gambar hanya ilustrasi. sumber: ai

Riausastra.com – Bu Desi menyuruhku mengembalikan setumpuk buku paket Bahasa Indonesia ke perpustakaan. Tumpukan itu lumayan tebal, dan rak buku rasanya lebih tinggi daripada harga cabai.

Perpustakaan sedang penuh. Murid dari berbagai kelas belajar di sana. Rak sepatu di depan pintu pun sesak oleh sepatu kanvas putih-hitam yang bentuknya persis seperti punyaku. Sekolahku memang mewajibkan model sepatu yang sama. Kalau dilepas semua, rasanya seperti melihat pasukan sepatu sedang apel pagi.

Hampir tiga puluh menit aku menyusun buku sampai murid-murid yang belajar mulai kembali ke kelas karena pergantian jam.

Saat keluar, aku langsung menuju rak sepatu.

“…Lho?”

Sepatu kiriku hilang.

Aku mengucek mata. Jangan-jangan tadi aku memang masuk perpustakaan cuma pakai sebelah? Mustahil. Aku masih waras.

Kuaduk rak itu seperti sedang mencari harta karun. Hasilnya nihil. Yang tersisa hanya sepatu kananku. Tidak ada sepatu lain yang tertukar. Hanya sepatuku yang seperti memutuskan kabur dari hubungan ini.

Dengan wajah kusut, aku berjalan kembali ke kelas memakai satu sepatu dan satu kaus kaki putih. Yang kupikirkan bukan rasa malu, melainkan suara ibu nanti.

“Kaos kaki baru dipakai sehari kok udah hitam?”

Benar-benar ancaman nasional.

Begitu masuk kelas, Nomi langsung tertawa sampai hampir keselek ludah.

“Sepatu mu mana?”

“Entah. Mungkin lagi mencari jati diri.”

Ega yang melihatku malah kasihan. Ia melepas sandal jepit yang biasa dipakai untuk salat.

“Nih. Pakai ini saja dulu.”

Aku menatap sandal itu beberapa detik.

“Ternyata persahabatan memang diuji dari sandal.”

Malamnya, Ayah dan Ibu membelikanku sepatu baru. Bahkan Ibu menuliskan namaku besar-besar di bagian dalam.

“Kalau masih ketuker juga,” katanya, “berarti yang nuker butuh kacamata.”

Seminggu kemudian, guru-guru sedang rapat. Sekolah mendadak berubah seperti pasar bebas. Aku, Nomi, dan Ega memilih duduk di tribun lapangan basket karena cuma di sana anginnya masih ingat tugasnya.

Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba…

Buk!

Kepalaku dihantam sesuatu.

“Aduh!”

Aku menoleh sambil mengusap kepala. Di tanah tergeletak… sebuah sepatu.

Sebelah kiri.

Aku memungutnya sambil masih menggerutu. Lalu mataku membulat.

“Lho… ini…”

Di sisi dalam ada gambar bintang kecil yang dulu kugambar sendiri memakai spidol.

Ini sepatuku yang hilang.

Aku langsung mendatangi segerombolan anak laki-laki yang duduk tidak jauh.

“Sepatu siapa ini?” tanyaku sambil mengangkat barang bukti.

“Itu punya Dido,” jawab salah satu dari mereka santai.

“Mana orangnya?”

Seorang cowok berkacamata maju pelan.

“tu… punya aku.”

Aku menyodorkan sepatu itu ke wajahnya.

“Yakin?”

“ya… emangnya kenapa?”

“Karena ini sepatu ku.”

Cowok itu langsung berkedip cepat seperti komputer yang baru nge-lag.

“Hah?”

“Lihat nih. Ada tanda bintangnya.”

Ia membalik sepatu itu. Wajahnya langsung pucat.

“A-aku… enggak tahu.”

“Lo kemarin ke perpustakaan, kan?”

“Iya.”

“Nah. Lo salah ambil.”

Cowok itu menggeleng buru-buru.

“Bukan… waktu itu sepatu aku disembunyiin.”

“Disembunyiin siapa?”

Belum sempat ia menjawab, teman-temannya langsung saling tunjuk.

“itu tuh.”

“Ada di kelas.”

“Yang duduk paling belakang”

Aku langsung melangkah ke kelas yang dimaksud.

Di bangku pojok belakang duduk seorang cowok dengan seragam berantakan, rambut acak-acakan, dan wajah yang entah kenapa cocok jadi ketua geng kalau sedang main film.

Aku menyodorkan sepatu itu.

“Kamu yang nyembunyiin sepatu ini?”

Cowok itu mendongak santai.

“Iya.”

“Tau nggak ini punya siapa?”

“Enggak.”

“Punya ku.”

“Oh.”

“Oh?”

“Iya… maaf.”

Sesantai itu.

Aku sampai kehilangan bahan buat marah.

“Ck. Dasar preman.”

Aku pergi sambil membawa pulang sepatu kiriku yang akhirnya kembali ke pemilik sahnya.

Kupikir kisah itu selesai.

Ternyata tidak.

Seminggu kemudian aku jogging pagi di kompleks. Saking semangatnya hidup sehat, aku lupa ada seekor anjing tetangga yang terkenal hobi mengejar orang.

Hari itu kebetulan dia sedang dilepas.

Begitu melihatku, ia langsung berlari.

Aku ikut berlari.

Kalau ada lomba lari karena takut, mungkin aku sudah masuk tim nasional.

Aku berhasil masuk halaman rumah, tetapi anjing itu masih melompat-lompat di depan gerbang yang tidak terlalu tinggi. Panik, aku spontan melepas sepatu olahraga dan melemparkannya ke arah gerbang.

Niatnya mengusir anjing.

Yang kena malah manusia.

“Duh!”

Terdengar suara dari luar.

Aku mengintip pelan.

Seorang laki-laki berdiri sambil memegang kepalanya… dan sepatuku.

Wajahnya terasa sangat familiar.

Aku memicingkan mata.

Lalu refleks berteriak,

“PREMAN!”

Cowok itu langsung mendekat sambil melambaikan tangan panik.

“Ssst! Jangan teriak! Nanti orang kira gue habis ngerampok warung.”

“Kamu emang preman kelas!”

“Fitnah.”

“Kamu pernah nyembunyiin sepatu ku.”

“Itu… beda kasus.”

Aku menunjuk sepatuku yang kini ada di tangannya.

“Tuh kan. Di sekolah ambil sepatu ku. Di rumah juga.”

“Ya ampun.” Ia menghela napas. “Ini bukan ngambil. Ini diserang.”

Aku baru mau membalas ketika seorang perempuan keluar dari rumah seberang.

“Mas Haikal!”

Cowok itu menoleh.

“Iya, Mah.”

Perempuan itu kemudian melihatku dan tersenyum.

“Lho, ini anak Bu Rere, ya?”

Aku mengangguk pelan.

“Iya…”

“Saya mamahnya Haikal. Kami tetangga baru.”

Aku membeku.

Otakku mendadak berhenti bekerja.

Jadi… preman kelas itu…

Tetanggaku?

Aku menoleh ke rumahnya.

Lalu ke rumahku.

Lalu ke rumahnya lagi.

Takdir rupanya punya selera humor yang buruk.

Dan kurasa… sepatu sebelah kiriku memang sejak awal tidak pernah percaya pada kebetulan.

***

سڤاتو سبله كيري تيدق ڤرچاي تكدير

بو دسي مڽوروهكو مڠمباليكن ستومڤوق بوكو ڤاكت بهاس إندوننسيا ك ڤرڤوستكائن. تومڤوكن إتو لوماين تبل دان رق بوكو رساڽ لبيه تيڠڬي دريڤادا هرڬ چاباي

ڤرڤوستكان سدڠ ڤنوه. موريد داري برباڬاي كلس بلاجر د سان. رق سڤاتو د دڤن ڤينتو ڤون سسق اوله سڤاتو كنۋس ڤوتيه-هيتم يڠ بنتوكڽ ڤرسيس سڤرتي ڤوڽاكو. سكولهكو ممڠ مواجيبكن مودل سڤاتو يڠ سام. كالاو ديلڤس سموا، رساڽ سڤرتي مليهت ڤاسوكن سڤاتو سدڠ اڤل ڤاڬي

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini