Riausastra.com – Pagi itu bik Linot sudah bersiap-siap. Pakaian yang dikenakannya hari itu sangat berbeda dari biasanya. Pakaian itu jarang dikenakannya, hanya momen-momen tertentu saja baru dikeluarkannya. Rambutnya yang sudah terpecah menjadi dua warna itu disisirnya dengan rapi, sehingga terlihat jelas kekontrasan warna hitam dan putihnya. Sejurus kemudian ia meraih sebuah kerudung warna pink yang tergantung di tali rapiah warna hitam. Dalam hitungan detik kerudung “oncak” itu sudah menutupi rambut dwi warnanya. Setelah selesai dengan urusan kepalanya, bik Linot beralih ke bagian bawahnya. Sarung batik warna krim sudah membalut tubuh bagian belakangnya, menambah keanggunannya di usia senja. Ditambah kakinya dihiasi sandal jepit yang baru diberi tetangganya. Jika sudah berpenampilan seperti itu berarti hari itu adalah hari spesial bagi bik Linot. Tangannya memegang sebuah map merah yang berisi berkas dan data pribadinya.
*****
Suasana ruang pertemuan sudah sarat dengan orang. Beraneka penampilan orang datang untuk satu tujuan yang sama. Mulai dari yang sangat cantik dan ganteng sampai kepada yang sangat memprihatinkan tumpah ruah di ruang pertemuan itu. Banyaknya orang membuat suasana ruangan menjadi sumpek dan sangat panas. Kipas angin yang jumlahnya terbatas tidak bisa mengatasi rasa panas ruangan itu. Saking banyaknya yang datang membuat panitia menyingkirkan semua kursi yang biasa dipakai untuk acara-acara penting di ruangan itu. Panitia memutuskan untuk memakai cara lesehan saja. Di bagian depan ruangan itu sudah ada meja panjang dengan beberapa map warna biru muda nangkring di atasnya.
“Hei….Linot tapa kabar?”
Bik Linot yang juga hadir dalam ruangan itu menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
“Dilot?”
“Iya….Aku Dilot, kawanmu dulu waktu SD”
Bik Linot masih ingat dengan temannya itu. Mereka memang satu sekolahan waktu SD, namun nasib mereka sangat berbeda. Karena berasal dari keluarga berada, temannya itu bisa sekolah sampai perguruan tinggi sehingga mendapatkan gelar sarjana, sedangkan bik Linot jangankan kuliah di SD saja ia hanya sampai kelas 2. Beruntung bik Linot masih bisa membaca dan berhitung sehingga ia tidak “buyan” sekali. Karena temannya itu seorang sarjana, maka ia diterima bekerja di desa sebagai sekretaris desa. Bukan hanya dari segi pendidikan, dari segi penampilan pun keduanya sangat mencolok. Walau bik Linot memakai pakaian terbaiknya tetap saja kalah penampilan. Pakaian yang dipakai temannya itu sangat modis dan keluaran terbaru dengan merk terkenal. Bahkan walau mereka seumuran tapi temannya itu terlihat lebih muda dari bik Linot. Dari rambutnya saja sangat jauh berbeda dengan bik Linot. Rambut temannya itu masih satu warna, hitam berkilau.
“Aku ke depan dulu ya!”
Teman bik Linot, yang bernama asli Ardila Saraswati itu berpamitan menuju ke meja depan ruangan itu. Jalannya begitu estetik dengan sepatu hak tinggi yang dipakainya. Bunyi hentakan sepatu itu seakan menantang suara bising orang-orang yang sudah tidak sabar itu. Bau minyak wangi yang menempel di badannya menerpa hidung semua yang hadir, sehingga dalam beberapa detik semua dapat menikmati harumnya.
*****
“Bapak-bapak, ibu-ibu, harap tenang”
Demi mendengar suara dari pengeras suara, semua yang hadir mendadak menghentikan aktivitasnya dan menutup mulutnya masing-masing.
