sumber foto asli: pixabay

Menumbai

Hanya desir angin dingin terasa membangkitkan bulu kuduk
Saat bulan gelap di Pelalawan dalam musim dinanti pencari madu
Adakah manis madu yang disebut dalam kitab suci akan berpindah
Dalam wadah pemanjat madu saat tunam mulai dinyalakan
dan mantra-mantra telah mulai dirapalkan?

Menyingkirlah sejenak mambang penunggu pohon Sialang
Aku meminta izin padamu untuk menumbai mengambil madu
Melanjutkan tradisi yang telah dilakukan kakek moyangku berabad lalu
Berbagi murni madu dari lebah-lebah yang meninggalkan sarangnya
Untuk esok hari datang kembali membuat sarang baru.

Jika aku telah memanjat semangkat tali artinya nyaliku teruji
Karena keringatku telah menyatu dengan getah Sialang
Berilah manis madumu untuk sejenak melupakan kepahitan hidup
Sebelum tunam aku padamkan berganti dengan cahaya kunang-kunang
Dan mambang-mambang yang siap kembali menjaga wilayah hutannya.

2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Manusia Lini Masa
Artikel berikutnyaPuisi: Sirna?
Penyair kelahiran Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Mubeng Beteng (2020); Kirab (2021). Sajaknya tergabung dalam puluhan antologi bersama al. Kartini Menurut Saya (2021}; Jazirah Delapan (2021); Kebaya Bordir untuk Umayah (2021); Khatulistiwa (2021); Mata Air – Air Mata (2021); Manuskrip Bintoro (2021). Ikut menulis di buku Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan (ATL, 2021); Esai dan Kritik Sastra NTT (KKK, 2021); Mencecap Tanda Mendedah Makna (FIB UI, 2021); Sastra, Pariwisata, Lokalitas (HISKI Bali, 2021); Antologi Kritik Sastra dan Esai (KKK. 2021). Dia salah seorang deklarator Hari Puisi Indonesia (HPI) di Riau. Ponsel 082112507979

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here