gambar hanya ilustrasi. sumber: ai

Namaku Ranindia seorang gadis kecil yang suka sekali melihat senja diantara riak gelombang pantai dan suara deburan ombaknya yang selalu mampu aku nikmati. Tapi itu dulu, sekarang tidak ada alasan bagiku untuk menyukai senja. Karena senjalah ayah pergi, pergi meninggalkanku bersama Ibu sendiri di tengah dunia yang begitu melelahkan. Dan di sinilah ceritaku dimulai.

Umurku baru sekitar dua minggu menjelang genap tiga belas tahun. Tetapi, setahun sebelumnya aku sudah kehilangan ayah. Diabetes telah merenggut nyawanya setelah berjuang selama kurang lebih dua setengah tahun sehingga tubuhnya yang kekar menyusut menjadi amat kurus pada saat-saat terakhir. Sebelum Ayah pergi aku sudah sempat terlebih dahulu mengambil cuti sekolah yang lumayan lama. Dikarenakan aku menderita obsessive-compulsive disorder(ocd) yang membuatku melakukan kegiatan yang sama berulang kali agar tidak merasa cemas, maka dari itu aku disarankan untuk tetap di rumah selama masa pemulihan.

Ada sebuah ruas jalan di kotaku yang lekat di hati seperti sisa gulali yang melengket di sela-sela jari. Di ujung selatan pulau Sulawesi tepatnya di pesisir pantai Bira yang ruas jalannya dipenuhi villa-villa berarsitektur tropis nan indah, terdapat satu villa tua milik seorang pengusaha berada. Di villa itulah aku dan ibuku tinggal.

Dunia sebelum ayah pergi adalah keindahan yang begitu mengagumkan. Kasih sayang yang Ayah berikan kepadaku selalu menenggelamkanku dalam kebahagiaan. Ayah selalu bisa meluangkan waktunya untuk menemaniku menikmati senja sambil ditemani beberapa kepiting dan kalomang penghuni pesisir pantai. Sedangkan Ibu yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, kadang jarang berada di rumah. Itu juga yang membuat hubungan ku dengan Ibu tidak begitu akrab.

Tiga hari sebelum Ayah pergi. Pada sore itu, kumpulan awan jingga mengitari langit saling berkomplotan, di sertai angin pantai yang membuat rambut ikal ku berhembus ditiupnya. Ditemani oleh Ayah, kami berdua duduk di atas lembutnya pasir pantai menikmati indahnya cakrawala yang lambat laun mulai hilang di kaki langit.

“Senja sangat indah ya, Ayah?”

“Iya, sangat cantik,” ucap Ayah sambil tersenyum tipis.

“Cantik seperti Ranindia tidak?” tanyaku sambil menatap Ayah dengan mata yang berbinar.

Mendengar pertanyaanku Ayah seketika tertawa kecil dan menjawab.

“Tentu saja Ranindia lebih cantik, lagi pula Ayah tidak mau menyamakan Ranindia dengan senja”.

“Kenapa?”.

“Senja itu bisa kita lihat hanya sesaat, sedangkan Ayah mau melihat kecantikan gadis kecil Ayah sampai saat-saat terakhir Ayah nanti”

Mendengar jawaban Ayah seketika aku hanya bisa terdiam mencoba mencerna kata-kata yang barusan Ayah ucapkan. Bukan sekali-dua kali Ayah memuji ku dengan kata-kata manis seperti itu, tapi yang satu ini sedikit sulit aku pahami. Hari pun mulai gelap kami berdua pun memutuskan untuk kembali ke villa.

Sudah ada Ibu di meja makan, jarang sekali Ibu ikut makan malam bersama kami, ada apa? Tumben sekali Ibu duduk di belakang meja makan menghadap makanan yang sudah disiapkan oleh bik Ririn asisten rumah tangga di rumah ini dan menunggu kedatangan kami berdua.

“Sudah pulang?”, Tanya Ayah.

“Iya, aku sengaja pulang cepat hari ini”.

Aku sedikit terkejut mendengar jawaban Ibu. Pulang cepat? Tidak biasanya Ibu memprioritaskan keluarganya dibandingkan dengan pekerjaannya. Namun dengan cepat aku mengabaikan hal itu dan hanya fokus untuk menyantap makanan ku.

Hening, satu kata yang dapat menggambarkan suasana di meja makan sore itu. Tidak ada satu kata pun yang terlontar dari mulut kami bertiga. Pandangan kami pun hanya tertuju pada santapan masing-masing tanpa menghiraukan sekitar. Aku mengerti, memang pada situasi-situasi tertentu  kadang kita dipaksa untuk bungkam, bukan tidak ingin melebur, hanya saja obrolan terasa tidak sejalur. Namun malam ini terasa berbeda, aku tidak tau kenapa. Tidak biasanya Ayah diam seperti ini, apakah Ibu melakukan kesalahan?, atau malah aku yang salah?. Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui pikiran ku.

Setelah menghabiskan makan malam, aku langsung pergi ke kamar. Sebelum aku sempat menutup pintu, aku mendengar sedikit percakapan Ayah dan Ibu.

“Jujur, aku belum siap jika kamu harus pergi meninggalkan kami berdua”. Suara Ibu terdengar lirih.

Aku tidak mendengar sepatah kata pun terdengar dari Ayah. Pertanyaan-pertanyaan aneh kembali membayangi pikiranku. Ayah mau pergi kemana? Dan Ibu belum siap? Apa maksudnya?. Hari pun silih berganti, namun bayangan pikiran-pikiran aneh terus menggangguku. Aku pun mulai membuat spekulasiku sendiri. “Apakah Ayah dan Ibu akan berpisah”, kata-kata itu terus terlintas di angan-anganku.

Pada pagi harinya aku melangkahkan kaki menuju meja makan untuk sarapan. Sudah ada Ayah disana, sedangkan Ibu seperti biasa harus berangkat bekerja pagi-pagi sekali. Aku melihat Ayah yang menyambutku dengan senyuman sambil menyeruput secangkir teh tawar hangat. Senyuman yang sangat manis, tapi aku bisa mengatakan bahwa wajah Ayah hari ini lebih pucat dari biasanya. Walau begitu, aku tetap membalasnya dengan senyuman pula.

“Ayah sudah makan?”.

“Belum, Ayah menunggu anak cantik Ayah untuk makan bersama”.

Iya anak cantik, hanya Ayahlah yang selalu memanggilku dengan julukan itu. Pagi berganti siang dan siang berganti petang. Seperti malam yang tidak pernah berjanji bahwa esok pagi akan hadir dengan indah, siang pun juga tidak pernah berkata bahwa senja akan tampil dengan gagahnya. Sore itu hujan deras yang berarti aku tidak bisa melihat senja untuk hari itu. Aku hanya bisa menopangkan kepala ku pada pembatas balkon sambil memandang hujan yang turun semakin deras. Tiba-tiba Ayah datang sambil mengelus pelan rambutku.

“Jangan sedih hanya karena tidak bisa melihat senja, menurut Ayah, hujan juga cantik”.

“Iya, tapi tidak secantik senja Yah”.

“Besok Ayah janji akan temani anak cantik Ayah melihat senja lagi”.

Mendengar itu pun membuat rasa kecewa ku mulai hilang. Entah kenapa aku selalu suka untuk bercakap dengan Ayah. Percakapan-percakapan singkat yang membuat aku merasa bahwa aku tidak perlu khawatir dengan apapun. Aku selalu berpikir bahwa selama ada Ayah, aku bisa melakukan apapun, aku tidak takut dengan apapun, dan aku bisa kehilangan apapun kecuali Ayah.

Pada malam harinya ibu memberi tahu kami bahwa tidak akan pulang dengan alasan pekerjaan yang masih menumpuk. Sudah biasa Ibu tidak pulang dengan alasan yang seperti itu. Membuatku terbiasa melewati hari tanpa kehadirannya. Awalnya aku tidak terima, ada perasaan marah ketika Ibu jarang hadir di antara aku dan Ayah. Namun sejenak kuturunkan ego, kutundukkan kepala, dan mencoba menerima keadaan. Lagi pula Ibu juga harus menggantikan pekerjaan Ayah, karena tidak mungkin Ayah terus bekerja dalam keadaannya yang kian hari makin memburuk.

Udara tidak pernah berhenti untuk berputar, siang dan malam silih berganti menuntaskan tugasnya. Dan aku disini berharap hari ini tidak lagi turun hujan agar aku bisa menikmati indahnya senja dikala petang bersama Ayah. Langit sore begitu cantik kala itu. Bias jingga senja memancar ke seluruh langit, dan angin sepoi yang menabrak rambutku dengan lembut. Hanya ada aku dan Ayah di pantai waktu itu. Aku menikmati senja sembari berbincang dengan Ayah dan sesekali tertawa mendengar lelucon yang Ayah buat.

Sungguh bahagia suasana pada sore itu. Namun aku menyadari wajah Ayah terlihat lebih pucat.

“Ayah sakit? Pulang saja dulu, wajah Ayah pucat sekali”.

“Tidak apa-apa Ayah tinggal?”.

“Iya”.

“Maaf ya, harus Ayah tinggal”.

Aku mengira Ayah hanya kedinginan terkena angin pantai. Aku tidak pernah mengira bahwa dugaan ku itu salah besar. Selang beberapa saat setelah Ayah pulang, aku melihat bik Ririn berlari ke arahku dengan tergesa-gesa dan air mata berlinang di wajahnya.

“Non, bapak non”. Sambil terengah-engah bik Ririn mencoba berbicara kepadaku.

“Ayah kenapa bik? Coba bik Ririn tenang dulu”.

“Bapak sudah ga ada”.

Seketika angin yang berhembus terasa terhenti, dunia begitu terasa pengap. Apa aku tidak salah dengar, apakah aku sedang bermimpi? Atau ini hanya tipuan?. Aku pun langsung berlari menuju villa, meninggalkan sandal yang ku gunakan untuk alas duduk. Saat sampai di villa aku langsung menuju kamar Ayah. Betapa terkejutnya aku pada saat itu. Terdapat beberapa orang di ruangan itu. Namun pandanganku tertuju pada Ibu yang sudah duduk di lantai menangisi kepergian suaminya, dan Ayah yang sudah pucat terselimuti kain.

Aku dipeluk oleh bik Ririn yang saat itu juga menangis tersedu-sedu. Dadaku terasa sesak, ingin sekali aku menangis, namun ntah kenapa air mataku seakan-akan tertahan tak mau keluar. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kulihat saat itu. Sempat aku menyalahkan diriku sendiri. Andai Ayah tetap istirahat di rumah tadi, andai aku tidak mengajak Ayah untuk sekedar melihat matahari terbenam. Aku hanya bisa berandai. Tapi, apa gunanya? Toh Ayah juga tidak akan kembali, walaupun aku mengharapkan demikian.

Sudah beberapa hari setelah Ayah pergi, dan sedetikpun lautan beserta isinya tidak akan pernah berhenti untuk bergerak. Sementara aku disini masih tenggelam dalam duka cita, rasa hampa, dan senantiasa bergelut dengan segala hal yang telah tiada. Hari-hari tanpa Ayah begitu kosong. Semenjak Ayah pergi, aku mengurung diri didalam kamar. Tidak ada lagi menikmati senja sambil bersuka cita, hanya ada kesedihan dan kekosongan yang tersisa. Aku benar-benar tidak memiliki tenaga untuk melakukan apapun, bahkan hanya untuk makan saja aku sudah tidak selera.