“Sebentar lagi acara akan kita mulai, Bapak Kepala Desa sedang menuju ke sini”
Suara yang berasal dari microfon itu kembali menyeru hadirin. Suara yang dihasilkan dari mulut teman bik Linot itu begitu merdu, seperti suara pembawa acara istana negara saat upacara hari kemerdekaan. Semua terdiam. Semua sudah tidak sabar menanti kehadiran orang nomor satu di desa itu.
“Bapak-bapak, ibu-ibu silakan duduk di tampatnya masing-masing”
Kali ini suara dari microfon itu memberkan perintah. Semua yang hadir akhirnya duduk satu persatu, tidak ketinggalan bik Linot. Bik Linot duduk di bagian belakang, karena tadi ia datang terlambat. Map yang dipegangnya sedari tadi sebagian sudah basah karena tangannya berkeringat. Sesekali map itu digunakannya untuk mengipasi mukanya yang juga sudah berkeringat. Bedak murahan yang dipakainya sudah mulai luntur, sebagian meleleh menyusuri pipinya. Wajahnya yang mulus saat berangkat tadi, sekarang sudah seperti kubangan kerbau. Lipstiknya juga sudah mulai hilang terkena air liur yang dilumatkan lidahnya. Maklum panitia tidak sempat memberikan air mineral kepada tamunya.
*****
Sang Kepala Desa sudah hadir dan duduk dengan ajeg di meja depan. Di sisi kanan dan kirinya pejabat desa mendampingi. Ada Kaur Pemerintahan, Kaur Kesra dan tentunya saja sang Sekretaris Desa, temannya bik Linot tadi. Acara pun dimulai dari pembukaan, kata sambutan dari kepala desa sampai kepada pembacaan doa. Dan kini tibalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh yang hadir.
“Baik! Bapak-bapak, ibu-ibu mohon perhatiannya, saya akan memanggil nama Bapak-bapak dan ibu-ibu satu persatu”
Kali ini temannya bik Linot itu berbicara dengan bahasa Indonesia yang fasih.
“Nanti kalau nama Bapak dan Ibu dipanggil, mohon segera maju ke meja untuk menandatangi berkas, dan jangan lupa bawa identitasnya juga”
Sang Sekdes melanjutkan arahannya.
“Mengerti”
“Mengertiiiiiiiiii”
Jawaban serentak dari semua yang hadir.
Satu persatu nama dipanggil maju ke depan lalu tanda tangan dan keluar dari ruangan dengan senyum merekah. Bagi yang sudah dipanggil dan sudah tanda tangan rasa bahagia menyelimuti mereka, karena mereka pulang membawa amplop yang berisi uang bantuan dari pemerintah. Mereka bahagia karena bisa membeli kebutuhan sehari-hari, membayar biaya anak sekolah dan bagi yang masih bersisa bisa ditabung untuk keperluan lainnya.
Sudah hampir satu jam acara masih berlangsung, karena baru separuh yang sudah dipanggil dan mendapatkan haknya. Namun panitia dari desa tetap sabar melayani mereka, walau sebenarnya mereka juga sudah lelah. Bagi yang belum dapat giliran dipanggil juag tampak sabar menanti giliran, mereka sesekali membolak-balikkan map yang dipegang. Mereka rela menunggu dengan kesabaran tingkat tinggi demi untuk mendapatkan bantuan lansung dari pemerintah itu. Walaupun mereka sebenarnya sudah ada pekerjaan namun penghasilannya belum memncukupi untuk kehidupan sehari-hari, oleh karena itu bantuan seperti ini sangat bermanfaat dan sangat diharapkan.
Kondisi ruangan itu sekarang sudah sepi. Semua yang hadir sudah mendapatkan dipanggil dan mendapatkan haknya. Rauangan yang tadinya terasa panas sekarang sudah mulai dingin, karena kipas angin yang dipasang di dinding sudah mulai mampu mengatasi udara panas. Di meja depan ruangan itu hanya tinggal para pejabat desa yang bersiap meninggalkan ruangan itu. Setelah dirasa selesai berkemas para pejabat tersebut mulai berdiri dan bersiap melangkah keluar ruangan. Tetapi baru saja mereka hendak menuju pintu keluar, tiba-tiba terdengar suara dari ujung ruangan.
“Maaf pak Kades, tunggu sebentar”
Terlihat bik Linot dengan tergesa-gesa menghampiri sang Kepala Desa dan jajarannya. Dengan langkah kaki yang terlihat lemas, muka penuh peluh, badan bau keringat bik Linot berusaha tetap kuat.
“Ada apa, Not”
Teman bik Linot segera menyambut dengan pertanyaan yang standar.
“Coba tolong dicek lagi di daftar penerima bantuan itu, apakah namaku benar-benar tidak ada, Lot!”
Dengan panggilan akrab mereka, bik Linot memanggil temannya sambil, masih berusaha memperjuangkan haknya.
“Lho….Kamu memangnya belum dipanggil ya?” ujar sang Sekdes.
“Belum, Lot”
Bik Linot masih tetap memanggil temannya dengan panggilan kebiasaan mereka. Sang
Sekdes tampak enjoy saja dipanggil seperti itu.
“Oke, kami cek lagi ya!”
“Siapa nama Ibu/” seorang petugas bertanya kepada bik Linot.
“Marlina, pak” Sahut bik Linot.
Mendengar kata-kata tersebut, asa bik Linot kembali lahir. Ia berharap namanya ada dalam daftar penerima bantuan itu. Ia berharap petugas hanya terlewat membaca namanya. Ia berharap akan mendapatkan kembali haknya, karena selama ini ia selalu mendapatkan jika bantuan di desa cair.
Dengan penuh rasa cemas, bik Linot menunggu petugas yang sedang meneliti satu persatu nama penerima bantuan pemerintah. Cukup lama petugas memperhatikan kertas dengan tulisan yang cukup kecil itu, maklum yang dicek ratusan orang. Lembar demi lembar sudah diperiksa petugas, namun belum juga tampak gesture yang membahagiakan terlihat oleh bik Linot. Bik Linot mulai cemas kembali, karena sudah sampai lembar terakhir daftar penerima bantuan itu namanya belum juga ditemukan. Dan akhirnya pemeriksaan petugas selesai, nama bik Linot pun tidak ditemukan.
“Mohon maaf Ibu, nama Ibu tidak ada dalam daftar ini”
Petugas bantuan yang juga Kaur Kesra itu memberitahukan dengan sopan kepada bik Linot.
“Kok bisa pak, selama ini nama saya selalu masuk dalam penerima bantuan?”
Bik Linot meminta kejelasan, juga bahasa yang cukup sopan.
“Saya kurang tahu juga Bu”
Petugas itu menyatakan ketidakberdayaannya terhadap kasus yang menimpa bik Linot.
“Coba lihat berkasmu, Not”
Teman bik Linot tiba-tiba menyela percakapan bik Linot dan sang petugas.
“Takutnya kamu sudah masuk desil 6, Not”
“Apa itu desil 6, Lot?”
Bik Linot meminta penjelasan tentang desil 6 yang diucapkan temannya itu. Maklum baru sekarang ia mendengar kata-kata itu. Pikirnya makhluk apalagi itu.
“Desil 6 itu adalah pengelompokan ekonomi seseorang, jadi sekarang pemerintah mengelompokan masyarakat kepada beberapa desil” Teman bik Linot mulai menjelaskan.
“Masyarakat di kelompokkan kepada 10 desil. Desil 1-5 termasuk yang sedang-sedang, dan desil 6-10 termasuk orang yang berada dan kaya”
Teman bik Linot mulai menjelaskan panjang lebar
Bik Linot bertambah pusing, ia yang hanya orang biasa itu bertambah bingung dengan ide dan kebijakan pemerintah tersebut.
“Bagi yang masuk desil 1-5 tetap mendapatkan bantuan pemerintah, sedangkan yang masuk desil 6-10 bantuannya akan dihapus” teman bik Linot melanjutkan penjelasannya.
“Desil itu ditentukan oleh pendapatan ekonomi warganya” teman bik Linot menutup penjelasannya.
“Nah….sekarang kita cek dulu datamu, Not”
Teman bik Linot melanjutkan omongannya sambil meminta map yang sedari dipegang oleh bik Linot.
Sambil membuka berkas bik Linot, temannya itu membuka androidnya. Dengan lincah tangannya menggerakkan kursor di layar telepon pintarnya itu. Bik Linot menunggu dengan perasaan masygul. Setelah beberapa detik dilakukan pengecekan, teman bik Linot itu menghela napas panjang. Melihat gesture temannya itu bik Linot bertambah cemas.
“Ternyata kamu masuk ke desil 6, Not”
“Karena itulah namamu tidak ada lagi dalam daftar bantuan itu”
Penjelasan teman itu seolah sebuah petir di siang hari yang tepat menyambar seluruh tubuh bik Linot. Tubuh bik Linot terasa panas membara. Keringat yang tadi membasahi muka dan tubunya sekarang bertambah deras mengucur, sehingga membuat bajunya basah. Dengan perasaan tidak percaya bik Linot mendekatkan pandangannya ke ponsel pintar temannya itu. Dan semua yang dikatakan temannya itu ternyata memang benar.
“Jadi, aku harus bagaimana sekarang, Lot?” tanya bik Linot dengan tubuh yang masih lemas.
“Kamu masih bisa mengajukan perubahan data ke kantor Dinas Sosial” saran temannya.
“Tapi…masih butuh waktu minimal tiga bulan baru berubah datanya, itupun tidak ada jaminan datamu bisa berubah”
“Jika dianggap data baru yang kamu ajukan tidak lengkap, maka datamu tetap seperti semula”
Ucapan temannya sekali ini menambah lemas tubuh bik Linot. Bisa diurus tapi memerlukan waktu minimal tiga bulan, kata-kata itu yang membuat bik Linot bertambah lunglai, menunggu tiga bulan baru dapat bantuan? Pertanyaan itu terbersit dalam hati bik Linot, sedangkan ia membutuhkan bantuan itu sekarang.
“Jadi, jika tidak ku urus perubahan data ini, aku tidak akan mendapatkan bantuan selamanya” tanya bik Linot.
“Betul, Not”
Dan itu jawaban terakhir yang didengar oleh bik Linot, karena setelah itu bik Linot merasa kepalanya bertambah pusing, penglihatannya menjadi gelap, badannya semakin lemas. Dan dalam hitungan detik badannya jatuh ke lantai.
Temannya dan beberapa petugas bantuan desa bergegas menuju bik Linot yang sudah tidak sadarkan diri.
*****
Keterangan: Oncak = Andalan, Buyan = Bodoh
***
بيك لينوت
ڤاڬي إتو بيك لينوت سوده برسياڤ-سياڤ. ڤاكايان يڠ ديكناكنڽ هاري إتو ساڠت بربدا داري بياساڽ. ڤاكايان إني جارڠ ديكناكنڽ، هاڽ مومن-مومن ترتنتو ساج بارو ديكلواركنڽ. رمبوتڽ يڠ سوده ترڤچه منجادي دوا ورن إتو ديسيسيرڽ دڠن راڤي، سهيڠڬ ترليهت جلس ككونتراسن ورن هيتم دان ڤوتيهڽ. سجوروس كموديان إيا مرايه سبواه كرودوڠ ورن ڤيڠ يڠ ترڬنتوڠ د تالي راڤيا ورن هيتم. دالم هيتوڠن دتيك كرودوڠ “اونچق” إتو سوده منوتوڤي رمبوت دوي ورناڽ. ستله سلساي دڠن اوروسن كڤلاڽ، بيك لينوت براليه ك باڬيان واجهڽ. ساروڠ باتيك ورن كريم سوده ممبالوت توبوه باڬيان بلاكڠڽ، منمبه كئڠڬوننڽ د اوسيا سنج. ديتمبه كاكيڽ ديهياسي سندل جڤيت يڠ بارو ديبري تتڠڬاڽ. جيك سوده برڤنمڤيلن سڤرتي إتو بررتي هاري إتو اداله هاري سڤسيال باڬي بيك لينوت. تاڠنڽ ممڬڠ سبواه مڤ يڠ بريسي بركس دان دات ڤريباديڽ























