sumber foto asli: kompasiana

Simpuh

Aku mengharapkan ampunan nan azali
di balik simpuh, nan dalam
pada malam tak berujung

air mata menderai
sebagai takhluk sebagai makhluk,
menciptakan kekokohan di sanubari yang kering kerontang
akankah beroleh kasihMU?

mungkin pertobatan bukanlah jalan yang terbaik
karena sayangmu begitu menyeluruh dan utuh

maka hamba hanya datang,
tidak teriak gemuruh

cuma melangkah risih, sendu
mengiba mengaku dan memohon
sebagai insan yang takkan pernah luput
dari alpa, dosa, noda

berilah kami keampunan.


(Ramadhan, Jumat 15 April 2022).

Artikel sebelumnyaPuisi: Setan di Kampung
Artikel berikutnyaPuisi: Purnama Ramadan
Merupakan wartawan harian Riau Pos. Meraih nominator penulisan Novel Ganti Award 2006 dengan judul Novel ; Kehilangan Jembalang. Anugerah jurnalistik Sagang (2012), menghasilkan karya tulis buku berupa Kumpulan Cerita Rakyat Pesisir bersama penulis Murkan Muhammad. Menerbitkan buku puisi berjudul “Kampung Halaman” terbitan Garudhawaca. Memenangkan penghargaan jurnalistik tingkat nasional LKTJ TMMD tahun 2021. Menetap di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rohil, Riau. Email : zulfadhlirp@gmail.com, facebook : fadhli muallim. Nomor kontak : 085215352979.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini