sumber foto asli: pixabay

Bintang

I
Masih lekat dalam ingat dengan erat,
Kala itu senyummu berkilauan,
Lebih terang dari sekitar,
Indah menawan.
Bersinar dengan lainnya,
Tapi kuyakin kau paling terang,
Mengalahkan sang surya yang menghangatkan,
Setiap malam selalu kupandang,
Melihat elok rupamu ciptakan kagum,
Bangkit dari delusi berkepanjangan,
Aku lupa jika aku bulan yang bukan bintang,
Dalam gelap aku bersimbur,
Tak terlihat cahaya terangmu
Tak terjangkau oleh engkau.

II
kilaumu memeranjat netra penggemar,
Lagi-lagi kau tetap terang pada sinarmu,
Menjelma bintang paling bintang,
Aku tertaut runtuh tersudut,
Harap mampu menggapai sisi dirimu,
Tapi kau tetaplah bintang,
Aku kesilauan dalam jarak yang dekat,
Netraku tidak sanggup menahan silau yang menyakitkan,
Aku kalah.

III
Tibalah aku pada ruangku,
Mengobati perih yang tak baik,
Indah yang melukai,
Tiada sesiapa dapat menjangkaunya,
Menguatkan pundak tertatih letih,
Benar-benar ringkih,
Meramu suka dengan bayangmu,
Kembali pada delusi yang menyenangkan,
Mendekap tanya yang tak jua terjawab,
“bisakah bintang kubawa pulang?”

IV
Akulah bulan yang bukan bulan,
Tak mampu terangi bahkan setitik noktah,
Tenggelam dalam gelap tubuh ringkihku
Larut dalam mimpi pada bintang yang kupuja,
Adakah tanya di sana untukku?
Untuk aku yang tetap pada malu tiada tentu,
Menggantung harap yang kelak kutahu ia akan jatuh,
Sejatuh-jatuhnya. Hancur.
Tiada tersisa.

V
Keberadaanku tak terjamah,
Benar-benar tak terjamah.
Mungkin saja tak terpikirkan,
Tak tau entah ada atau tidak,
; bagimu.

Sejak lama sudah kuduga,
Namun keras kepala selalu meronta minta didengar,
Setelah kupaksa mendekat,
Benar-benar tak tentu arah,
Ia terjerembab tak tau bangkit,
Bentuknya menyedihkan,
Terlalu memalukan.

Adakah tangan yang sudi menjabatnya?
Mengulur asa membangun senyumnya,
Adakah hati yang sudi mendengarnya?
Mencipta suka mengobati luka.

Februari, 2022

Artikel sebelumnyaPuisi: Kau Tak Semena-Mena Muncul di Pelataran
Artikel berikutnyaPuisi: Bangkit
Lahir di Tanjungpinang pada dua hari pertama di bulan terakhir di tahun 2001, ia tergila-gila pada aroma tanah seusai hujan. Karya tunggal pertamanya diberi nama Kolase Dikau, kumpulan tulisan lusuh tentang patah hati paling menyenangkan yang pernah ia lalui. Tulisannya juga pernah dimuat pada beberapa media daring dan antologi bersama. Beliau kini sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu Sekolah Tinggi di Pekanbaru. Beliau senang berbincang, bisa dihubungi melalui: No. Gawai: 085264876992 Alamat: Jalan beringin (Air Hitam), Perum Jala Utama Beringin tahap IV Blok FF No.05, Kel. Sungai Sibam, Kec. Payung Sekaki, Pekanbaru, Riau.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini