sumber foto asli: pixabay

Manusia Lini Masa

Di sebuah kafe suasana remang
Perempuan paruh baya sedari tadi serius menatap layar gawai; sembari sesekali tengok kanan kiri

Dia tiba-tiba geram
Mata menatap tajam
Tangan kiri memukul meja
Jemari tangan kanan bergoyang terus menyusun aksara

Di pojok lainya ada tawa pecah
Berjingkrak girang tak karuan
Tiga wanita muda becakap dengan senang
Mata berbinar setelah berpaling dari layar
Kemenangan atas taruhan
menahan deru kentut mungkin, “gumamku.”

Duduk tersebar penuhi ruang kopi
Satu meja, satu kursi, jiwa-jiwa tanpa kata
Tertawa, meratap, bergumam, marah semua dilakukan sendiri-sendiri; apakah ini cerminan hidup mandiri?

Melihat mereka seperti aku sedang bermain ular tangga
Setiap ekspresi adalah mata dadu; sungguh tak tertebak

Apakah itu bahagia?
Ah, entah
Mungkin sudah lazim zamannya
Tua muda menjadi manusia lini masa.

Surabaya, 13 November 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Nenek Di Hari Kemenangan
Artikel berikutnyaPuisi: Menumbai
Laki-laki kelahiran Blitar 30 tahun silam , menulis sejak 2015. Sekarang Elje, tinggal di Kota Surabaya Jawa Timur. Kesibukannya sehari-hari sebagai karyawan di toko Elektronik tak menyurutkannya belajar dunia literasi khususnya menulis puisi. Setelah bukunya yang berjudul Sang Lelaki, Wanita & Musim Ketiga, ia sedang mempersiapkan buku puisi tunggalnya yang ke 2. Masih belajar menulis puisi di Asqa Imagination School (AIS) berbasis di group WA. Ia termasuk peserta yang lolos Karantina II Anugerah COMPETER 2022, sebuah ajang sastra yang pemenangnya akan diumumkan per 1 Januari 2022 mendatang. Tunak di Community Pena Terbang (COMPETER)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here