Di sini, di tempat yang pernah Ayah suguhi kebahagiaan, kesedihan melumat perlahan hari-hari yang harus aku jalani. Ratusan pertanyaan yang dulu sering muncul dalam pikiran, sayang tidak akan pernah mendapat jawaban. Ayah pergi tanpa berpamitan, sungguh tiba-tiba dan tidak ada aba-aba.

Hari demi hari tidak lagi berarti tanpa adanya campur tangan dari Ayah untuk melengkapi. Sungguh, aku tidak pernah mengira akan jadi seperti ini akhirnya. Di saat aku sedang meratapi kepergian Ayah, tiba-tiba Ibu mengetuk pintu kamarku dan meminta izin untuk masuk.

“Ranindia, nak apa Ibu boleh masuk?”.

“Iya bu, masuk saja”.

   Ibu duduk di sampingku dan dengan lembut mengelus bahuku.

“Nak, Ibu tau kamu sangat sedih atas kepergian Ayah, tapi kamu juga harus memperhatikan diri kamu sendiri, makan dulu ya nak?”.

“Ranindia tidak ada selera untuk makan, Ibu makan saja duluan”.

Mendengar jawabanku, aku melihat ibu hanya bisa tertunduk lesu dan mulai berjalan keluar kamar. Saat sudah sampai pintu Ibu sempat menengok kearah ku dan berkata.

“Ibu tau kamu sedih, tapi Ibu yakin Ayahmu akan sangat kecewa melihat kamu yang seperti ini”.

Setelah mengatakan itu, Ibu pun keluar kamar meninggalkanku. Selepas mendengar apa yang dikatakan Ibu barusan aku merasa ada benarnya juga. Ayah tidak mungkin senang melihatku yang murung seperti ini. Memang, hari-hariku kian redup digelapkan oleh beberapa kenangan dari Ayah yang selalu terbayang. Namun aku tau, bukan ini yang Ayah harapkan. Pada awalnya aku menganggap Ayah telah buta dan begitu tega, tega menganggap segalanya sebagai lelucon belaka, permainan apa ini? Sama sekali tidak menghibur. Namun sekarang aku sudah disadarkan oleh waktu untuk tidak terlalu berlarut dalam kesedihan. Terima kasih Ayah karena sudah mengajarkanku segalanya termasuk arti dari kehilangan.

***

رانينديا دان سنج

نماكو رانينديا، سئورڠ ڬاديس كچيل يڠ سوك سكالي مليهت سنج د انتارا رياق ڬلومبڠ ڤنتاي دان سوارا دبورن اومبكڽ يڠ سلالو ممڤو اكو نيكماتي. تاڤي إتو دولو، سكارڠ تيدق ادا الاسن باڬيكو اونتوق مڽوكاي سنج. كارن سنجاله ايه ڤرڬي. ڤرڬي منيڠڬلكنكو برسام إبو سنديري د تڠه دونيا يڠ بڬيتو مللهلكن. دان د سينيله چريتاكو ديمولاي.

اوموركو بارو سكيتر دوا ميڠڬو منجلڠ ڬنڤ تيڬ بلس تاهون. تتاڤي، ستاهون سبلومڽ اكو سوده كهيلاڠن ايه. ديابتس تله مرڠڬوت ڽواڽ ستله برجواڠ سلام كورڠ لبيه دوا ستڠه تاهون سهيڠڬ توبوهڽ يڠ ككر مڽوسوت منجادي امت كوروس ڤادا سائت-سائت تراخير. سبلوم ايه ڤرڬي، اكو سوده مندريت اوبسسيۋ چومڤولسيۋ ديساوردر (چ.او.د) يڠ ممبواتكو ملاكوكن كڬياتن يڠ سام برولڠ كالي اڬر تيدق مراس چمس، ماك داري إتو اكو ديسارنكن اونتوق تتڤ د رومه سلام ماس ڤموليهن

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini