gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Airlangga termangu. Kemegahan Kadhaton Mḍang yang beberapa waktu lalu dipenuhi lautan manusia pada pesta pernikahan anak raja, mendadak lengang. Sunyi, seperti sebuah rumah suwung.

Di atas kuda tunggangannya, Airlangga masih terpaku. Dia merasakan kabut yang turun dari lembah Gunung Wilis menelusup ke tulang pelipisnya yang basah berkeringat. Mimpikah aku? Ada tombak berdenting saling beradu, entah milik siapa, tetapi suaranya tiba-tiba hilang, seperti disapu angin gunung begitu saja. Sunyi kembali.

Kadhaton Mḍang hampa. Kadhaton yang megah itu tiba-tiba saja berubah menyerupai tubuh gembel tua yang bau, ringkih, lengang, dan sulit bisa dikenali lagi.

Seekor kuda lain, meringkik kesakitan. Tubuhnya tersungkur, bersamaan dengan lenguhan panjang yang terdengar menyayat hati. Sebilah anak panah menancap, tepat di batok kepalanya. Tak jauh dari kuda itu, barangkali jumlahnya ratusan orang, terlibat saling bacok. Perang mendadak terpampang begitu saja di depan Airlangga.

***

Orang-orang menyebutnya sebagai negeri yang dibangun dari serpihan kahyangan, tempat tinggal para Dewata. Ia terhampar di tanah Bali. Berbatasan langsung dengan Selat Blambangan—wilayah Medang Kamulan—di sebelah barat. Di sisi utara, batas wilayahnya mencapai samudra lepas di dekat daratan Tanjungpura. Sementara, di sisi timur, wilayahnya berbatasan dengan gugusan daratan Sumbawa.

Malam itu, penguasa Bedahulu, Sri Udayana Warmadewa sedang bercengkerama dengan istrinya, Mahendradatta Gunapriyadharmapatmi.

“Dalam semadi tadi, aku melihat sekawanan burung sedang berkicau di halaman puri ini.”Udayana membuka percakapan.

“Akan ada tamu yang datang ke puri kita, Pukulun.”1

Mahendradatta mengangkat sembah, sembari menebak.

“Sepertinya begitu.”

“Tamu dari mana gerangan?”

“Entahlah. Sudah lama Bedahulu tidak membuka diri kepada negeri-negeri seberang. Mungkin saja tamu yang akan datang adalah utusan dari salah satu dari mereka, Sagung Istri.”2

Seorang perempuan paruh baya berjalan tergesa-gesa, setengah menunduk, didampingi seorang prajurit. Sampai di depan pendopo, keduanya mengangkat sembah, lalu berjalan jongkok medekat penguasa Bedahulu.

“Hamba mengantarkan prajurit ini, Pukulun.”

“Ada yang ingin kau sampaikan, Prajurit?” Udayana menyipitkan mata. Dahinya kelihatan berkerut.

“Hamba, Pukulun.” Prajurit Bedahulu itu melakukan sembah dada.

“Katakan, ada kabar penting apa?”

“Ada dua penggawa dari Jawa yang ingin menghadap.”

“Tengah malam begini?”

“Iya, Pukulun.”

“Siapa mereka?”

“Menurut pengakuan, mereka utusan Pukulun Dharmawangsa Teguh.”

“Oh, Yayi, ternyata kabar dari Rakawi5 Dharmawangsa.”

Udayana menoleh ke arah Mahendradatta. Pramesywari Behadulu itu memancarkan wajah yang berbinar-binar. Bahagia tentunya. Sudah lama, hampir satu setengah windu dia tidak bertukar kabar dengan Dharmawangsa Teguh.

“Bawa utusan itu ke Bale Manguntur.6 Sebentar lagi aku ke sana!”

Sendika,7 Pukulun.”

Bale Manguntur letaknya berada di tengah-tengah kompleks Puri Bedahulu. Malam itu, di sana tampak dua orang berpakaian bangsawan Jawa sudah menunggu dengan duduk bersila.

Dua prajurit berjalan setengah berlari menuju gerbang yang membatasi lorong penghubung Bale Paningkil dengan Bale Manguntur. Tak lama kemudian, Udayana, Mahendradatta, dan iring-iringan pengawal memasuki bangunan itu.

Udayana duduk di sebuah kursi kayu berukir. Mahendradatta mengambil posisi di sampingnya. Keduanya menatap sebentar ke arah dua tamu dari Medang Kamulan yang tetap bergeming duduk bersila dengan wajah menunduk.

“Selamat datang di Bedahulu, Kisanak.”

Udayana membuka percakapan dengan dua orang tamunya.

Mugi Sarwa Hayu,8 Pukulun.”

“Siapa kalian?”

“Hamba Arya Digda, Pukulun. Rakryan Mahamantri Sirikan Medang Kamulan.”

“Hamba Arya Jagaraga. Rakryan Mahamantri Hulu Medang Kamulan, Pukulun.”

Arya Digda dan Arya Jagaraga menjawab bergantian, sembari melakukan sembah dengan sikap anjali.9

“Angin apa yang sedang berembus di negeri Medang Kamulan, hingga Rakawi Dharmawangsa Teguh mengirim utusan ke negeri Bedahulu?”

Nyuwun agunging pangaksami,10 Pukulun. Hamba berdua dikirim untuk mengantarkan pesan dari Pukulun Dharmawangsa Teguh.” Arya Digda kembali mengangkat sembah, lalu mengeluarkan sebuah bumbung bambu.

Udayana menerima bumbung yang diulurkan Arya Digda. Dengan hati-hati, ditimang-timang batang bambu yang di dalamnya terdapat gulungan rontal.11 Pelan-pelan, penguasa Bedahulu itu mengeluarkan isinya. Sesaat dia menyipitkan mata saat melihat guratan kalimat demi kalimat di atas rontal.

Ajung Wa12 Narotama,” panggil Udayana.

“Hamba, Pukulun.”

Seorang penggawa paruh baya, dengan rambut digelung rapi di atas ubun-ubun mengangkat sembah.

“Bacalah guratan aksara dalam rontal ini dengan keras. Aku ingin semua yang hadir di Bale Manguntur Bedahulu mendengarnya sekarang!”

Sendika.”

Lelaki yang dipanggil dengan nama Narotama menerima rontal yang diulurkan Udayana. Dia berdiri, lalu bersuara dengan setengah lantang di tengah-tengah Bale Manguntur.

Yayi Udayana dan Mahendradatta di Bedahulu, mugi sarwa hayu. Rakawi kabarkan bahwa Mḍang di Jawa Dwipa dalam keadaan tata tentrem karta raharja, gemah ripah loh jinawi.13 Semoga Bedahulu juga selalu dalam lindungan para Dewata.

Yayi berdua, Kangmas juga ingin mengirim warta lain. Medang Kamulan hanya memiliki satu pewaris takhta yang sah, yaitu Dyah Sri Laksmi, putri semata wayang Rakawi. Saat ini, Rakryan I Hino ring Medang itu telah nyengkir gading.14 Cepat atau lambat, takhta yang sekarang Rakawi duduki akan digantikan olehnya. Namun, sebagaimana yang dulu pernah dilakukan eyang kita, Isana, sosok ratu yang memangku wilayah seluas kekuasaan Mḍang Kamulan harus memiliki pendamping yang tangguh dan cakap.

Beberapa wuku ini Rakawi telah menimbang-nimbang dengan para sesepuh di kadhaton, juga memohon petunjuk Dewata melalui semadi. Jika ingatan Rakawimu ini belum pudar, putra Yayi yang sulung, Anak Agung Airlangga, tentu telah tumbuh menjadi seorang kesatria muda.

Yayi berdua, singkat saja. Kangmas menginginkan Anak Agung Airlangga meneruskan kursi kekuasaan atas Jawa Dwipa dengan mengawini sekar kadhaton Mḍang: Dyah Sri Laksmi.

Jika Yayi berdua merestui, Rakawi menginginkan sepuluh wuku lagi Anak Agung Airlangga sudah berangkat ke Mḍang.

(Sri Maharaja Isana Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa)

“Sudah selasai, Pukulun.”

Sejenak suasana Bale Manguntur hening. Arya Digda, Arya Jagaraga dan Narotama menundukkan kepala dalam-dalam ke ubin pendopo. Mereka menunggu dengan perasaan cemas, apa tanggapan Udayana terhadap permintaan Dharmawangsa Teguh.

“Bagaimana menurutmu, Sagung Istri?”

“Menurut hamba, ini kehormatan bagi Bedahulu. Seperti yang telah dijanjikan oleh Rakawi Dharmawangsa, anak kita, Airlangga bukan hanya akan dinikahkan dengan Anak Ayu Dyah Sri Laksmi, tetapi juga mendapatkan kepercayaan untuk menduduki takhta Mḍang.”

Mahendradatta bersembah anjali.

“Kalau menurutmu, Ajung Wa Narotama?”

“Hamba sependapat dengan Gusti Mahendradatta. Anak Agung Airlangga bukan hanya mewarisi darah para raja Bedahulu, tetapi di dalam tubuhnya juga mengalir darah raja-raja dari tanah Jawa. Bukan itu saja. Meskipun masih belia, saat ini Anak Agung Airlangga telah banyak menguasai ilmu tata negara, juga cekatan dalam olah kanuragan. Maka, sudah seyogyanya jika kita menerima dengan sukacita kehormatan ini, Pukulun,” jawab Narotama.

Mendengar penuturan Mahendradatta dan Narotama, Udayana kembali manggut-manggut. Sejenak kemudian, matanya menyipit, dahinya tampak berkerut-kerut. Dalam hati dia membenarkan juga pendapat istrinya dan Narotama. Tidak ada alasan baginya untuk menolak keinginan Dharmawangsa Teguh. Mengawinkan Airlangga dan Dyah Sri Laksmi.

Semua yang hadir menahan napas.

“Baiklah, sampaikan kepada Rakawi Dharmawangsa. Aku menerima permintaannya. Dua bulan lagi, Airlangga akan menghadap ke Medang Kamulan.”

Sendika, Pukulun.”

Arya Digda dan Arya Jagaraga menjawab dengan serempak, disusul dengan sembah dalam sikap anjali.

“Paman Narotama. Perintahkan kawirajya15 Bedahulu untuk membuat rontal balasan kepada Rakawi Dharmawangsa.”

Sendika.”

***

Asap dupa mengepul memenuhi ruangan bersama aroma harum asthanggi16 yang dibakar di dalam prapen.17 Asap itu meliuk-liuk ke segenap sudut, lalu menggulung tubuh seorang lelaki yang sedang duduk bersila. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai hingga sebatas pundak, sebagian menutupi kulit leher. Pada kedua lengan tangan, tampak kelat bahu yang terbuat dari ukiran emas. Jelas itu menunjukkan bahwa dia berasal dari kasta kesatria.

Kepulan asap dupa membalut tubuh lelaki itu. Dahinya nyaris tidak terlihat. Pun juga dengan kedua mata, kini telah sepenuhnya terpejam. Mendadak tangan lelaki itu diangkat ke depan, lalu membentuk sikap amusthikarana.18 Berusaha memusatkan pikiran kepada Sang Pencipta. Bibirnya berdesis membaca mantra, seiring hembusan napas yang semakin pelan dan datar. Batin lelaki itu mendadak sunyi. Hatinya memasuki sebuah lorong bercahaya putih, merayap hingga mencapai di ujung jalan. Ujung keheningan rasa. Di ujung jalan itu, tiba-tiba ia melihat sosok yang menyerupai dengan dirinya.

Sosok yang duduk di atas punggung kuda itu tampak terpaku. Dia menatap sebuah bangunan kadhaton yang kosong. Kadhaton yang sebelumnya megah, tatpi tiba-tiba saja berubah menyerupai tubuh gembel tua: bau, ringkih, lengang, dan sulit bisa dikenali lagi.

Tiba-tiba saja dia telah dikepung puluhan orang yang merentangkan busur. Dalam kepanikan yang luar biasa, dia melihat segerombolan orang lainnya berteriak, “Cepat habisi menantunya. Dharmawangsa Teguh dan pramesywari-nya telah mati. Dharmawangsa mati … Dharmawangsa mati!”

Tiba-tiba puluhan anak panah melesat bertubi-tubi menghujani tubuhnya. Lelaki itu gelagapan.

Sebuah tepukan di pundak, menyadarkan dirinya dari semadi. Ketika dia membuka mata, seorang lelaki paruh baya sudah berdiri di hadapannya.

“Hamba diutus Pukulan Udayana untuk menjemputmu, Raden. Mari, aku antar menghadap.”

***

Udayana menunjuk ke sebuah kursi kayu yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya. “Duduklah di sini, Airlangga.”

Kursi itu berukuran jauh lebih kecil dibandingkan yang sedang diduduki Udayana dan Mahendradatta. Menunjukkan bahwa kedudukan raja dan pramesywari tetaplah yang tertinggi.

Sendika.” Airlangga mengangkat sembah, lalu bangkit dari posisi bersila.

Sesaat suasana menjadi hening. Airlangga tidak berani membuka percakapan. Pun juga dengan Narotama. Di sudut lain, Mahendradatta mengumbar senyum. Sedangkan Udayana tampak lebih berhati-hati.

“Anak Agung Airlangga.”

“Hamba, Pukulun.”

“Sengaja aku memanggilmu. Ada yang ingin kusampaikan kepadamu.”

“Hamba, Pukulun.” Airlangga masih menunduk. “Jika boleh tahu, apa yang sedang tersimpan di pikiran Pukulun?”

“Begini, Arlangga. Tadi malam, utusan dari Medang Kamulan menghadap. Mereka membawa rontal dari Pukulun Dharmawangsa Teguh. Rakawi ibumu.”

Mendengar dirinya disebut, Mahendradatta mengangguk. Mengiyakan penjelasan dari suaminya.

Nyuwun agunging pangaksami. Apa isi nawala itu, Pukulun?”

“Mungkin ibumu pernah bercerita, Pukulun Dharmawangsa Teguh memiliki anak perempuan semata wayang yang seusia denganmu.”

“Jika hamba tidak salah ingat, yang Pukulun maksud tentunya Kangmbok19 Dyah Sri Laksmi.”

“Betul, Anak Agung.” Udayana mengangguk-angguk. “Sekarang, Anak Ayu Dyah Sri Laksmi telah tumbuh menjadi perawan yang nyengkir gading. Menurut Pukulun Dharmawangsa Teguh, Sekar Kadhaton Medang itu sudah saatnya naik ke pelaminan.”

Airlangga mengangguk-ngangguk. Dia belum bisa menebak arah pembicaraan ayahnya. “Tentu saat ini Kangmbok Dyah Sri Laksmi telah menjelma menjadi gadis yang jelita. Sebagaimana yang ada pada sekar-sekar kadhaton Wangsa Isyana.”

“Begitulah, Anak Agung.” Mahendradatta ikut menyela. Dalam hati, Prameyswari Bedahulu itu mengiyakan, juga sedikit membanggakan diri. Dia memang dilahirkan dari Wangsa Isyana. Wangsa yang dibangun oleh eyangnya—Mpu Sindok, menantu dari mendiang Pukulun Dyah Wawa yang tersohor di Mataram. Dia juga mewarisi kecantikan Dyah Kebi, Prawesywari Mpu Sindok yang dianggap memiliki kecantikan setara Prajna Paramitha—sosok Budha dalam wujud bidadari.

“Anak Agung Airlangga.”

“Hamba, Pukulun.”

“Tanpa tedeng aling-aling, Rakawi Dharmawangsa Teguh meminta kaulah yang menjadi pendamping hidup Anak Ayu Dyah Sri Laksmi!”

Suara Udayana terdengar lebih keras.

Nyuwun agunging pangaksami, Pukulun. Apakah hamba tidak salah dengar?”

“Tidak, Anakku. Rakawi Dharmawangsa Teguh juga menegaskan dalam rontal itu, setelah menjadi menantunya, takhta Medang Kamulan yang diwarisi Anak Ayu Dyah Sri Laksmi akan diserahkan kepadamu.”

Airlangga terdiam. Benaknya masih diselimuti kembimbangan. Antara percaya dan tidak. Medang Kamulan adalah sebuah negeri besar. Bedahulu tidak ada sepersepuluhnya. Dia pernah mendengar cerita bahwa wilayah negeri yang berpusat di Jawa Dwipa itu bahkan sampai ke Tanjungpura. Bagaimana mungkin, penguasa negeri sebesar Medang Kamulan menginginkan dirinya menjadi menantu?

“Bagaimana pendapatmu, Airlangga?”

Airlangga tersentak mendengar pertanyaan Udayana.

“Hamba, Pukulun.”

“Apakah kau menerima pinangan ini?”

Serta merta memerah kulit wajah Airlangga. Ada perasaan malu yang membekap lelaki belia itu. Pada sisi lain perasaannya, ada kebanggaan menerima sebuah petualangan hidup. Iya, pinangan yang bagi Airlangga bukan hanya akan membawanya pergi meninggalkan negeri kelahirannya, Bedahulu di Bali  Dwipa. Tetapi juga akan membuka lembaran hidup baru sebagai penguasa negeri Medang Kamulan di tanah Jawa.

“Iya, Pukulun. Jika yang meminang adalah seorang raja sebesar Pukulun Dharmawangsa Teguh, tentu tidak elok hamba menolaknya. Bukan karena iming-iming takhta Medang Kamulan. Tetapi bagi hamba, menyambung ikatan sesama darah daging wangsa Isana, jauh lebih penting.”

“Sungguh mulia hatimu, Anakku,” puji Udayana.

Mahendradatta tersenyum bahagia. Narotama yang menunduk juga tak mampu menyembunyikan perasaan serupa.

Airlangga mengangkat sembah. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa pikirannya sedang diamuk badai kecemasan. Berlintasan bayang-bayang menakutkan tentang takhta Mḍang, negeri yang dilihatnya dalam semadi akan luluh-lantak dan semua penghuninya lampus. (*)

Catatan kaki

  1. Bahasa Jawa: Permaisuri.
  2. Bahasa Jawa: Adinda.
  3. Bahasa Jawa Kuno: Yang Mulia.
  4. Bahasa Jawa Kuno: Dayang.
  5. Bahasa Jawa: Kakak.
  6. Tempat menghadap raja.
  7. Bahasa Jawa: Siap laksanakan.
  8. Bahasa Jawa: Semoga senantiasa selamat dan sejahtera.
  9. Sikap tangan menyembah di depan dada.
  10. Bahasa Jawa: Mohon maaf sebesar-besarnya.
  11. Daun tal (jenis palm, nama ilmiahnya borassus flabellifer).
  12. Bahasa Bali: Paman.
  13. Bahasa Jawa: Aman sentausa, subur makmur.
  14. Analogi Jawa, artinya seperti buah kelapa muda.
  15. Bahasa Jawa Kuno: Juru tulis.
  16. Dupa beraroma harum.
  17. Tempat membakar dupa.
  18. Sikap semadi dengan tangan kanan mengepal, ditopang tangan kiri.
  19. Sapaan kakak perempuan Jawa.

***

سڠ ويسنو تيويكرام

ائيرلڠڬ ترماڠو كمڬاهن كضاتون مدڠ يڠ ببراڤ وكتو لالو ديڤنوهي لاوتن مانوسيا ڤادا ڤست ڤرنيكاهن انق راج، مندادق لڠڠ. سوڽي، سڤرتي سبواه رمه سوووڠ

د اتس توڠڬاڠنڽ، ائيرلڠڬ ماسيه ترڤاكو ديا مرساكن كابوت يڠ تورون داري مبه ڬونوڠ ويليس منلوسوڤ ك تولڠ ڤليڤيسڽ يڠ باسه بركريڠت. ميمڤيكه اكو؟ ادا تومبق بردنتيڠ سايڠ برادو، انته ميليك سياڤ، تتاڤي سواراڽ تيب-تيب هيلڠ. سڤرتي ديساڤو اڠين ڬونوڠ بڬيتو ساج، سوڽي كمبالي

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini