Riausastra.com – Mama berdiri dengan wajah garang. Secepat kilat, tangannya meraih vas bunga di atas meja lalu menghempaskannya ke lantai. Papa yang baru saja duduk di sofa sepulang kantor, terkejut setengah mati.

Tampak sepihan kaca berserakan tak tentu arah. Vas bunga kesayangan mama itu pecah berkeping-keping…

“Kamu tega sama aku, Pa. Ternyata di belakangku, kamu selingkuh!” teriak mama histeris sambil melempar beberapa lembar foto ke atas meja, ke hadapan papa.  Dengan cepat, papa mengambil foto dan mengamatinya.

“Dari mana kamu dapat foto ini?” tanyanya selidik, seketika air wajahnya berubah. Sebuah foto keluarga, papa sedang memeluk mesra seorang perempuan muda dan seorang gadis kecil berusia tiga tahun di antara mereka.

“Firasatku selama ini benar. Perempuan itu ternyata istri mudamu. Benar kan?!” teriaknya lagi. Seketika tubuh mama ambruk ke lantai. Sendi-sendinya lemah tak bertenaga. Air mata mengalir deras dari pipinya yang tirus.

“Maafkan aku, Ma” kata Papa dengan wajah tertunduk. Selama ini ia sudah berusaha menutup rapat. Tapi hari ini, skandal kisah cintanya dengan Helena harus terbongkar. 

“Aku kurang apa lagi sih, Pa? Apa aku masih kurang sempurna?” isak mama. Ia memukul-mukul lipatan kakinya dengan keras.

Dari balik dinding, aku mendengar suara pertengkaran yang ke sekian kali itu dengan tangan gemetar. Sebagai seorang anak laki-laki umur 16 tahun, aku bisa apa? Aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Hari ini papa sudah mengaku dan terbukti selingkuh!

“Sebelum berangkat ke kantor, aku sudah masak, mencuci pakaian, mengepel. Pulang kantor mengurus rumah lagi. Aku menyiapkan semua kebutuhanmu dan anak-anak. Di matamu aku kurang sempurna bagaimana lagi?” jelas mama dengan nada tinggi. Emosinya meluap-luap. Berulang kali ia menyeka air mata yang tak berhenti bercucuran.

Papa hanya diam membisu. Ia tahu mama sudah berkorban segalanya demi keluarga. Tapi cintanya pada Helena..

“Aku minta cerai!” tiba-tiba mama berdiri tegak. Ia bangkit dan menghapus sisa air mata dengan lengan tangannya. “Seorang PNS nggak masalah kalau bercerai” katanya tegas.

“Ma, pikirkan lagi. Apa kamu tega anak-anak kehilangan papanya?” tanya papa pelan. Dengan wajah pucat, ia berusaha meyakinkan mama. Walaupun sebenarnya ragu. Apalagi dengan sifat istrinya yang tidak mudah goyah.

“Ha?? kamu kira aku mau dipoligami?! Jika kamu memikirkan anak-anak, kenapa selingkuh?” tanya mama dengan nada mengejek. Ia melipat kedua tangannya dengan geram lalu menghapus air mata yang mengalir lagi.

“Ma, sudahlah. Aku hanya ingin keluarga ini tetap utuh. Aku janji akan berbagi waktu.” bujuk Papa pelan mendekati mama.

“Aku capek!” teriak mama lalu berlari ke arah kamar dan membanting pintu. Di balik pintu, mama menangis sejadinya, tak kuasa lagi menahan emosi yang membuncah.

Melihat reaksi mama, papa tertunduk lemas. Berulang kali ia menghela napas panjang. Nasi sudah jadi bubur. Waktu tidak bisa diulang kembali ke awal. Ia sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tangga ini tapi Helena dan gadis kecil mereka juga membutuhkan kehadirannya.

Semenit kemudian, papa berdiri dengan wajah gusar, rahangnya tampak mengeras. Dengan sekuat tenaga ia meninju dinding. Lagi-lagi aku hanya bisa mengintip dari balik dinding dengan dada yang bergemuruh. Tidak bisa berbuat apa-apa… 

***

Sejak itu, suasana rumah berubah. Papa jadi jarang pulang ke rumah. Mama yang dahulu rajin merapikan rumah sekarang lebih suka menyendiri. Sering aku memergoki mama menangis sambil meracau.

“Farid, mama sudah melakukan semuanya untukmu dan untuk papa. Apa mama masih kurang sempurna?”

Kalimat itu pernah mama ucapkan suatu hari sambil menangis di depanku. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku hanya bisa memeluk tubuhnya yang semakin kurus. Di dalam hati, aku juga marah. Terlebih pada Helena, istri muda papa. Kenapa papa lebih memilih perempuan itu? Dan yang membuatku paling marah, aku tidak mampu memperbaiki apa pun..

Beberapa hari kemudian, perceraian itu benar-benar terjadi. Pertengkaran hebat itu terjadi untuk terakhir kalinya. Mama menangis dan meraung sejadinya di kamar. Papa keluar kamar dengan wajah merah padam sambil buru-buru menarik koper. Alangkah terkejutnya papa, menemukan aku dan adikku Farah, sudah berdiri di depan pintu kamar.

“Papa mau ke mana? Jangan pergi, Pa.” suaraku parau. Napasku terasa sesak. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan langkahnya.

“Papa… Papa nggak boleh pergi!” teriak Farah. Tangan kecilnya memeluk tangan papa. Air matanya mengalir deras.

Papa menghentikan langkah. Lalu berjongkok di hadapan kami berdua. Matanya bergantian menatapku dan memandangi wajah Farah.

“Papa nggak sayang Farah lagi?” isak Farah sambil memeluk leher papa. 

“Maafkan papa ya, Nak.” bisiknya, hampir tidak terdengar. Ia memeluk tubuhku dan Farah. Erat sekali. Aku bisa merasakan gemuruh di dadanya. Itu pertama kalinya aku melihat papa menangis terisak-isak.

Sebagai seorang anak laki-laki, biasanya aku paling gengsi menangis di depan semua orang. Apalagi di depan adikku, Farah. Tapi kali ini aku sudah tidak sanggup lagi membendung rasa sakit itu. Terlalu perih. Semuanya membuncah dan meledak. Aku menangis sejadinya dan tidak ingin melepas pelukan papa.

Papa melepaskan pelukan perlahan. Ia meletakkan tangan Farah ke telapak tanganku lalu menatapku dengan mata yang tidak aku pahami maknanya.

“Farid, tolong jaga mama dan adikmu. Sebagai anak tertua, papa titipkan amanah ini padamu.” kata papa sambil menyembunyikan matanya yang basah di balik lengan.

Aku hanya diam. Tak tahu harus jawab apa. Air mataku tanpa diundang terus mengalir, tidak bisa diajak kompromi kali ini. Gemuruh yang bergejolak di dada terasa sangat menyakitkan. Apa papa akan pergi meninggalkan kami semua?

Papa bangkit, melanjutkan langkahnya.

“Papa!..papa!..Jangan pergi, Pa! ” teriak Farah histeris. Ia mengejar langkah papa, tapi aku segera menahan tubuh dan memeluknya. Farah meronta. Tapi Papa tidak menoleh sedikit pun.

Terdengar suara pintu rumah ditutup perlahan.

Dadaku terasa nyeri sekali. Lagi-lagi aku marah pada diri sendiri dan tidak bisa berbuat apa pun! Aku benar-benar tidak berguna!

“Papa!!!!!…” tiba-tiba aku berteriak sekeras-kerasnya dan menoleh ke pintu.

“Ajarkan aku cara menggantikan posisimu, Pa!” teriakku lagi. Tangan dan kakiku gemetar. Otot dan sendi terasa lunglai. Aku tak mampu lagi menahan dan menyembunyikan air mata ini. Aku menangis histeris.

Aku berharap papa kembali membuka pintu dan masuk memeluk erat tubuhku dan Farah. Tapi tidak ada gerakan apapun dari pintu. Hanya suara tangis bercampur duka menyelimuti setiap ruang waktu.

Menit berganti menit. Hening…

“Bang, kenapa papa pergi?” tanya Farah sambil menghapus matanya yang sembab. Aku mendekatinya. Kubelai rambutnya.

“Papa pergi ke luar kota karena ada pekerjaan dari perusahaan.” jawabku asal sambil menyeka sisa-sisa air mata di ujung mataku dengan pangkal lengan.

“Terus kapan papa pulang?” tanyanya lagi.

Lama aku merenung.

“Entahlah.”jawabku pilu.

***

Hari terus berganti. Rumah jauh terasa lebih sepi. Biasanya ada omelan mama karena aku tidak menghabiskan sarapan yang sudah tersedia sebelum berangkat sekolah. Atau suara cempreng Farah yang terdengar memekakkan telinga kalau ada peralatan sekolahnya tertinggal di kamar. Dan mata papa yang panik melihatku dari kaca spion sambil memegang stir mobil. Sekarang terasa jauh berbeda. Seperti ada yang hilang. Jiwaku seakan menguar ke udara dan hilang bersama rinduku pada suasana itu.

“Daaarrr”teriak Farah sambil menepuk pundakku.

Spontan aku tersentak. Untung jantungku belum bergeser dan masih berdetak di posisinya.

