gambar hanya ilustrasi. sumber: ai

Riausastra.com – Siang itu, kelas berjalan seperti biasanya. Aku bersama temanku datang lebih awal menuju kelas. Matahari terasa begitu terik, membuat udara di dalam ruangan terasa panas. Begitu sampai, kami langsung memilih tempat duduk di bawah kipas angin. Rasanya, duduk tepat di bawah kipas adalah keputusan terbaik yang bisa kami ambil siang itu. Karena datang lebih awal, aku dan temanku masih memiliki banyak waktu sebelum perkuliahan dimulai. Seperti mahasiswa pada umumnya, kami pun sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang asik bermain ponsel, mengobrol dengan teman, makan, bahkan ada yang membaca buku. Suasana kelas masih santai dan dipenuhi suara percakapan.

Waktu terus berjalan. Satu per satu mahasiswa mulai berdatangan hingga kelas semakin ramai. Namun, tidak semua mahasiswa memilih berada di dalam ruangan. Beberapa masih berada di luar kelas, mencari udara dan angin sepoi-sepoi karena panas di dalam ruangan terasa cukup menyengat.

Sampai tiba-tiba, beberapa mahasiswa yang berada di luar berlarian masuk ke dalam kelas.

“Bapak datang!” Seketika suasana berubah.

Dosen yang akan mengajar kami hari itu bukanlah sosok yang asing. Beliau sudah pernah mengajar kami pada semester sebelumnya dan dikenal sebagai salah satu dosen yang cukup galak di kelas kami. Karena itu, kedatangan beliau selalu memiliki efek yang hampir sama yaitu mahasiswa yang tadinya santai mendadak panik.

Begitu beliau masuk, suara percakapan perlahan menghilang. Kelas yang beberapa detik sebelumnya berisik mendadak sunyi. Aku yang tadinya masih santai langsung duduk dengan posisi yang lebih rapi. Temanku pun demikian. Semua mata tertuju kepada dosen. Tidak ada yang berani banyak bicara.

Tanpa perkenalan panjang dan tanpa banyak basa-basi, dosen langsung memberikan sebuah perintah.

“Keluarkan satu lembar kertas.” Kami semua menurut. Aku mengambil selembar kertas dan merobeknya.Lalu datanglah kalimat yang sampai sekarang masih kuingat.

“Buat satu puisi dalam sepuluh menit.” Aku terdiam.

Sepuluh menit?

Aku melihat ke arah teman di sebelahku. Ia juga terlihat tercengang. Beberapa mahasiswa saling menatap, seolah-olah sedang memastikan apakah mereka mendengar perintah yang sama.

Membuat puisi dalam sepuluh menit? Rasanya mustahil.

Belum selesai dengan kepanikan karena dosen tiba-tiba datang, kami justru ditimpa kepanikan yang baru. Beberapa mahasiswa langsung mulai menulis. Ada yang menundukkan kepala dan tangannya bergerak cepat. Temanku bahkan sudah mulai menulis dengan keringat yang bercucuran di dahinya. Di sisi lain, ada yang hanya menghela napas panjang sambil menatap kertas kosong di hadapannya.

Aku? Aku panik bukan main. Apa yang harus kutulis?

Sebuah ide pun tidak terlintas di kepalaku. Rasanya kepalaku benar-benar kosong. Aku menatap kertas putih di hadapanku. Semakin lama kutatap, kertas itu justru terasa semakin menakutkan.

Waktu terus berjalan. Aku melihat teman di sebelahku yang sudah mulai memenuhi kertasnya.

“Apa yang kau tulis? Sudah terisi kertas kosongmu. Kulihat,” tanyaku. Ia menjawab santai, seolah pertanyaan itu tidak begitu penting. “Tulis apa saja yang terlintas di kepalaku.”

Aku terdiam. Tulis apa saja yang terlintas di kepala. Masalahnya, tidak ada apa pun yang terlintas di kepalaku. Aku kembali menatap kertas kosong. Suasana kelas juga mulai berubah. Suara percakapan hampir tidak terdengar lagi. Yang terdengar hanya suara coretan pena di atas kertas dan suara kipas angin yang terus berputar di atas kepala kami.

Kemudian suara dosen terdengar lagi.

“Waktu kalian tinggal beberapa menit.” Panik.Aku semakin panik karena belum menulis satu kata pun.

Aku mencoba mencari sesuatu di sekelilingku yang mungkin bisa menjadi ide. Pandanganku berkeliling, sampai akhirnya berhenti pada kipas angin tepat di atas kepalaku.

Kipas angin. Mungkin aku bisa menulis tentang kipas angin. Aku mencoba memikirkan kata-kata yang tepat. Namun semakin keras aku memikirkan kata-katanya, semakin jauh pula kata-kata itu pergi. Seolah-olah semua kata sengaja bersembunyi ketika aku sangat membutuhkannya. Aku kembali melihat kertas kosong. Tetap kosong.

Sementara itu, suara gesekan pena teman-temanku semakin terdengar jelas. Mereka terus menulis. Ada yang menulis cepat, ada yang sesekali berhenti untuk berpikir, kemudian kembali menulis.

Aku mulai semakin gelisah. “Puisinya panjang atau pendek?” tanyaku kepada teman di samping. “Punyaku panjang,” jawabnya cepat.  Aku mengangguk, meskipun sebenarnya jawaban itu tidak membuatku lebih tenang.

Kelas yang awalnya penuh dengan wajah santai kini berubah menjadi tempat perlombaan. Semua orang berlomba dengan waktu. Tidak ada lagi yang bermain ponsel, mengobrol, atau makan. Semua mata tertuju pada kertas masing-masing.

Dan aku masih berperang dengan pikiranku sendiri. Akhirnya aku berpikir, mungkin aku tidak perlu membuat puisi yang bagus. Yang penting selesai. Aku mulai menulis. Apa pun yang terlintas di kepalaku, kutuliskan. Tidak lagi terlalu memikirkan apakah kata-katanya indah, apakah puisinya bagus, atau apakah puisinya akan terdengar seperti puisi sungguhan. Tanganku mulai bergerak lebih cepat.

“Lima menit lagi.”

Aku terus menulis.

“Empat menit.”

Aku semakin cepat.

“Tiga menit.”

Kertas yang tadinya kosong perlahan mulai terisi.

“Dua menit.”

Tanganku hampir tidak berhenti.

“Satu menit.”

Aku menulis kalimat terakhir dengan terburu-buru. Bahkan aku sendiri tidak sempat membaca kembali apa yang sudah kutulis. Kemudian terdengar suara yang paling ditunggu sekaligus paling ditakuti.

“Waktu habis.”

Semua orang berhenti menulis. Aku menghela napas panjang. Akhirnya selesai.

Aku bangkit dari kursi dan bersama mahasiswa lainnya mengumpulkan puisi di depan meja dosen. Dalam pikiranku, setelah kertas itu dikumpulkan, semuanya akan selesai. Aku akan bisa bernapas lega dan kepanikan sepuluh menit tadi akan berakhir.

Ternyata aku salah.  Aku baru saja duduk kembali ketika dosen mengambil beberapa lembar puisi. Beliau mulai membacanya. Dengan suara keras.

Suasana kelas yang tadinya mulai tenang kembali berubah. Beberapa mahasiswa langsung panik. Ada yang tertawa gugup, ada yang saling melihat, dan ada yang terlihat pasrah karena tidak menyangka tulisannya akan dibacakan di depan seluruh kelas.

Aku pun kembali panik. Tadi aku panik karena tidak tahu harus menulis apa. Sekarang aku panik karena takut apa yang kutulis akan terdengar aneh ketika dibacakan. Aku hanya bisa duduk sambil berharap puisiku tidak ikut dibaca.

Di tengah suasana yang kembali ricuh itu, aku akhirnya menyadari satu hal. Ternyata sepuluh menit bisa terasa begitu lama ketika kita hanya menunggu waktu, tetapi bisa terasa seperti sepuluh detik ketika kita sedang berusaha mengejar waktu. Hari itu, aku tidak hanya mendapatkan sebuah tugas menulis puisi. Aku mendapatkan pengalaman tentang bagaimana sebuah kertas kosong bisa terasa begitu menakutkan, bagaimana sebuah kata bisa terasa sulit ditemukan ketika kita terlalu memaksanya, dan bagaimana kepanikan justru bisa membuat kita akhirnya mulai menulis.

Sepuluh menit.
Hanya sepuluh menit.
Namun, sepuluh menit itu terasa seperti sepuluh detik.

***

كتيك سڤولوه منيت تراس سڤرتي سڤولوه دتيك

سياڠ إتو، كلس برجالن سڤرتي بئاساڽ. اكو برسام تمنكو داتڠ لبيه اول منوجو كلس. متهاري تراس بڬيتو تريك، ممبوات اودارا د دالم رواڠن تراس ڤانس. بڬيتو سمڤاي، كامي لڠسوڠ مميليه تمڤت دودوق د باوه كيڤس اڠين، رساڽ، دودوق تڤت د باوه كيڤس اڠين اداله كڤوتوسن تربايك يڠ بيس كامي امبيل سياڠ إتو. كارن داتڠ لبيه اول، اكو دان تمنكو ماسيه مميليكي باڽق وكتو سبلوم ڤركولياهن ديمولاي. سڤرتي مهاسيسوا ڤادا اومومڽ، كامي ڤون سيبوق دڠن دونيا ماسيڠ-ماسيڠ. ادا يڠ اسيك برماين ڤونسل، مڠوبرول دڠن تمن، ماكن، بهكن ادا يڠ ممباچا بوكو. سواسان كلس ماسيه سنتاي دان ديڤنوهي سوارا ڤرچكاڤن

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini