Riausastra.com – Aku memiliki tekstur yang aneh, melekat erat di dinding lambung seekor sapi. Sepanjang hewan ini hidup, tugasku tidak pernah berhenti. Bahkan saat sapi ini memejamkan mata dan tertidur lelap, aku tetap bekerja keras melumat dan menghaluskan sisa-sisa rumput yang telah ia santap. Akibatnya, serpihan-serpihan hijau yang hancur itu kerap menyusup ke sela-sela tubuhku. Lama-kelamaan, serpihan itu menumpuk, mengeras, dan mengubahku menjadi berkerak. Manusia kerap menyebutku dengan nama babat.
Suatu hari, segalanya berubah. Sebuah golok tajam menyayat leher sapi tempatku bernaung. Darah segar berhamburan, membasahi rerumputan hingga tergenang. Tidak butuh waktu lama hingga jantung benar-benar berhenti. Manusia-manusia itu kemudian memisahkan kepala dari badannya menggunakan besi tebal yang salah satu sisinya begitu runcing.
Setelah terlepas, kepala itu dimasukkan ke dalam plastik khusus. Ternyata, bahkan sebelum kepala itu dipenggal, sudah ada manusia yang memilikinya dan membutuhkannya. Menyaksikan itu, terselip rasa iri di hatiku.
Manusia-manusia itu kembali bekerja dengan alat tajam yang lebih ringkas bernama pisau. Dengan cekatan, mereka memisahkan kulit dari daging. Prosesnya terlihat begitu mudah, seperti merobek kertas. Kulit yang telah terkelupas bebas itu dimasukkan ke dalam plastik besar. Sayup-sayup kudengar manusia berkata bahwa kulit itu akan dibawa ke pembuat bedug karena kulit ternyata dapat mengeluarkan suara yang nyaring saat dipukul. Dan manusia membutuhkannya.
Aku terheran-heran. Padahal seingatku, saat di tubuh sapi, kulit selalu pasrah digigit nyamuk dan tidak bisa berbuat apa-apa. Aku merasa jauh lebih berguna daripada dia. Namun tak disangka, di mata manusia, kulit ternyata sangat berharga.
Ketika daging, tulang, usus, dan paru mulai dipotong dan dipilah ke dalam plastik, giliranku pun tiba. Karena aku berada di dalam lambung, aku dibawa ke tempat yang berbeda. Yakni sebuah aliran air yang mereka sebut sungai. Berbeda dengan daging yang dikerjakan beramai-ramai penuh suka cita, aku hanya diurus oleh satu orang. Manusia itu bekerja sambil mengerutkan wajah dan menahan hidungnya. Apakah aku sebau itu?
Saat diangkut dengan gerobak, aku melihat beberapa babat lain tidak dikeluarkan dari lambung. Mereka langsung dimasukkan ke dalam plastik hitam besar, lalu diletakkan di sebuah wadah yang megah—bahkan lebih besar dari plastik tempat kepala sapi tadi. Wadah itu memiliki tulisan “Tempat Sampah”. Aku kembali merasa iri. Kuharap aku bisa ikut ke sana, karena sepertinya itu tempat yang sangat istimewa di dunia manusia.
Di tepi sungai, lambung itu akhirnya dibelah. Manusia mengeluarkan seluruh rumput yang selama ini kulumat. Rumput-rumput itu hanyut terbawa arus sungai, entah ke mana. Akhirnya aku terbebas dari mereka. Ada rasa bahagia karena aku tidak perlu bekerja keras lagi, tetapi di sisi lain, ada secuil rasa rindu. Bagaimanapun, rumput-rumput itulah yang menemaniku sepanjang hari.
Aku mulai disayat, dibagi-bagi, dan dibersihkan. Manusia itu menggosok tubuhku keras-keras, mencoba merontokkan kerak tebal yang menempel. Setengah jam berlalu, dan usahanya sia-sia. Kerakku terlalu tegar untuk menyerah. Manusia itu akhirnya pasrah.
Aku diletakkan di atas hamparan daun pisang yang telah ditata rapi. Di sana, bagian-bagian sapi yang lain sudah dikemas dalam plastik-plastik kecil, siap dibawa pulang. Tubuhku kini telah terbagi menjadi sepuluh porsi. Namun, kesedihan kembali menyergapku. Manusia-manusia yang telah menunggu kami dari pagi menolakku. Hanya aku. Mereka pergi dengan senyum lebar sambil menjinjing daging, tulang, atau organ lainnya. Hanya aku yang tersisa. Hanya aku yang tidak diinginkan.
Satu jam berlalu. Semua plastik di atas meja telah habis. Kerumunan manusia telah membubarkan diri, pulang ke rumah masing-masing untuk mulai memasak. Sementara aku, masih tertinggal di atas daun pisang, sendirian.
Apakah aku tidak seenak daging? Apakah aku tidak seberguna kulit? Apakah aku memang tidak berharga? Aku sangat sedih dan merasa tak berguna. Tidak ada yang membutuhkanku.
Beberapa menit kemudian, di saat darah di atas rumput mulai mengering dan lalat mulai berdatangan, seorang manusia berjalan mendekat. Penampilannya berbeda, bicaranya pun menggunakan bahasa yang asing. Ia menunjukku. Ya, dia menginginkanku!
Manusia yang memotongku tadi dengan cepat memasukkan potongan-potonganku ke dalam plastik dan menyerahkannya. Aku pun berpindah tangan kepada orang asing ini.
Setibanya di rumah, perlakuan yang kuterima sungguh berbeda. Ia tidak membawaku ke sungai, melainkan merendamku ke dalam baskom berisi air panas. Empat puluh menit berlalu, air hangat itu perlahan berubah keruh karena kerak-kerak tebal yang selama ini mengikatku mulai melunak dan terlepas.
Dengan sabar, ia mengikis sisa kotoran di tubuhku menggunakan lempengan besi kecil. Ajaib, semua kerakku rontok tanpa sisa! Aku melihat diriku sendiri yang baru: putih, bersih, dan segar. Terakhir, ia menggosok seluruh permukaanku dengan potongan jeruk nipis, meluruhkan semua aroma tak sedap yang sebelumnya dibenci manusia.
Hari itu, aku dimasak dengan bumbu yang harum dan disajikan di atas meja makan. Aku melihat sekeluarga manusia duduk melingkar, dan mereka berebut untuk mengambilku.
Rasanya sungguh asing, sekaligus menghangatkan. Sepanjang hidupku, aku selalu merasa iri dan tidak diinginkan. Namun hari ini, di tempat ini, akhirnya aku tahu bagaimana rasanya ditunggu, dicintai, dan dibutuhkan. Aku sangat menyukainya.
***
سبوت اكو بابت
اكو مميليكي تكستور يڠ انه، ملكت إرت د دينديڠ لمبوڠ سئكور ساڤي. سڤنجڠ هيون إني هيدوڤ، توڬسكو تيدق ڤرنه برهنتي. بهكن سائت ساي إني ممجمكن مات دان ترتيدور للڤ، اكو تتڤ بكرج كرس ملومت دان مڠهالوسكن سيس-سيس رومڤوت يڠ تله إيا سنتڤ. اكيبتڽ، سرڤيهن-سرڤيهن هيجاو يڠ هنچور إتو كرڤ مڽوسوڤ ك سلا-سلا توبوهكو. لام-كلمائن، سرڤيهن إتو منومڤوق، مڠرس، دان مڠوبهكو منجادي بركرق. مانوسيا كرڤ مڽبوتكو دڠن نام بابت
