“Faraaahhh…” teriakku geram. Untung suaraku belum sampai ke nada tertinggi dan memantul ke ujung langit.  Kuikuti gerak tubuh kecilnya yang berusaha bersembunyi di balik dinding kamarku.

“Nggak usah sembunyi, jahil.”kataku dengan mata membesar. Kuselipkan batas novel di antara kertas yang barusan kubaca. Hari libur sekolah biasanya aku suka menghibur diri dengan baca novel.

“Weekk” Farah menyembulkan kepala dan sengaja menjulurkan lidahnya ke arahku.

“Awas ya” kataku cengar-cengir. Aku tahu Farah hanya ingin bermain. Ia tak punya teman bermain di rumah, selain aku.

“Lagi melamun atau lagi pura-pura baca?”tanyanya cengegesan sambil tolak pinggang di pintu kamar.

“Masuk, Dek” kataku lembut sambil mengeluarkan tablet dari rak belajar. Kutekan tombol on lalu kucari file beberapa game. Dengan tersipu malu, ia duduk di sebelahku.

“Nggak usah senyum-senyum, jelek tau!” kataku sekenanya.

“Siapa yang jelek? Kata papa di rumah ini Farah yang paling cantik, tau!!”

Aku tersentak. Farah memanggil nama papa? Apa aku tak salah dengar?

            Lama Farah terdiam. Sadar akan kata-katanya barusan.

“Farah rindu papa.”ucapnya dengan mata berembun.

“Sudah sebulan Farah nggak ketemu papa.” suaranya bergetar.

Aku menarik napas dalam. Lidahku seperti terkunci. Jauh di lubuk hati terdalam, aku juga sangat rindu papa. Tapi, tidak bisa dipungkiri, pada sisi hati yang lain berucap aku juga sangat benci papa.

“Nanti kita telepon papa ya” kataku berusaha menghibur.

“Apa papa sudah lupa sama kita, bang?”Farah memandang wajahku lekat.

Aku hanya diam. Tak berani menduga.

Seketika mama muncul dan sudah berdiri di pintu kamarku. Rambutnya acak-acakan. Matanya sembab seperti habis menangis.

“Ya, papa sudah melupakan kita semua. Dia lebih memilih perempuan itu” katanya pelan. Kemudian duduk mendekatiku dan Farah.

“Kita harus terbiasa dengan semua ini.”sambungnya. Tangannya yang lembut merangkul pundakku dan Farah. Kulihat titik air mata masih menggenang di pelupuk matanya.

“Mama sudah keluar kamar, Ma?” tanyaku tak percaya. Antara sedih dan bahagia. Sejak papa meninggalkan rumah, mama selalu mengurung diri di dalam kamar. Bahkan ia mengambil cuti sakit, tidak pergi ke kantor.

“Tadi mama mau ambil minum ke dapur. Tak sengaja mama mendengar pembicaraan kalian.” Mama menghapus sisa-sisa air mata dengan ujung jarinya.

“Ma, jangan di kamar terus. Farah rindu sama mama yang dulu.” ucap Farah membenamkan wajahnya ke pelukan mama lalu menangis sejadinya.

“Maafkan mama ya, Nak. Mama sudah menelantarkan kalian berdua. Mama hanya butuh waktu untuk sendiri.”senyumnya getir. Kulihat guratan luka menyayat lebar di matanya.

“Anak-anakku, kalian berdua adalah penyemangat mama. Napas, jiwa dan raga mama. Tuhan memberikan kita ujian ini karena kita mampu menghadapinya. Sabar dan ikhlas. Kita tetap jalani keluarga ini tanpa papa. Mama akan berusaha sekuat tenaga untuk kebahagiaan kalian berdua. Kalian juga harus berjanji untuk selalu membahagiakan mama” kata mama sambil memelukku dan Farah.

Air mata itu mengalir lagi di pelupuk matanya. Dan aku tahu, air mata itu tidak akan pernah berhenti.

***

جاڠن ڤرڬي. ڤ!

مام برديري دڠن واجه ڬارڠ. سچڤت كيلت، تاڠنڽ مرايه بوڠا د اتس مج لالو مڠهمڤسكنڽ ك لنتاي. ڤاڤ بارو ساج دودوق د سوف سڤولڠ كنتور، تركجوت ستڠه ماتي

تمڤق سرڤيهن كاچ برسراكن تق تنتو اره. ۋس بوڠا كسياڠن مام إتو ڤچه بركڤيڠ-كڤيڠ

“كامو تڬ سام اكو، ڤ. تروات د بلاكڠكو، كامو سليڠكوه!” ترياق مام هيستريس سمبيل ملمڤر ببراڤ لمبر فوتو ك اتس مج، ك هداڤن ڤاڤ. دڠن چڤت، ڤاڤ مڠمبيل فوتو دان مڠماتيڽ

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini