Riausastra.com – Ketika pulang, ia mendapati sungai telah berubah arah. Tidak ada seorang pun di kampung yang menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh. Sungai itu memang masih bernama Sungai Cibulan, sebagaimana nama yang pernah ia dengar dari mulut ayahnya ketika masih kanak-kanak, meskipun airnya sekarang mengalir dari hilir menuju hulu, lalu berbelok memasuki halaman rumah-rumah penduduk.
Airnya bening sampai dasar, tetapi di dalam kejernihan itu tampak benda-benda yang tidak semestinya berada di dalam sungai: sandal jepit sebelah, sendok aluminium, potongan kain batik, selembar ijazah, mainan kayu, bahkan sesekali tampak wajah seseorang yang sedang tidur. Ia berdiri cukup lama di jembatan bambu, memperhatikan wajah-wajah itu.
Seorang perempuan tua yang lewat membawa keranjang singkong berhenti di sampingnya. “Sudah lama tidak pulang?” tanyanya. Ia mengangguk. Perempuan itu memandang sungai, lalu tersenyum seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang sebenarnya tidak ingin diingat. “Air juga punya jalan pulang.” Setelah mengatakan itu, ia berjalan lagi.
Ia membawa tas kecil dan seikat pakaian yang dibungkus kain. Rumah peninggalan orang tuanya berada tidak jauh dari sungai, di belakang rumpun pisang yang dahulu menjadi tempat ia bersembunyi ketika dimarahi ayah. Rumah itu masih berdiri, meskipun sebagian dindingnya telah lapuk. Atap gentingnya ditumbuhi lumut, jendela kayunya menghitam, dan halaman yang dulu dipenuhi bunga telang kini ditumbuhi rumput setinggi lutut.
Ia membuka pintu. Bau kayu basah menyambutnya. Di ruang tamu masih ada kursi panjang tempat ayahnya biasa tidur siang. Di atas meja terdapat sebuah gelas kaca dengan retakan menyerupai garis sungai pada peta. Ia menyentuh gelas itu.
Tiba-tiba terdengar suara batuk. Ia menarik tangannya. Suara itu datang dari dalam gelas. Batuk ayahnya. Batuk yang sama seperti dua puluh tahun lalu, ketika setiap subuh ayahnya duduk di kursi panjang sambil memandang halaman dan menunggu matahari naik dari balik bukit.
Ia tidak berani menyentuh gelas itu lagi. Menjelang sore, air sungai mulai masuk ke halaman. Airnya tidak deras. Ia mengalir pelan di antara rumput, melewati pohon mangga, kemudian merayap ke bawah pintu rumah. Ia membiarkannya.
Air menggenangi ruang tamu setinggi mata kaki. Anehnya, lantai rumah tidak menjadi basah. Justru benda-benda di dalam rumah perlahan menjadi lebih jelas. Kursi panjang yang selama ini kusam mendadak tampak baru. Foto keluarga di dinding menjadi begitu jernih sampai ia dapat melihat kerutan kecil di wajah ibunya.
Dalam foto itu, ibunya sedang tersenyum. Lalu ibunya berkedip. Ia mundur. Foto itu kembali diam. Malam turun tanpa suara. Dari kamar belakang terdengar bunyi seseorang sedang menyapu. Srek. Srek. Srek. Ia mengira mungkin ada tetangga yang masuk. Tetapi ketika pintu kamar dibuka, tidak ada siapa-siapa.
Hanya sebuah sapu lidi berdiri di sudut kamar. Sapu itu bergerak sendiri. Pelan. Teratur. Seperti tangan seseorang yang sangat sabar membersihkan lantai dari debu yang tidak pernah habis. Ia duduk di ambang pintu. Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia merasa rumah itu sedang mengenalinya kembali. Di luar, sungai terus mengalir masuk ke halaman.
Pagi berikutnya ia menemukan sebuah makam di belakang rumah. Kemarin makam itu tidak ada. Setidaknya ia yakin tidak ada. Makam itu kecil, ditumbuhi rumput, dengan batu nisan berwarna putih tanpa nama. Letaknya tepat di bawah pohon mangga yang dulu sering dipanjatnya bersama kakaknya.
Ia memanggil seorang tetangga. Lelaki itu datang, melihat makam, kemudian mengangguk. “Sudah ada sejak dulu.” tegas lelaki itu.
“Siapa yang dimakamkan?”
“Tidak tahu.”
“Kenapa tidak ada namanya?”
Lelaki itu mengangkat bahu.
“Kadang-kadang nama memang tidak diperlukan untuk orang yang sudah selesai.”
Ia tidak memahami jawaban itu.
Sore harinya makam tersebut berpindah. Tidak jauh. Hanya sekitar satu meter. Tetapi cukup untuk membuatnya merasakan sesuatu yang dingin menjalar dari telapak kaki ke punggung. Hari berikutnya makam itu berpindah lagi. Semakin dekat ke rumah. Ia mulai bertanya kepada orang-orang kampung. Mereka semua mengatakan hal yang sama. Makam itu memang selalu bergerak. Tidak setiap hari. Hanya ketika seseorang pulang.
Pada malam ketiga, sungai memasuki kamar tidurnya. Airnya naik sampai pinggang. Ia tidak merasa tenggelam. Ia justru dapat bernapas seperti biasa. Kasur, lemari, pakaian, buku-buku, semuanya mengambang di sekelilingnya. Kemudian dari bawah tempat tidur muncul suara ibunya.
“Sudah makan?”
Ia menutup mata. Suara itu begitu dekat. Begitu biasa. Seperti bertahun-tahun lalu ketika ia masih sekolah dan selalu pulang terlambat. “Belum,” jawabnya. Seketika air menjadi hangat. Ia membuka mata. Ibunya berdiri di hadapannya. Bukan sebagai hantu. Bukan pula sebagai bayangan. Ia berdiri seperti seorang ibu yang baru selesai memasak.
Rambutnya disanggul sederhana. Tangannya memegang piring. Wajahnya tidak berubah sedikit pun sejak terakhir kali ia melihatnya di rumah sakit.
“Duduklah.” Ia duduk. Mereka makan di atas air. Nasi mengepul dari piring yang tidak pernah tenggelam. Ibunya tidak bertanya mengapa ia pulang. Tidak bertanya mengapa selama bertahun-tahun ia tidak pernah datang. Mereka hanya makan. Di luar jendela, kampung perlahan menghilang.
Rumah-rumah berubah menjadi genangan. Pohon-pohon menjadi tiang-tiang yang tumbuh dari air. Jembatan bambu terlepas dari kedua sisinya dan mengapung menuju langit. Ia menatap ibunya.
“Bu.” Ibunya tersenyum.
“Kenapa?”
“Di mana kita?”
Ibunya menunjuk ke bawah meja.
Ia melihat air.
Di dalam air itu ada rumah. Rumah yang sama. Ruang tamu yang sama. Kursi panjang yang sama. Dan seorang anak kecil sedang duduk di lantai, memeluk lututnya. Anak itu adalah dirinya. Ia melihat anak itu menangis.
Di sebelahnya berdiri ayahnya. Ayahnya sedang marah. Tangannya menggenggam sebatang rotan. Tiba-tiba ia mengerti mengapa selama ini ia tidak pernah mengingat malam ketika meninggalkan kampung. Ia tidak pernah meninggalkan kampung. Yang pergi adalah ingatannya.
Ibunya berdiri dan membuka pintu. Di luar tidak ada halaman. Tidak ada pohon mangga. Tidak ada sungai. Hanya air yang sangat luas. “Pulanglah,” kata ibunya. Ia melangkah keluar. Air menelan kakinya. Kemudian lututnya. Kemudian dadanya. Tetapi ia tidak tenggelam. Ia justru merasa sedang naik. Semakin tinggi. Sampai rumah berada jauh di bawahnya.
Dari atas ia melihat seluruh kampung. Tidak ada rumah. Tidak ada jalan. Tidak ada makam. Semuanya telah menjadi sungai. Sungai itu mengalir perlahan menuju sebuah tempat yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah muara yang sangat luas. Di sana berdiri ayahnya. Ayahnya masih muda. Ia sedang menunggu.
Ketika melihatnya, ayahnya tersenyum. “Lama sekali.” Ia hendak menjawab. Tetapi sebelum sempat mengucapkan sesuatu, ia melihat dirinya sendiri berdiri di tepi sungai. Seorang lelaki tua. Membawa tas kecil. Menatap air. Menunggu seseorang pulang. Ia ingin memanggil lelaki itu. Namun, suaranya tidak keluar. Di bawahnya, sungai terus mengalir. Bukan menuju laut. Bukan menuju hulu. Sungai itu mengalir ke dalam rumah. Dan rumah itu, perlahan-lahan, mengalir ke dalam dirinya.
***
سوڠاي يڠ مڠالير ك دالم رومه
كتيك ڤولڠ، إيا مندڤاتي سوڠاي تله بروبه اره. تيدق ادا سئورڠ ڤون د كمڤوڠ يڠ مڠڠڬڤڽ سباڬاي سسواتو يڠ انه. سوڠاي إتو ممڠ ماسيه برنام سوڠاي چيبولن، سبڬايمان نام يڠ ڤرنه إيا دڠر داري مولوت ايهڽ كتيك ماسيه كانق-كانق، مسكيڤون ائيرڽ سكارڠ مڠالير داري هيلير منوجو هولو، لالو بربلوق مماسوكي هلامن رومه-رومه ڤندودوق
ائيرڽ بنيڠ سمڤاي داسر، تتاڤي د دالم كجرنيهن إتو تمڤق بندا-بندا يڠ تيدق سمستيڽ برادا د دالم سوڠاي؛ سندل جڤيت سبله، سندوق الومينيوم، ڤوتوڠن كاين باتيك، سلمبر إجازه، ماينن كايو، بهكن سسكالي تمڤق واجه سسئورڠ سدڠ تيدور. إيا برديري چوكوڤ لام د جمباتن بمبو، ممڤرهاتيكن واجه-واجه إتو





















