sumber foto asli: pixabay

Riausastra.com – “Kita telah berhasil, Kawan,” kata Maman, sesaat setelah sahabatnya, Reza, datang dan duduk di sampingnya.

Reza pun tersenyum. “Kalau keadaan ramai terus seperti ini, atau lebih ramai lagi, kita harus menyusun rencana untuk segera membuka cabang di lokasi lain.”

Lekas saja, Maman mengangguk setuju. “Ya. Kalau punya cabang, usaha kita akan makin mapan dan stabil.”

“Dan tentu saja, kita bisa mempekerjakan dan memberdayakan lebih banyak orang, seperti yang kita niatkan dahulu,” timpal Reza, lantas tergelak pendek.

Maman pun turut melepas tawa.

Mereka kemudian sama-sama terdiam, seolah larut dalam isi pikiran masing-masing.

Dari balik dinding kaca riben ruang kantornya, Maman pun kembali memandang ke arah luar dengan perasaan senang. Ia merasa bersyukur menyaksikan bahwa hari demi hari, pengunjung kafenya makin banyak. Ia sungguh tak menduga bahwa kafe yang ia rintis enam bulan yang lalu bersama Reza itu, akan berkembang dengan cepat, hingga menghasilkan keuntungan yang menggiurkan.

Seketika pula, ia kembali terkenang pada masa-masa yang lalu, saat ia masih luntang-lantung mencari perkerjaan dengan bekal ijazah sarjananya. Sekian banyak lamaran ia tawarkan kepada perusahaan atau instansi pemerintahan, tetapi sebanyak itu pula ia tertolak. Sampai akhirnya, ia melalui hari dengan kecemasan kalau-kalau umurnya terlampau tua untuk bisa mendapatkan pekerjaan, hingga ia menjadi pengangguran seumur hidup.

Namun kekalahannya dalam persaingan kerja, ia kira bukan karena kualitas pribadinya. Itu karena ia merasa memiliki kemampuan akademik yang baik. Paling tidak, ia selalu memperoleh nilai rata-rata yang masuk dalam peringkat lima besar nilai terbaik di kelasnya sepanjang masa sekolah, dan ia bisa menyelesaikan masa kuliahnya dalam waktu empat tahun dengan predikat cum laude. Tambah lagi, ia punya pengalaman sebagai ketua sebuah organisasi di kampus, dan ia sangat fasih berbahasa Inggris.

Tetapi sayang, ia memang tak pernah mujur dalam kompetisi lowongan kerja. Ia selalu saja kalah dengan pencari kerja yang lain, entah pada tahap tes, atau bahkan pada tahap pendaftaran. Apalagi, ia memang memiliki postur tubuh yang tidak mendukung. Tinggi badannya cuma 157 sentimeter, sehingga tergolong di bawah ideal sebagai seorang lelaki. Karena itu, segenap lowongan pekerjaan yang mempersyaratkan tinggi badan, tidak bisa menjadi targetnya. Ia harus menerima kenyataan tersebut, meski ia kerap mempertanyakan pengaruh tinggi badan terhadap kompetensi kerja.

Terlebih lagi, ia punya masalah dengan penglihatan matanya. Ia menderita buta warna merah-hijau. Bahkan karena perkara itu, ia pernah mengalami kisah yang pahit dan sangat membekas di ingatannya. Kala itu, ia berhasil sampai pada tahap seleksi akhir untuk sebuah lowongan kerja yang prestisius. Tetapi kemudian, pada tahap pemeriksaan kesehatan, ia kalah dari seorang pesaingnya setelah ia gagal melulusi tes buta warna.

Keputusannya untuk bersaing mendapatkan pekerjaan yang memang sedari awal mempersyaratkan tidak buta warna itu, bukan tanpa alasan. Ia merasa kesal saja menyaksikan lowongan kerja yang menurutnya menyertakan persyaratan yang tidak substansial. Meski lowongan kerja tersebut dibuka oleh sebuah perusahaan tambang, tetapi ia tahu jelas bahwa posisi yang ia lamar hanya akan berkutat dengan urusan administrasi, bukan urusan keteknikan.

Akhirnya, atas rentetan perkara itu, ia pun kecewa pada sistem lowongan kerja. Ia merasa bahwa para pembuat kebijakan, sama sekali tak mempertimbangkan keadilan untuk orang-orang yang punya persoalan fisik, yang merupakan takdir Tuhan. Menurutnya, persyaratan-persyaratan fisik semestinya tidak diterapkan secara sama kepada semua lowongan kerja di sebuah instansi, tetapi diberlakukan pengecualian untuk pekerjaan yang memang tidak akan terkendala karena permasalahan fisik tertentu.

Tetapi sebagai pelamar kerja, ia memang tak bisa apa-apa. Aturan, tetaplah aturan, dan ia harus menerima, meski dengan perasaan dongkol.

Namun nasib buruk Maman dalam persaingan kerja, tak jauh berbeda dengan Reza, teman karibnya dalam membangun usaha kafe itu. Seperti dirinya, pada masa dahulu, Reza juga sudah berkali-kali melamar pekerjaan pada perusahaan atau instansi pemerintahan. Tetapi nyatanya, sebanyak itu pula ia mengalami kegagalan, meski ia telah mengerahkan segenap daya dan upayanya untuk menang.

Tetapi berbeda dengan Maman, alasan kegagalan Reza dalam mendapatkan pekerjaan, banyak dipengaruhi oleh kualitas pribadinya yang memang tidak menonjol, termasuk prestasi akademiknya yang biasa-biasa saja. Belum lagi, ia tidak menguasai bahasa Inggris yang kerap tercantum sebagai persyaratan pada lowongan kerja. Ia telah belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi ia selalu saja gagal mendapatkan skor yang baik setiap kali mengikuti tes kecakapan berbahasa Inggris. Karena itu, peluang kerja untuknya jadi menyempit.

Sama seperti Maman, Reza pun mempertanyakan urgensi terkait persyaratan-persyaratan yang menutup kesempatan dan menjegal kemenangannya dalam persaingan kerja. Ada syarat harus punya sertifikat kecakapan berbahasa Inggris, padahal dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya, bahasa Inggris sama sekali tak digunakan. Bahkan berbahasa Inggris malah akan dicap sebagai sikap berlebihan dan tidak nasionalis. Karena itulah, perkara tersebut menurutnya hanya embel-embel omong kosong, tanpa substansi sama sekali.  

Akhirnya, karena tuntutan persyaratan itu pula, ia menyaksikan bahwa persaingan kerja jadi tidak sehat lagi. Ia tahu bahwa banyak temannya yang sama sekali sama tak tahu berbahasa Inggris, tetapi mereka berhasil mendapatkan pekerjaan karena mereka memiliki sertifikat kecakapan berbahasa Inggris dengan cara yang culas. Mereka memperoleh sertifikat tersebut melalui jalan tikus, yaitu dengan membayar orang yang mampu menguruskan dan memberikan mereka sertifikat dengan nilai yang memadai, tanpa perlu mengikuti tes.

“Ah, seandainya kita tidak mengambil keputusan untuk memulai usaha ini, mungkin kita masih terlunta-lunta dan mengkhawatirkan soal penghidupan,” tutur Maman kemudian, setelah mengenang kehidupan mereka dahulu.

“Atau barangkali kita telah menjadi budak bagi orang lain dan sekadar bekerja demi mengongkosi keperluan hidup kita sendiri,” timpal Reza.

Maman pun tergelak. “Ya. Tetapi kini, kita malah bisa mempekerjakan orang-orang yang menganggur dan butuh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sebagaimana keadaan kita dahulu. Hidup ini benar-benar penuh misteri.”

Seketika pula, Reza mendengkus panjang, seolah meresapi kesyukuran yang sama.

Sekejap kemudian, Maman lantas memandang Wati, karyawan barunya, seorang gadis kampung yang dua bulan lalu datang meminta pekerjaan demi mendapatkan upah untuk kebutuhan kuliahnya. “Aku sepertinya tak salah menerima saranmu untuk menerima mahasiswi itu berkerja di sini. Ia tampak sangat ramah dan sopan melayani para pelanggan.”

Reza sontak tertawa pendek. “Kan sudah kubilang, aku jaminannya.”

Maman hanya tertawa.

Perlahan-lahan, Maman pun kembali teringat pada momen ketika ia beradu kata dengan Reza di dalam ruang kantor mereka, setelah Wati datang menemui mereka dan memohon pekerjaan untuk sebuah lowongan pelayan yang telah mereka layangkan di media sosial.

“Dia tampak punya semangat kerja. Aku yakin, ia tidak akan mengecewakan kita,” kata Reza, menilai sang mahasiswi. “Apalagi, aku merasa kasihan. Kukira, dengan memberikan pekerjaan kepadanya, itu berarti kita telah membantunya meringankan beban hidupnya.”

Maman lantas mendengkus lesu. “Tetapi sebaiknya, kita cari kandidat yang lain. Kita tunggu saja. Besok-besok, pasti ada pelamar lain yang datang.”

“Kenapa? Apa kurangnya dia?” selidik Reza, tampak menentang.

“Aku rasa, kita perlu menjaga nilai jual bisnis kita. Sumber daya kita, mesti punya daya Tarik bagi pelanggan,” tutur Maman, dengan arti yang abu-abu.

“Maksudmu?” sergah Reza, menuntut penjelasan.

Maman pun mengembuskan napas yang panjang. “Jujur, aku merasa ia tidak punya paras yang menarik untuk jadi pelayan, sedangkan kita perlu tampilan yang bagus untuk urusan itu.”

Seketika, Reza menggebrak meja. “He, apa kau lupa dengan nasib malangmu dahulu karena persoalan fisik? Apa kau lupa bahwa kau tidak mendapatkan pekerjaan kerena matamu yang buta warna dan tinggi badanmu yang tidak mencukupi? Apa kau mau memberlakukan ukuran fisik yang tidak adil semacam itu untuk para pencari kerja di tempat usaha kita ini?” sergahnya.

Sontak, lidah Maman menjadi kelu. Ia tak kuasa untuk mengucapkan kata-kata balasan.

“Kita punya posisi yang sama di kafe ini. Dan aku putuskan, dia harus bekerja di sini!” tegas Reza, lantas bergegas keluar dan memberikan kabar gembira untuk Wati.

Hari demi hari setelah perdebatan itu, Maman pun makin menyadari kesilapan dan kekhilafannya setelah menyaksikan semangat dan kualitas kerja Wati.

Kini, Maman pun merasa makin senang dan tenang menyaksikan perkembangan usaha kafenya. Dan untuk itu, ia merasa sangat beruntung berpartner dengan Reza.

Waktu bergulir cepat.

Akhirnya, saat ini, lewat jam 12 malam, ketika cafe mereka telah tutup, Maman pun bertanya-tanya setelah untuk pertama kalinya ia melihat Wati pulang dengan membonceng pada motor Reza. Apalagi, ia bisa membaca kalau sikap tubuh mereka tampak tidak biasa satu sama lain.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here