Riausastra.com – Angin sore di pinggiran Sungai Siak berhembus membawa aroma tanah basah. Di bawah jembatan Leighton yang kokoh, Aris duduk terdiam. Lelaki itu memiliki sepasang lesung pipi yang biasanya sanggup meluluhkan hati siapa saja yang memandang. Namun sore ini, lesung itu seolah terkubur oleh garis kesedihan yang dalam di wajahnya.
Di sampingnya, Hani menatap riak air yang keruh. Ia menggenggam jemari kecil Caca, putrinya yang baru berusia empat tahun.
“Ibumu tetap tidak setuju, Aris?” tanya Hani pelan. Suaranya pecah, seolah tertahan di tenggorokan.
Aris menoleh, mencoba memaksakan senyum. Lesung pipinya muncul sekilas, namun matanya berkaca-kaca. “Aku akan mencoba lagi, Han. Ibu hanya butuh waktu.”
“Waktu tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku lima tahun lebih tua darimu, Aris. Waktu tidak akan menghapus statusku sebagai janda. Dan waktu tidak akan pernah membuat Caca menjadi darah dagingmu di mata mereka.”
“Tapi aku mencintaimu! Apa itu tidak cukup?” suara Aris meninggi, putus asa.
“Cinta itu cukup untuk kita berdua, tapi tidak cukup untuk sebuah keluarga besarmu,” bisik Hani. Air mata pertamanya jatuh, membasahi pipinya yang pucat.
Malam itu, di sebuah rumah di kawasan Jalan Hang Tuah, Pekanbaru, suasana terasa seperti di medan perang, mencekam. Bau harum masakan asam pedas patin yang biasanya menggugah selera, kini terasa hambar. Aris berdiri di depan ibunya, sementara ayahnya hanya diam menyesap kopi pahit.
“Aris, sadarlah! Kau itu masih muda, masa depanmu panjang. Kau bisa mendapatkan gadis mana pun di dunia ini. Mengapa harus dia?” Bu Ratna menyadarkan Aris dengan nada gemetar.
“Karena hanya Hani yang mengerti aku, Bu. Hanya dia yang membuatku merasa utuh. Dia banyak membantuku hingga aku sukses seperti sekarang.”
“Utuh kau bilang? Kau mengurusi anak orang lain! Kau menanggung beban yang bukan milikmu. Dia itu janda, Aris! Apa kata saudara-saudara kita nanti? Apa kata orang di kantor ibu?”
“Apa hina menjadi janda, Bu? Dia tidak memilih takdir itu. Suaminya dulu melakukan KDRT, bukan karena Hani jahat!”
Bu Ratna berdiri, matanya nyalang. “Ibu tidak peduli! Selama matahari masih terbit dari timur, Ibu tidak akan pernah merestui kau menikah dengan perempuan itu. Jika kau tetap memilihnya, maka anggap Ibu sudah mati. Jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi!”
Aris luruh ke lantai. “Bu, tolong jangan begini…”
“Pilih, Aris. Ibu yang melahirkanmu, atau janda itu yang baru kau kenal dua tahun?”
Suasana hening menyergap. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar seperti vonis hukuman mati bagi Aris.
Keesokan harinya, Aris menemui Hani di kontrakan kecilnya di daerah Panam. Hani sedang menjemur pakaian, sementara Caca bermain boneka di teras. Melihat kedatangan Aris dengan mata sembab dan pakaian kusut, Hani sudah tahu jawabannya.
“Om Aris!” Caca berlari memeluk kaki Aris. “Om Aris bawa es krim?”
Aris berlutut, mengusap kepala Caca dengan sayang. “Besok ya, Sayang. Om Aris sedang capek.”
Hani mendekat, menarik napas panjang. “Masuklah, Aris. Aku buatkan teh.”
Di dalam ruangan sempit itu, Aris menggenggam tangan Hani. “Han, ayo kita pergi dari sini. Kita nikah siri dulu, atau kita ke Batam. Dua hari lagi aku pulang ke sana. Cutiku habis”
Hani melepaskan genggamannya perlahan. “Lalu bagaimana dengan Ibumu?”
“Dia akan memaafkan kita nanti, setelah kita punya anak.”
“Tidak, Aris. Ibu tidak akan pernah memaafkan jika dimulai dengan luka. Aku tahu rasanya kehilangan orang yang dicintai. Aku tidak mau kau kehilangan ibumu karena aku.”
“Tapi aku tidak bisa tanpamu, Hani!” Aris mulai terisak. Lelaki tegar itu hancur.
“Dengar, Aris,” Hani memegang kedua pipi Aris. Ia menatap lesung pipi yang kini tampak redup itu. “Kau adalah lelaki paling baik yang pernah kutemui. Kau mencintai Caca seperti anakmu sendiri. Tapi, cinta tidak boleh egois. Jika kita bersama di atas tangisan ibumu, kita tidak akan pernah bahagia.”
“Jadi kau menyerah?”
“Aku tidak menyerah. Aku hanya tahu kapan harus berhenti berjuang untuk hal yang mustahil. Ibumu benar, Aris. Kau butuh wanita yang sepadan, yang bisa memberinya cucu yang ia banggakan, bukan wanita sepertiku.”
“Jangan bicara begitu! Kau berharga bagiku!”
“Aris… lihat aku,” Hani menangis sesenggukan. “Setiap kali aku melihatmu, aku melihat masa depan. Tapi setiap kali aku melihat keluargamu, aku melihat duri. Aku tidak mau kau tertusuk duri itu selamanya.”
Satu bulan berlalu. Aris jatuh sakit. Meskipun ia bekerja seperti biasa di Batam, tetapi jiwanya hancur pelan-pelan. Ibunya, meski hatinya perih melihat keadaan anaknya setiap melakukan panggilan video call, tetap keras kepala. Baginya, ini adalah fase yang akan berlalu.
Suatu sore, sebuah pesan whatsapp masuk. Dari nomor tidak dikenal.
“Aris, saat kau membaca ini, aku dan Caca sudah berada di bus menuju Medan. Jangan cari kami. Pekanbaru terlalu sempit untuk cinta yang tidak diinginkan. Aku pergi bukan karena berhenti mencintaimu, tapi karena aku terlalu mencintaimu sehingga aku ingin kau tetap menjadi anak kesayangan ibumu. Hiduplah dengan baik. Tersenyumlah, agar lesung pipimu tetap ada, meski bukan untukku lagi. Selamat tinggal, Aris-ku.”
Aris menepuk dadanya yang mendadak terasa sangat sakit. Ia berlari keluar kamar. Menuju balkon kosnya di Batam. Ia tidak dapat berbuat apapun untuk mencegahnya. Sementara bus Pelangi yang ditumpangi Hani sudah berangkat dari Terminal Payung Sekaki Pekanbaru.
Aris berdiri di tepi balkon. Langit Batam berwarna jingga kemerahan, seperti luka yang menganga.
“Han!” bisiknya lirih.
Lima tahun kemudian.
Aris berdiri di depan cermin, merapikan setelan teluk belanga pengantinnya. Hari ini, ia akan menikahi perempuan yang ibunya suka—seorang gadis cantik, sarjana, dari keluarga bangsawan Melayu. Persis seperti yang diinginkan ibunya.
Bu Ratna masuk ke kamar dengan wajah berseri-seri. “Anak Ibu ganteng sekali. Akhirnya, Aris. Ibu tahu kau pasti bisa melaluinya.”
Aris hanya menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya datar. Ia harus melanjutkan hidup. Hani sudah terlebih dahulu menikah dengan lelaki lain. Ia juga harus menikah untuk menghapus kenangan bersama Hani.
“Aris, ayolah tersenyum. Ibu ingin melihat lesung pipimu. Calon isterimu pasti akan terpesona,” goda ibunya.
Aris mencoba menarik sudut bibirnya. Ia mencoba tersenyum sekuat tenaga.
Di tengah keramaian pesta pernikahan yang mewah di hotel berbintang di Pekanbaru, diiringi musik Melayu yang mendayu-dayu, Aris berdiri di pelaminan. Orang-orang menyalaminya, mengucapkan selamat.
Tiba-tiba, di antara kerumunan tamu, Aris melihat seorang anak kecil perempuan berbaju putih berdiri di kejauhan, menggandeng tangan seorang wanita berjilbab yang membelakanginya. Anak itu melambai ke arahnya. Anak itu… Caca.
Aris hendak melangkah turun, namun tangannya ditarik oleh pengantin wanitanya.
“Mas, mau ke mana? Acara fotonya belum selesai,” tanya istrinya lembut.
Aris menoleh kembali ke arah kerumunan, namun anak itu dan ibunya sudah hilang ditelan lautan manusia.
Malam itu, hujan turun sangat deras mengguyur kota Pekanbaru. Di kamar pengantin yang penuh bunga mawar, Aris duduk di tepi tempat tidur, menggenggam sebuah jepit rambut kecil milik Caca yang tertinggal di motornya bertahun-tahun lalu.
Ia menangis tanpa suara. Air matanya jatuh membasahi lantai marmer yang dingin.
Pekanbaru, 2017
***
للاكي برلسوڠ ڤيڤي إتو
اڠين سور د ڤيڠڬيرن سوڠاي سياق برهمبوس ممباوا اروم تانه باسه. د باوه جمباتن ليڬتون يڠ كوكوه، اريس دودوق ترديام. للاكي إتو مميليكي سڤاسڠ لسوڠ ڤيڤي يڠ بياساڽ سڠڬوڤ ملولوهكن هاتي سياڤ ساج يڠ ممندڠ. نامون سور إني، لسوڠ إتو سئوله تركوبور اوله ڬاريس كسديهن يڠ دالم د واجهڽ.
د سمڤيڠڽ، هاني مناتڤ رياق ائير يڠ كروه. إيا مڠڬڠڬم جماري كچيل چاچ، ڤوتريڽ يڠ بارو بروسيا امڤت تاهون.























