Ini kisahku bersama anak lelaki-ku satu-satunya. Kisah yang akan kuceritakan padamu,- yang mungkin sewaktu-waktu dapat membuka mata hatimu. Juga mata hati orang-orang yang peduli akan kebenaran dan keadilan. Semoga!
Riausastra.com – DENGARLAH! Kisah ini akan kuawali tentang diriku.
Namaku Sakdiah, ya Siti Sakdiah lengkapnya. Di kampung ini orang-orang memandang serong terhadapku. Bahkan ada yang memanggilku dengan sebutan yang terdengar kurang pantas. Panggilan yang tidak baik itu bukan karena aku kasar, akan tetapi karena selama ini aku memilih hidup tanpa lelaki, setelah almarhum suamiku pergi dan hilang ditelan laut saat menangkap ikan tujuh tahun yang lalu.
Pendek kata, segala kebutuhan hidup di rumah, kupenuhi sendiri tanpa meminta sedikitpun belas kasihan dari warga dan orang-orang sekitar.
Alhamdulillah aku dikaruniai seorang anak, namanya Fakhrudin. Umur 16 tahun, kurus dan tinggi, tapi matanya tajam seperti almarhum bapaknya. Sejak kecil dia memang sangat pendiam. Bukan karena ia bodoh, cuma lelah dipanggil ‘anak tak berbapak’ oleh kawan-kawan sebayanya. Apalagi tiap kali jika ia berebut layangan putus bersama kawan-kawannya itu.
Dalam kisah ini, aku akan bercerita banyak tentang anakku. Cerita yang membuat sebagian orang mungkin merasa tidak patut untuk kuceritakan.
Sebagai anak tak berbapak, apalagi Fakhrudin hidup susah bersamaku, selalu saja ia dibuli dan dipersenda oleh kawan-kawannya. Pernah suatu ketika saat kaca balai desa pecah, anakku yang tak kena mengena dengan kejadian itu terseret-seret dalam fitnah yang dihembuskan secara keji. Malam itu Fakhrudin balek ke rumah dengan luka di pelipisnya.
“Siapa yang melakukan ini kepadamu, Din?” tanyaku sambil menekan kain yang sudah kubasahi dengan air hangat ke lukanya.
Dia diam. Tak sebarang katapun keluar dari mulutnya walau berkali-kali kudesak.
Besok harinya, Pak Sumitro — orang paling disegani karena sawahnya seluas lapangan bola — datang ke rumah. Di belakangnya ada tiga pemuda lainnya: anaknya sendiri, anak seorang pejabat setingkat kelurahan/desa, dan anak seorang juragan kapal yang turut mendampinginya.
“Menurut anakku dan kawan-kawannya bahwa anak kau-lah yang melempar batu sehingga membuat kaca jendela balai desa itu pecah, Sakdiah! Anak aku sendiri benjol kepalanya terkena batu lemparan anakmu itu. Kau harus ganti rugi Rp5 juta. Kalau tidak, biar polisi yang mengurusnya nanti!”
Fakhrudin menatapku. Aku tahu dia tidak melakukan hal itu.
Aku tahu bahwa anakku memang degil, tapi dia sekali-pun tak pernah berbohong padaku. Yang melempar batu dan memecahkan kaca jendela balai desa adalah anak-anak mereka sendiri. Ketika itu mereka sedang mabuk tuak, lalu menuduh Fakhrudin karena dia anak yang bisa diinjak-injak.
Atas desakan Pak Sumitro dan lainnya, terpaksa aku menjual gelang kawin, satu-satunya harta dari almarhum suamiku untuk membayar semua ganti rugi yang diminta. Sejak saat itu, setiap kali ada ayam hilang, sumur keruh, atau anak gadis yang hamil di kampung kami, selalu saja nama Fakhrudin yang pertama disebut-sebut.
***
Akhir-akhir ini Fakhrudin mulai menampakkan perubahan sikapnya. Dia selalu pulang larut malam. Bajunya bau oli dan terkadang berbau darah. Aku tahu dia kerap menghabiskan waktu nongkrong di sebuah bengkel tua, belajar mesin dari pemiliknya, dan bahkan belajar silat dari Wak Karim, pak tua yang berhati emas,- yang di masa mudanya dahulu dikenal sebagai seorang pendekar yang kuat dan susah untuk dikalahkan.
Suatu hari, kampung gempar. Anak Pak Sumitro ditemukan di parit, kakinya patah. Anak seorang pejabat kelurahan lebam sekujur tubuhnya. Sementara anak seorang juragan kapal, motornya hangus terbakar di tepi sawah.
Orang-orang kampung dan ayah ketiga anak tersebut menuduh Fakhrudin. Sementara tidak ada satu saksi-pun yang menerangkan bahwa itu semua perbuatan Fakhrudin. Yang ada, hanya sebatang obeng milik Fakhrudin di dekat motor yang terbakar itu.
“Aku mohon, Pak! Tak mungkin anakku Fakhrudin yang melakukan ini semua. Dia di rumah semalaman membantu saya menjahit.”
“Janda pembela anak setan. Kalian harus pergi dari sini sebelum kampung kami terkena tulah dan bencana!” Pak Sumitro meminta kami meninggalkan kampung ini. Beberapa warga yang lain juga terpancing emosi dan ikut-ikutan mengusir kami.
“Pergi saja dari sini, Sakdiah! Pergi!” ucap mereka sembari ada yang melempar rumahku dengan batu.
Malam itu, orang-orang kampung tersulut emosi. Mereka beramai-ramai memukul Fakhrudin, anakku tu tanpa ampun. Herannya, di tengah penyiksaan itu muncul sebuah pernyataan jika Fakhrudin tidak akan mereka adili di meja hukum, asalkan saja mau mengakui perbuatannya.
Dahsyat, mereka benar-benar memaksa anakku mengakui semua yang terjadi adalah perbuatannya.
Tak ada pilihan lain, dan dengan sangat terpaksa Fakhrudin akhirnya terpaksa mengalah.
“Hentikan…! Hentikan…! Akulah yang melakukan semua ini! Tapi sadarlah, semua yang kulakukan itu demi menjaga harga diri dan martabat ku sebagai manusia,” pekik Fakhrudin memecah kebuntuan suasana dengan nadanya terdengar membela.
Tapi dari sorot matanya aku tahu. Fakhrudin tidak melakukannya. Ia hanya terpaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya.
Aku maklum, kalau-pun benar ia yang mematahkan kaki anak Pak Sumitro, membuat sekujur badan anak seorang pejabat di kelurahan lebam, serta membuat sebuah motor anak juragan kapal terbakar, itu semua dilakukannya karena rasa kecewa atas situasi yang selama ini tidak pernah menguntungkannya.
Sungguh, mendengar pengakuan Fakhrudin secara tiba-tiba itu membuat dadaku sesak dan berurai air mata. Tak dapat lagi kubayangkan takdir apalagi setelah ini nantinya. Aku pasrah, merelakan semua yang bakal menimpa hidup kami berdua selanjutnya.
Di kerumunan orang-orang, ku peluk tubuh tak berdaya Fakhrudin dengan darah bersimbah di hidung dan kepala. Aku tahu, kalau-pun ia memilih untuk menjadi jahat, semua itu karena hidup tak pernah memberinya pilihan untuk menjadi benar. Ia melakukan kejahatan karena benar-benar terpaksa, demi harga diri dan marwah keluarga yang dibelanya selama ini.
***
Di tengah malam yang sunyi itu pula aku dan Fakhrudin meninggalkan kampung halaman. Kampung yang selama ini memberi kehidupan bagi hidup kami berdua. Tapi setelah ini, semuanya berubah. Tak lagi mesra dan damai seperti sediakala.
Dengan hati yang berat melangkah dan tanpa arah yang pasti, kulihat Fakhrudin mencoba untuk tegar, menerima dan menjalani setiap lembar takdir baru yang kini sedang bercerita.
Namun tiba-tiba langkah kaki kami benar-benar terhenti dari ujung kampung malam itu,- apabila dari kejauhan terlihat asap mulai membumbung. Rumah kami, ya satu-satunya rumah papan beratapkan daun rumbia yang kami punya, tampak dibakar oleh massa yang masih menyimpan amarah
Sungguh, mereka telah membakarnya. Mereka betul-betul tak menginginkan kami kembali lagi, membiarkan kami terusir dari kampong, dari tanah kami sendiri.
Bengkalis, Mei 2026
***
تروسير داري كمڤوڠ
إني كيسهكو برسام انق للاكيكو ساتو-ساتوڽ. كيسه يڠ اكن كوچريتاكن ڤدامو، يڠ موڠكين سوكتو-وكتو داڤت ممبوك مات هاتيمو. جوڬ متا هاتي اورڠ-اورڠ يڠ ڤدولي اكن كبنارن دان كئديلن. سموڬ!
دڠرله! كيسه إني اكن كوئوالي تنتڠ ديريكو
نماكو سكدياه، ي سيتي سكدياه لڠكڤڽ. د كمڤوڠ إني اورڠ-اورڠ ممندڠ سروڠ ترهادڤكو. بهكن ادا يڠ ممڠڬيلكو دڠن سبوتن يڠ تردڠر كورڠ ڤنتس. ڤڠڬيلن يڠ تيدق بايك إتو بوكن كارن اكو كاسر، اكن تتاڤي كارن سلام إني اكو مميليه هيدڤ تنڤ للاكي، ستله المرهوم سواميكو ڤرڬي دان هيلڠ ديتلن لاوت سائت منڠكڤ إكن توجوه تاهون يڠ لالو
























