Riausastra.com – Malam itu hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti ketika Arya memasuki Laboratorium Neurokognitif di lantai tujuh sebuah gedung penelitian yang berdiri di antara bangunan-bangunan tua kota. Dari balik kaca koridor, ia melihat halaman yang basah dan lampu-lampu taman yang memantul di genangan air. Hujan selalu membuatnya berpikir tentang mimpi. Keduanya memiliki kesamaan yang sulit dijelaskan: datang tanpa diminta, memenuhi ruang kesadaran, lalu menghilang tanpa meninggalkan bentuk yang dapat digenggam. Namun, malam itu ia tidak sedang datang untuk memikirkan hujan atau mimpi. Ia datang untuk melakukan sesuatu yang selama bertahun-tahun dianggap mustahil, yaitu memasuki mimpi orang lain.
Di ruang eksperimen, Maya sudah terbaring di atas ranjang dengan sejumlah sensor menempel di kepalanya. Kabel-kabel tipis menghubungkan sensor itu dengan komputer yang berada di samping ranjang. Sebuah perangkat berbentuk lingkaran mengitari kepalanya, mengirim dan menerima sinyal dalam intensitas yang telah dihitung berkali-kali.
Para peneliti menyebut perangkat itu Dream Bridge. Nama tersebut terdengar seperti nama yang terlalu puitis untuk sebuah alat laboratorium, tetapi Arya justru menyukainya. Menurutnya, jembatan memang tidak pernah dibuat untuk menghilangkan jarak. Jembatan hanya membuat dua tempat yang terpisah memiliki kemungkinan untuk saling mendatangi.
Maya adalah sukarelawan penelitian yang telah dipantau selama beberapa bulan. Ia mempunyai kemampuan mengingat mimpi dengan sangat baik, terutama ketika bangun pada fase REM (Rapid Eye Movement). Dalam penelitian sebelumnya, para peneliti telah berhasil memberikan rangsangan suara tertentu ketika Maya tidur dan kemudian menemukan bahwa rangsangan tersebut dapat memengaruhi ingatan atau citra yang muncul dalam mimpinya.
Suara hujan, misalnya, sering membuat Maya memimpikan rumah masa kecilnya. Sebuah lagu lama dapat memunculkan wajah ibunya. Aroma tertentu bahkan pernah membuatnya bermimpi tentang halaman sekolah tempat ia belajar ketika kecil.
Penelitian itu kemudian berkembang. Jika otak dapat menerima rangsangan dari luar dan menggunakannya untuk membangun kembali pengalaman dalam mimpi, mungkinkah informasi dari otak orang lain juga dapat diteruskan dengan cara yang sama? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi jawabannya membawa mereka ke wilayah yang belum memiliki peta. Mereka tidak bermaksud memindahkan kesadaran seperti memindahkan sebuah benda. Mereka hanya ingin menciptakan saluran informasi antara dua otak ketika keduanya berada dalam keadaan tidur, terutama ketika mimpi sedang terbentuk.
Arya dipilih karena kemampuan lucid dreaming yang dimilikinya. Ia telah bertahun-tahun mempelajari keadaan ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Dalam lucid dream, seseorang tidak sepenuhnya terbangun, tetapi sebagian kesadarannya mampu mengenali bahwa dunia yang sedang dialaminya bukan dunia fisik.
Dengan latihan tertentu, Arya bahkan dapat mempertahankan kesadaran itu cukup lama untuk memberikan tanda kepada peneliti melalui gerakan mata ketika tubuhnya tetap berada dalam tidur. Bagi para peneliti, kemampuan tersebut membuat Arya menjadi calon ideal untuk menjadi penerima sekaligus pengirim informasi dalam eksperimen malam itu.
“Kalau kamu kehilangan orientasi, kita hentikan,” kata kepala penelitian dari balik kaca. Arya mengangguk. Ia kemudian berbaring di ruangan sebelah. Ketika perangkat dipasang di kepalanya, ia memejamkan mata dan mencoba mengosongkan pikirannya. Namun justru ketika berusaha tidak memikirkan apa pun, ia teringat pada satu percakapan dengan Maya beberapa minggu sebelumnya.
“Menurutmu mimpi itu milik siapa?” tanya Maya waktu itu. Arya tertawa. “Milik orang yang tidur, mungkin.” “Kalau begitu, bagaimana kalau dua orang bermimpi tentang tempat yang sama?” lanjut Maya. “Berarti salah satu dari mereka membawa tempat itu ke dalam mimpinya.” jawab Arya. Maya tidak menjawab. Ia hanya memandang Arya seolah pertanyaan itu belum selesai.
Malam ini, pertanyaan itu kembali kepadanya. Suara hujan mulai terdengar melalui earphone. Pada awalnya ia masih dapat membedakan hujan dari suara mesin. Beberapa saat kemudian keduanya melebur. Tubuhnya terasa semakin berat, tetapi pikirannya justru menjadi ringan. Ia merasakan sensasi seperti jatuh ke dalam air yang tidak dingin. Kemudian segala sesuatu menjadi gelap.
Ketika membuka mata, Arya berdiri di sebuah jalan. Hujan turun di sekelilingnya. Di kiri dan kanan jalan terbentang sawah yang luas, sementara di kejauhan sebuah rumah kayu berdiri di bawah pohon mangga. Arya segera menyadari bahwa ia tidak pernah berada di tempat itu, tetapi ia mengenalinya. Maya pernah menceritakan rumah tersebut. Rumah itu adalah rumah masa kecilnya.
Arya berjalan perlahan. Ia mendengar suara air mengalir di parit, suara daun yang disentuh hujan, dan bunyi sendok dari dalam rumah. Semuanya terasa begitu nyata sehingga untuk beberapa saat ia lupa bahwa dirinya sedang tidur di laboratorium.
Di teras, Maya duduk memandang hujan. “Akhirnya kamu datang,” katanya. Arya berhenti. “Kamu tahu aku akan datang?” Maya mengangguk. “Bukankah kamu yang ingin masuk?” Arya tidak segera menjawab. Ia melihat tangan Maya, rambutnya, pakaian yang dikenakannya. Semuanya tampak nyata, tetapi ada sesuatu yang berbeda. Maya dalam mimpi itu tidak sepenuhnya seperti Maya yang dikenalnya. Wajahnya tampak lebih muda, seperti ketika pertama kali Arya melihat fotonya semasa sekolah.
“Aku sedang bermimpi,” kata Arya.
“Kamu selalu tahu.” jawab Maya.
“Dan kamu?” tanya Arya.
Maya tersenyum. “Aku tidak yakin.”
Arya kemudian memahami sesuatu yang selama ini hanya menjadi teori di laboratorium. Dream Bridge tidak membuatnya menonton mimpi Maya seperti seseorang menonton film. Sistem itu tidak mengirim gambar dari otak Maya ke otaknya. Yang terjadi jauh lebih rumit. Otak Maya sedang membangun sebuah dunia dari ingatan, emosi, dan rangsangan yang diterimanya, sementara otak Arya mempertahankan kesadarannya dan menerima pola yang diterjemahkan oleh sistem. Dua kesadaran bertemu bukan dalam sebuah ruang yang sudah tersedia, melainkan menciptakan ruang baru melalui pertemuan itu.
Ia berjalan bersama Maya menuju rumah. Anehnya, semakin jauh mereka masuk, semakin banyak bagian dari tempat itu yang terasa asing bagi Maya sendiri. Di ruang tengah terdapat sebuah rak buku yang tidak pernah Maya ceritakan. Di atas meja ada foto seorang anak laki-laki yang tidak dikenalnya. Arya mengambil foto itu. Anak laki-laki tersebut adalah dirinya. Ia menatap Maya. “Ini bukan ingatanku.” kata Arya. Maya menggeleng,“Bukan milikku juga.”
Hujan di luar tiba-tiba berhenti. Rumah menjadi sangat sunyi. Dari kamar di belakang terdengar suara seorang lelaki sedang berbicara. Arya berjalan menuju suara itu, tetapi Maya memegang lengannya. “Jangan.” “Ada siapa?” Maya tidak menjawab. Arya membuka pintu.
Di dalam kamar terdapat seorang lelaki tua yang sedang duduk di samping ranjang. Di atas ranjang terbaring seorang anak laki-laki. Arya mendekat dan merasakan sesuatu yang menusuk kepalanya. Ia mengenali kamar itu. Ia mengenali anak itu. Anak tersebut adalah dirinya sendiri. Namun lelaki tua itu tidak dikenalnya.
“Ayah?” kata Arya tanpa sadar. Lelaki itu menoleh. Tatapan mereka bertemu. Seketika sebuah ingatan yang selama puluhan tahun tidak pernah dimiliki Arya masuk ke dalam pikirannya: rumah sakit, bau obat, suara hujan, tangan ibunya, dan percakapan antara dua orang dewasa yang terjadi ketika ia masih terlalu kecil untuk memahami apa pun. “Jangan biarkan dia mengingat percobaan itu,” kata lelaki tersebut.
Arya mundur. Percobaan? Ingatan itu semakin kuat. Ia melihat sebuah ruangan dengan perangkat seperti Dream Bridge, tetapi bentuknya jauh lebih sederhana. Ia melihat dirinya sendiri sebagai anak kecil, terbaring di atas ranjang, sementara seseorang memasang sensor di kepalanya. Kemudian semuanya pecah.
Arya kembali berada di teras bersama Maya. Hujan telah turun lagi. “Kita harus keluar,” kata Maya. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Arya. Maya menatapnya lama. “Mungkin kamu tidak pernah pertama kali masuk ke sini.” Di laboratorium, alarm berbunyi.
Para peneliti melihat sesuatu yang tidak pernah muncul dalam simulasi. Aktivitas otak Maya dan Arya memang menunjukkan sinkronisasi, tetapi di antara kedua pola itu muncul pola ketiga yang tidak berasal dari keduanya. Sistem mencoba membaca pola tersebut sebagai gangguan, tetapi bentuknya terlalu konsisten. Ia muncul berulang kali, mengikuti ritme tertentu, seolah-olah ada sumber lain yang sedang berusaha mempertahankan keberadaannya di dalam jaringan.
“Putuskan koneksi,” kata kepala penelitian. Tidak ada respons. “Sekarang!” tegasnya. Perangkat tidak dapat memutus hubungan. Di dalam mimpi, Arya melihat sebuah jembatan muncul di tengah sawah. Jembatan itu panjang dan sempit, membentang menuju kabut. Maya berdiri di sampingnya. “Itu jembatannya,” katanya. Arya menatap struktur itu, “Jembatan menuju mana?” Maya menggeleng. “Bukan menuju mana-mana.” “Lalu?” tanya Arya penasaran “Menuju siapa saja yang pernah bermimpi di sini.” jawab Maya.
Arya memandang kabut di ujung jembatan. Di sana tampak banyak bayangan bergerak. Ada anak-anak, orang tua, perempuan, laki-laki, wajah-wajah yang tidak dikenalnya. Semuanya berjalan menuju arah yang sama, tetapi tidak satu pun tampak benar-benar sadar bahwa mereka sedang dilihat.
Saat itulah Arya memahami kemungkinan yang paling mengerikan. Mereka selama ini mengira bahwa Dream Bridge menghubungkan dua otak, tetapi mungkin teknologi itu tidak menciptakan jembatan. Mungkin jembatan tersebut sudah ada sejak lama dan mereka hanya menemukan cara untuk membukanya.
Arya hendak melangkah, tetapi Maya menarik tangannya, “Jangan terlalu jauh.” “Kenapa?” tanya Arya. “Karena kalau kamu terus berjalan, mungkin nanti kamu tidak tahu lagi mimpi siapa yang sedang kamu jalani.” jawab Maya.
Arya memandang Maya, kemudian melihat kembali jembatan itu. Ia ingin bertanya siapa lelaki di kamar tadi, siapa yang membuat eksperimen bertahun-tahun lalu, dan mengapa pola ketiga muncul dalam sistem mereka. Namun sebelum pertanyaan itu sempat keluar, seluruh dunia di sekelilingnya runtuh seperti kabut yang disentuh matahari.
Arya membuka mata. Lampu laboratorium menyilaukan. Beberapa orang berdiri di sekelilingnya. Napasnya berat dan tubuhnya basah oleh keringat.
“Maya?” tanyanya.
“Sudah bangun,” jawab seorang peneliti.
Arya mencoba duduk. “Dia ingat?”
Peneliti itu diam sejenak., “Maya mengatakan dia tidak bermimpi tentangmu.”
Arya menatap monitor. Di sana terdapat tiga pola aktivitas otak. Yang pertama milik Maya. Yang kedua miliknya. Yang ketiga tidak memiliki identitas. Namun, sebelum ia sempat bertanya, layar berubah. Sebuah data lama muncul dari arsip sistem. Tanggal rekaman itu membuat Arya tidak mampu berkata-kata. Rekaman tersebut dibuat delapan belas tahun sebelumnya. Pada malam ketika Arya masih berusia tujuh tahun.
Di luar jendela, hujan kembali turun. Arya berdiri dan mendekati kaca. Dalam pantulannya, ia melihat dirinya sendiri. Namun beberapa detik kemudian, di belakang pantulan itu muncul seorang anak laki-laki yang memegang pesawat kertas.
Anak itu menatapnya. Arya tidak bergerak. Ia tahu anak itu. Ia adalah dirinya sendiri. Anak kecil itu mengangkat pesawat kertas dan tersenyum, seolah-olah baru saja menemukan jalan pulang dari tempat yang sangat jauh. Pada permukaan pesawat kertas itu terdapat sebuah tulisan yang perlahan menjadi jelas, “Kita masih dalam Dream Bridge.”
Bandung, 27 September 2026
***
اريا دان جمباتن ميمڤي
مالم إني هوجن تورون سجق سور دان بلوم منونجوككن تندا-تندا اكن برهنتي كتيك اريا مماسوكي لابوراتوريوم نوروكوڬنيتيف د لنتاي توجوه سبواه ڬدوڠ ڤنليتيان يڠ برديري د انتارا باڠونن-باڠونن توا كوت. داري باليك كاچ كوريدور، إيا مليهت هلامن يڠ باسه دان لمڤو-لمڤو تامن يڠ ممنتول د ڬناڠن ائير. هوجن سلالو داتڠ تنڤ ديمينت، ممنوهي رواڠ كسدارن، لالو مڠهيلڠ تنڤ منيڠڬلكن بنتوق يڠ داڤت ديڬڠڬم. نامون، مالم إتو إيا تيدق سدڠ داتڠ اونتوق مميكيركن هوجن اتاو ميمڤي. إيا داتڠ اونتوق ملاكوكن سسواتو يڠ سلام برتاهون-تاهون دياڠڬڤ موستاهيل، يايتو مماسوكي ميمڤي اورڠ لاين
























