hingga orisinalitas jati diri generasi muda.

Belenggu pertama yang paling terlihat ialah aspek finansial. Kita sedang hidup di masa di mana konsumerisme tidak lagi digerakkan oleh kebutuhan, melainkan oleh tekanan sosial. Hadirnya fitur seperti paylater dan pinjaman daring (pinjol) yang menawarkan akses dana instan seolah menjadi bensin bagi api gaya hidup yang mungkin sulit diatasi. Anak muda, yang seharusnya berada dalam fase pengumpulan aset dan investasi leher ke atas, justru terjebak dalam siklus “gali lubang tutup lubang” demi barang-barang yang sebenarnya kurang dibutuhkan dan nilainya menyusut dalam hitungan bulan.

Banyak dari mereka yang rela memaksakan diri membeli barang bermerek hanya demi sebuah pengakuan, karena mungkin jika tidak menggunakan barang yang bermerek terasa kurang baginya, terlebih jika yang digunakan adalah merek palsu. Pepatah lama berkata “besar pasak daripada tiang” kini telah berubah menjadi “besar gengsi daripada saldo”. Ironisnya, mereka sering kali membeli barang yang tidak bermanfaat, dengan uang yang belum benar-benar dimiliki, dengan tujuan untuk mengesankan orang-orang yang bahkan tidak benar-benar peduli. Tidak masalah jika ingin mengikuti tren akan tetapi jika tiap tren diikuti, maka sama saja kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi produktif demi validasi semu yang akan hilang dalam sekali refresh beranda.

Sketsa/ilustrasi apa yang cocok menggambarkan data di atas? buat dengan kata-kata, buatkan 5 pilihan

Lebih jauh lagi, gengsi menciptakan belenggu psikologis berupa krisis identitas yang akut. Di media sosial, harga diri seseorang seolah-olah berbanding lurus dengan merek yang melekat di tubuh ataupun destinasi liburan yang dikunjungi. Hal ini menimbulkan munculnya Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan akan tertinggalnya dari tren yang sedang viral. Tekanan untuk selalu “tampil keren” sesuai tren yang berkembang membuat banyak anak muda kehilangan orisinalitasnya. Mereka menjadi “fotokopi” dari para pemengaruh, takut untuk terlihat berbeda sekaligus khawatir jika tidak mampu mengikuti arus.

Kekhawatiran sosial ini secara perlahan mengikis rasa percaya diri yang murni. Ketika seseorang merasa berharga hanya karena apa yang ia gunakan, maka saat barang tersebut tidak lagi ada, ia akan merasa kurang dan tidak berarti. Hal inilah merupakan penjara mental yang diciptakan oleh gengsi, sebuah keadaan di mana kebahagiaan kita digantungkan pada jempol dan komentar orang asing di internet. Padahal, pengakuan sesungguhnya seharusnya lahir dari integritas, kecerdasan, dan kebermanfaatan diri bagi lingkungan sekitar, bukan dari label harga yang digunakan.

Selain itu, budaya gengsi ini juga menghambat produktivitas. Energi, waktu, dan pikiran yang seharusnya digunakan untuk mengasah keterampilan, menempuh pendidikan yang lebih tinggi, atau membangun bisnis yang berdampak, justru habis terkuras untuk memikirkan barang-barang yang kurang bermanfaat. Kita lebih sibuk memoles tampilan luar agar terlihat sukses daripada bekerja keras untuk benar-benar menjadi sukses. Kita sering kali lupa bahwa di balik layar yang berkilauan, kesuksesan yang abadi dibangun di atas fondasi kerja keras yang sering kali tidak terlihat estetik sama sekali.

Dampak jangka panjang dari belenggu gengsi ini yaitu lahirnya generasi yang rapuh secara ekonomi dan mental. Tanpa adanya kesadaran untuk memprioritaskan fungsi di atas gengsi, anak muda akan sulit mencapai kemandirian finansial. Tabungan masa tua, dana darurat, sering kali dikorbankan demi kepuasan  yang sifatnya hanya sementara. Seperti halnya dalam buku yang berjudul “Hidup itu Murah yang Mahal Gengsi Kita” karya Sabrina Ara mengatakan bahwa “Jika membedakan kebutuhan dan keinginan terasa sulit bagimu, maka akan jauh lebih sulit mengatasi akibat dari kesulitan tersebut” dan juga “Mengikuti gaya hidup tinggi demi menjaga gengsi, ibarat menyeret kaki ke dalam jurang kehancuran.” Arti dari kutipan kalimat tersebut yaitu jika kita tidak bisa memilah antara kebutuhan dan keinginan maka hal itulah akan menjebak diri kita sendiri dalam kesulitan, maka dari itu sebaiknya pentingkan kebutuhan dan tahanlah keinginanmu yang kurang bermanfaat.

Mematahkan belenggu gengsi bukan berarti kita harus anti terhadap teknologi atau hidup dalam kemiskinan yang ekstrem. Hal ini adalah tentang keberanian untuk mempunyai prinsip dan menentukan standar kebahagiaan kita sendiri. Kekuatan sesungguhnya seorang anak muda terletak pada kualitas pemikiran, kemandirian sikap, dan karya nyata yang dihasilkan. Kita perlu menyadari bahwa validasi paling penting bukanlah berasal dari layar ponsel, melainkan dari kedamaian batin saat kita tahu bahwa kita hidup sesuai dengan kemampuan dan nilai-nilai yang kita yakini.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi budak tren dan mulai menjadi tuan bagi diri sendiri. Lebih baik terlihat sederhana namun memiliki tabungan dan masa depan yang mapan, daripada terlihat mewah namun kenyataannya palsu dan dihantui oleh tagihan yang tak kunjung selesai. Jangan sampai kita menjadi generasi yang fasih dalam mengikuti perkembangan mode, namun gagap dalam merencanakan masa depan. Mari kita mementingkan nilai diri (value) di atas sekadar harga diri (prestige), karena pada akhirnya, gengsi adalah cicilan paling mahal yang harus dibayar oleh seorang manusia.

***

ڬڠسي يڠ ممبلڠڬو

ارا د مان لاير ڤونسل منجادي جندلا اوتام د دونيا، رياليتس سريڠ كالي ترديستورسي اوله فيلتر دان سودوت ڤڠمبيلن فوتو يڠ سمڤورن. د باليك درتن ڤوستيڠن فوتو دڠن اوتفيت ككينيان، لاتر كاف يڠ استتيك، هيڠڬ هنڤون ۋرسي تربارو، ترسيمڤن سبواه كتيدكسسوايئن يڠ كيان ڽات. باڽق انق مودا يڠ ترليهت ميوه د دونيا ماي، اكن تتاڤي سبنرڽ ايا هاڽ مڠجر ترن يڠ ممبوات ديريڽ سنديري مڠلامي كسوليتن. فنومن إني بوكن سكادر مساله ڬاي هيدوڤ، اكن تتاڤي سبواه ڤڽاكيت سوسيال يڠ داڤت ديسبوت سباڬاي “ڬغسي”. ڬڠسي تله بروبه منجادي بلڠڬو يڠ مڠيكت كبباسن فيننسيال، كوراسن منتل، هيڠڬ اوريسيناليتس جاتي ديري ڬنراسي مودا

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini