gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Hari raya kurban tinggal dua hari lagi. Kampung Sungai Pagar sudah mulai ramai dengan berbagai persiapan penyambutan Idul Adha tahun ini. Begitu juga dengan surau az-Zahra al-Salsabila, pengurus dan jamaah sibuk melakukan gotong-royong bersama, membersihkan bagian luar dan dalam surau kecil itu dengan penuh suka cita.

Riausastra.com – Kata salah seorang pengurus di surau yang sudah tahun keempat menyelenggarakan salat Idul Adha ini, tahun ini ada dua ekor lembu dan satu kambing yang akan disembelih atau dikurbankan. Bahkan pengurus juga mulai mendistribusikan kupon-kupon daging kurban kepada masyarakat dan jamaah di sekitar surau.

***

Di sebuah rumah kayu beratapkan daun rumbia dan mulai miring sebelah, Tuk Karim pada petang itu duduk di beranda. Di depannya, seekor kambing putih bertali tambang diikat pada sebatang pohon nangka. Kambing itu lumayan gemuk dan sehat. Bulunya bersih, matanya jernih. Namanya Bule. 

“Bule ini titipan rezeki,” kata Tuk Karim pelan, seolah-olah bicara pada dirinya sendiri.

“Duitnya dari hasil menjual getah tiga bulan. Lumayan-lah buat kurban tahun ini.”

Umur Tuk Karim sudah menginjak 71 tahun. Badannya kurus, tangannya kasar karena seumur hidup jadi penoreh getah. Istrinya, Mak Leha, sudah lama meninggal, tepatnya lima tahun yang lalu karena mengidap suatu penyakit. Anak-anaknya ada yang merantau ke Pekanbaru, Kalimantan dan Batam. Tinggal dia seorang diri di rumah kayu itu, ditemani Bule dan seekor kucing belang bernama Bobi.

Malam sebelum pagi Idul Adha, Tuk Karim sangat susah tidur. Ia membayangkan wajah tetangga yang akan tersenyum bila menerima daging kurban yang ia sembelih. Ia membayangkan juga bahwa nama Bule pasti akan disebut-sebut oleh ustaz saat doa penyembelihan nanti dilakukan. 

“Semoga lancar, ya, Bule,” bisiknya lembut sambil mengelus kepala kambing itu. Bule mengembik pelan, seolah mengerti apa yang dikatakan orang tua itu kepadanya.

***

Subuh hari raya, Tuk Karim bangun lebih awal. Ia ingin memandikan Bule, mengganti tambangnya dengan tali baru yang lebih kuat. Agar nanti saat akan disembelih Bule terlihat gagah dan siap. Tapi begitu ia membuka ikatan, Bule meloncat. Mungkin Bule terkejut mendengar suara kaset ngaji yang tiba-tiba diputar terlalu keras dari pengeras suara di sebuah surau di dekat rumahnya itu.

“Bule! Bule!”

“Mau kemana, engkau?”

Kambing itu lari. Lewat sela pagar buluh miliknya, kemudian melintas pekarangan Pak Hasan, menyebrangi jalan tanah, lalu hilang ke arah hutan kecil di ujung jalan itu.  

Tuk Karim mencoba mengejar. Tapi ia sadar, umurnya tak lagi muda. Napasnya terseot-seot dan ngos-ngosan di tengah kebun ubi milik Pak Cik Udin. 

“Bule! Balek, Bule!” 

Suara Tuk Karim pecah menggema di Subuh itu. Orang-orang keluar rumah, melihatnya berlari sambil memanggil-manggil. Ada yang tertawa kecil. Ada yang menggeleng. Bahkan ada juga yang seakan tak percaya hal itu mengapa terjadi.

“Kambing itu agaknya tahu kalau dia mau disembelih, Tuk,” kata Pak Hasan sambil menggaruk kepala dan tertawa.

“Makanya ia kabur,” lanjutnya lagi.

Tuk Karim hanya diam. Ia tak berkata apa-apa saat mendengar kalimat bernada sindiran itu keluar dari mulut Pak Hasan. Tapi tiba-tiba dadanya terasa penuh sesak. 

Usai melaksanakan salat Idul Adha, upaya pencarian Bule dilakukan. Kali ini beberapa anak muda yang dikomandoi Rahman dan sengaja tidak bergotong-royong membantu penyembelihan hewan kurban di surau,- bersama-sama mencari hingga ke ceruk-ceruk kampung, bahkan hingga ke pinggir-pinggir hutan kecil di kampung itu. Namun sayangnya, meski para pemuda telah menyebar dan mencari, tapi Bule tak juga ditemukan. Mereka memutuskan jika pencarian Bule dihentikan sore hari itu.

“Kita hentikan mencari Bule, Tuk. Hutan itu sudah gelap, banyak babi hutannya di sana,” kata Rahman seraya mengajak beberapa pemuda lainnya untuk pulang

“Ikhlaskan saja, Tuk. Mungkin belum rezeki untuk berkurban tahun ini,” timpal Bidin pula.

Malam itu Tuk Karim tak selera makan,- meski istri Pak Cik Udin tadi sore sempat mengantarkan semangkok rendang daging dan beberapa biji ketupat. Ia yang duduk di beranda terus saja bersedih,- menatap seutas tali tambang yang terbiar terputus dan tergeletak di tanah begitu saja.

“Kalau Bule tak balik, aku kurban apa, Leha?” bisiknya pada angin.

Sepertinya Tuk Karim merasa sangat malu. Malu pada tetangga. Dan tentu saja sangat malu pada Allah. Ia juga merasa menjadi satu-satunya hamba yang telah gagal menepati janji untuk menunaikan ibadah kurban tahun ini. Baginya, andai waktu dapat diputar, ia  tak akan gegabah mengulangi kesalahannya lagi, sehingga membuat si Bule terlepas dan melarikan diri.

Air mata Tuk Karim kini jatuh. Bukan karena rugi atas uang selama ini digunakan membelli Bule, tapi karena ia merasa Bule bukan hanya sekadar kambing. Ia teman bicara di malam sepi. Harapan kecil untuk berbagi rezeki.

***

Dua hari telah berlalu. Hari raya Idul Adha pun sudah lewat. Di beberapa masjid dan surau di kampung Tuk Karim,- daging kurban sudah dibagi. Tapi rumah Tuk Karim sepi. Tak ada bau rebusan daging, juga tak ada anak kecil yang datang meminta jatah. 

Tuk Karim hanya duduk. Makan seadanya. Tidur pun tak nyenyak. Setiap kali mendengar suara kambing, ia menoleh cepat, berharap itu Bule. Namun sayang, suara itu bukan suara Bule, melainkan suara kambing milik tetangga dan warga sekitar.

***

Alkisah, hari itu merupakan hari ketiga atau hari terakhir dari hari Tasyrik. Matahari tampak sudah meninggi, dan Tuk Karim baru saja mengambil wudhu untuk shalat Dhuha. Tiba-tiba ia terdengar suara mengembik dari arah hutan kecil di sisi jalan itu.

“Mbéeek!” 

Tuk Karim keluar. Matanya terbelalak. Ia merasa tidak asing dengan suara itu.

“Apakah itu Bule?”

Benar saja. Kambing itu keluar dari semak-semak, tubuhnya kurus, bulu putihnya kotor oleh lumpur dan dedaun kering. Di lehernya masih ada sisa tali tambang yang putus. Ia berjalan pincang, tapi matanya tetap sama. Jernih.

“Bule!” 

Tuk Karim berlari, matanya berlinangan, lupa pada lututnya yang sakit. Ia penuh haru dan syukur memeluk leher Bule. Bule mengembik pelan, menggosokkan kepalanya ke dada Tuk Karim. Tampak seolah-olah Bule sangat rindu kepada Tuk Karim. Begitu juga sebaliknya dengan Tuk Karim.

Orang-orang kampung yang melihat hanya diam. Ada yang tersenyum. Ada pula yang meneteskan air mata. 

“Allahu Akbar,” gumam Tuk Karim. Suaranya bergetar.

“Akhirnya kau balek juga, Bule?”

“Memang kambing bertuah engkau ini!”

Tuk Karim tak tahu kemana Bule selama beberapa hari ini menghilang. Bagaimana kondisi badan, makan dan bagaimana ia terselamat dengan salah satu kakinya yang tampak pincang. Tuk Karim tak peduli lagi pada itu semua. Ia bersujud di tanah, bersyukur kepada Allah yang telah mendengarkan doanya agar Bule kembali untuk dijadikan hewan kurban tahun ini.

Sore itu juga, Tuk Karim memanggil Pak Ustaz. 

“Ustaz, bolehkah kambing ini disembelih sekarang?  Disembelih untuk ibadah kurban, walaupun hari raya sudah berlalu?”

Pak Ustaz tersenyum. “Boleh, Tuk. Selama masih pada hari raya Idul Adha tanggal 10 Zulhijjah dan tiga hari setelahnya tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah,- yang dikenal juga dengan hari Tasyrik.”

Tuk Karim tersenyum. Ia menganggung-ngangguk mendengar penjelasan ustaz Hamzah.

“Ini rezeki Allah yang dikembalikan kepadamu, Tuk,” sambung ustaz Hamzah lagi.

Singkat cerita, maka disembelihlah Bule di halaman rumah Tuk Karim pada petang tanggal 13 Zulhijjah itu juga. Sederhana dan tak meriah memang, tak seperti kurban-kurban yang dilakukan orang-orang di kampung, baik di masjid atau surau yang kerap disaksikan banyak orang, disambut dengan meriah dan bahkan dirayakan dengan gembira.

Sore itu, hanya ada lima orang yang datang membantu Tuk Karim, termasuk ustaz Hamzah yang akan melakukan penyembelihan. Meski sederhana, tapi suasana itu cukup hangat. Cukup mengesankan.

Saat pisau ustaz menyentuh leher Bule, Tuk Karim yang menyaksikan dari dekat menutup mata. Ia berbisik,

 “Allahu Akbar. Ini untuk Engkau, ya Allah.”

Darah mengalir. Bule pergi dengan tenang. 

Tuk Karim tersenyum. Tapi matanya tampak berlinang oleh air mata. Ia tak henti-hentinya mengucap syukur dan terlihat bahagia saat itu.

Petang itu juga, daging kambing itu dibagi ke beberapa rumah dan kepala keluarga yang ada, terutama yang berdekatan dengan rumah Tuk Karim. Tuk Karim sengaja tak mengambil banyak dari bagian daging kurban itu. Hanya sepotong kecil saja untuk dimasak gulai. 

“Makanlah, Leha,” katanya pada foto istrinya yang telah lama terpajang di dinding rumahnya.

“Ini kurban kita.”

“Kurban yang akan mendekatkan kita kepadaNya.”

***

Malam itu, ditemani Bobi,- seekor kucingnya,  Tuk Karim duduk di beranda menatap langit malam. Kini tak ada lagi kambing yang terikat di batang pohon nangka depan rumahnya itu. Hanya ada bekas ikatan tali dan sisa rumput yang dimakan Bule. 

Tapi hatinya ringan. Senyumnya menyapa halaman rumah, lalu terbang tinggi ke angkasa.

Ia sadar, kurban bukan hanya tentang menyembelih hewan. Kadang, kurban itu cara paling indah guna menahan rasa malu, menahan kecewa, menahan air mata agar tidak jatuh di depan banyak orang.

Tuk Karim juga sudah mengorbankan perasaannya selama beberapa hari ini. Ia malu, ia sedih, ia takut dibilang gagal. Tapi ia tidak berhenti berdoa dan berharap. 

Dan Allah mengembalikan harapannya itu. Alhamdulillah.

Suatu hikmah besar terjadi. Dan anak-anaknya menelepon Tuk Karim malam itu.

“Ayah sehat? Kami dengar Bule yang hilang dan terlepas sudah kembali pulang.” 

Tuk Karim tertawa pelan. “Sehat, Nak. Bule sudah kembali. Ya, kembali pulang. Ayah juga sudah kembali, kembali pulang ke hati yang tenang.”

Ia menceritakan dengan detail semuanya. Tentang lari, tentang hilang, tentang tangis, tentang harapan, juga tentang syukur yang dikumandangkan sepanjang kehilangan Bule..

Di ujung telepon, anaknya yang di Batam menangis. “Maafkan kami, Ayah. Kami jarang pulang.”

“Tidak apa-apa,” kata Tuk Karim dengan santai.

“Yang penting, kalian ingat kampung ini. Ingat bahwa kurban itu bukan hanya daging. Tapi juga kasih sayang.”

Keesokan hari, Tuk Karim menanam sebatang pohon nangka baru di tempat Bule dulu diikat. Menurutnya, pohon nangka itu sengaja ditanam kalau-kalau di tahun depan ada kambing lagi, sehingga dia ada tempat untuk berteduh.

Menyaksikan hal itu, orang kampung bilang Tuk Karim aneh. Kambingnya lepas, ia menangis. Kambingnya pulang, ia juga menangis. 

Tapi Tuk Karim tak peduli. Ia tahu, air mata itu bukan tanda lemah. Itu tanda bahwa hatinya masih hidup dan kuat. Masih bisa merasa, masih bisa bersyukur atas segala rezeki dan karunia Tuhan.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil hamd.”

Malam itu, Tuk Karim bertakbir dan bertahmid sepaling dan alakadarnya saja menjelang kedua matanya terlelap beristirahat. Hatinya kian damai, sebab hajat besar dalam hidupnya telah-pun ia tunaikan.

***

Di luar, angin malam mulai merambat menggerakkan daun nangka. Seolah-olah Bule masih ada di sana, mengembik perlahan, mengucapkan selamat tinggal kepada Tuk Karim yang selama ini menjaga dan merawatnya dengan penuh cinta.

Tuk Karim tersenyum. 

Ia sudah berkurban. Dengan hewan, dengan perasaan, dan bahkan dengan air matanya. 

Dan itu sudah cukup baginya untuk menggapai kemuliaan dari Tuhannya.

Bengkalis, penghujung  Mei 2026

***

توق كاريم دان كمبيڠ يڠ ترلڤس

هاري راي كوربن تيڠڬل دوا هاري لاڬي. كمڤوڠ سوڠاي ڤاڬر سوده مولاي راماي دڠن برباڬاي ڤرسياڤن ڤڽمبوتن عيد الاضه تاهون إني. بڬيتو جوڬ دڠن سوراو از-زهرا السسابيلا، ڤڠوروس دان جمائه سيبوق ملاكوكن ڬوتوڠ رويوڠ برسام، ممبرسيهكن باڬيان لوار دان دالم سوراو كچي إتو دڠن ڤوه سوك چيت

RSSN2608-2019-1426-0609
Artikel sebelumnyaCerpen: Matkuteng, Penjagal dari Kampung Selatan
Marzuli Ridwan Al-bantany
Penulis, penyair dan sastrawan Riau bermastautin di Bengkalis. Ia tidak hanya menulis puisi, namun juga menulis cerpen, artikel maupun esai. Buku puisi yang diterbitkannya antara lain Menakar Cahaya (FAM Publishing: 2016), Di Luar Jendela (TareBooks: 2019) dan Cinta Hingga ke Surga (Aden Jaya: 2020). Selain karya-karyanya pernah tersiar di sejumlah media massa dan antologi bersama, pria kelahiran Bantan Air, Bengkalis pada 16 September 1977 ini juga telah menerbitkan buku kumpulan cerpen berjudul Burung-Burung yang Mengkapling Surga (FAM Publishing: 2018) dan Pada Senja yang Basah (Dotplus Publisher, 2021), serta tiga buah buku kumpulan esai berjudul Menuju Puncak Keindahan Akal Budi (Aden Jaya: 2019), Setitik Embun Pagi (Aden Jaya, 2020), dan Sabda Pujangga Dari Negeri Junjungan (Dotplus Publisehr, 2021). Baginya, menulis adalah bagian dari proses pendewasaan diri dan cara paling indah dalam menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan kemaslahatan. Beliau dapat dihubungi di nomor HP 0852-7811-8244.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini