Riausastra.com – Aku duduk sambil menelan bulat-bulat setiap cecar, tepatnya di teras rumahmu yang warna dindingnya mulai pudar. Asal cecar itu dari keluhanmu yang lagi-lagi turun, persis seperti hujan yang tak pilih-pilih musim untuk berjatuhan.
“Kamu itu dengar Papa bicara atau nggak, sih? Sesak dada Papa ini bicara panjang lebar, tarik napas juga susah karena udaranya jelek, ketambahan kamu malah lagaknya mirip orang budek dan gagu,” sepahmu kembali dengan lugas, seakan udara lebih berdosa ketimbang kotak-kotak kretekmu yang telah tandas.
Bagaimana denganku? Ah, aku sudah terbiasa atas bilah tajam sebuah kata-kata, terutama mereka yang lahir dari mulutmu.
Namun, jangan tanya alasanku kini bertahan sedikit lebih lama menemanimu. Semata-mata karena aku hanya ingin memastikan sesuatu.
Kalau boleh jujur, melirik langit merah yang mulai pudar lebih menarik ketimbang memperhatikan langkahmu yang tertatih melewati ambang pintu. Aku sudah hafal dengan alurnya, yaitu langkahmu akan tertuju pada kursi kayu, lalu bunyi reyotnya akan kalah dengan helaan napasmu yang sengau, dan keluhanmu soal penyakit di paru-parumu mulai terlantun.
Aku mengimani prinsip bahwa mengeluh adalah hal yang manusiawi. Kendati demikian, denganmu aku menyadari bila mengeluh secara berlebih, berulang kali, dan merangkak jadi rutinitas adalah suatu kebejatan yang kelewat identik.
“Papa lagi bicara, tapi kamu malah bengong! Kurang ajar memang anak ini. Sejak punya uang sendiri jadi besar kepala!”
“Bukan gitu, Pa,” sahutku pada akhirnya. “Aku cuma lagi mikir—”
“Jangan bantah! Jangan bantah! Jangan bantah!” teriakmu berulang kali, sesuatu yang menurutku aneh, sampai-sampai aku tergidik akibat tingginya aksentuasimu. “Jangan bantah kamu!”
“Nanti waktu aku diam, Papa bilang aku gagu dan budek. Aku harus apa, Pa?”
“Dasar kurang ajar!” Bibirmu bergetar ketika memuntahkan kata-kata penuh cinta. Dari sudut pandang ini, aku bahkan bisa melihat wajahmu yang memerah oleh geram. “Kenapa bisa ada anak perempuan sekurang ajar kamu? Laki-laki mana yang bisa suka sama perempuan seperti kamu? Ya, Tuhan! Ya, Tuhan!” pekikmu pecah, menyerukan nama Tuhan berkali-kali, seakan Tuhan akan turun di penghujung senja, lalu menyucikan diriku yang menurutmu lebih kotor ketimbang TBC pada paru-parumu.
Dahulu, ketika terjebak pada situasi ini, rongga dadaku akan mulai mengencang. Aku ingat sensasi saat melihat sesal yang berwarna abu-abu. Dia muncul setiap kali hardikmu melesat dan mengacaukan cara kepalaku berpikir. Setelah itu, aku akan percaya bahwa diriku anak yang kurang ajar, lalu aku menyesal karena membuatmu memiliki anak sepertiku.
Di masa lalu, aku masih ingat saat dirimu menegaskan bila tak menyukai anak yang cengeng, jadi aku tidak menangis meski permen karet menempel di rambut indahku saat kecil. Oh, termasuk saat sosokmu membuatku pernah percaya jika laki-laki di sepenjuru dunia sejatinya punya tabiat serupa dirimu.
Sayangnya, aku telah tumbuh dari makan nasi dengan lauk air mata. Keterbiasaan ini membuatku besar dengan kepala yang bekerja lembur agar hati tak babak belur. Jadi, sekarang caramu membidik hulu hatiku tak lagi begitu ampuh.
“Papa sayang sama aku nggak, sih?” celetukku menyela helaian maki yang sedang bibirmu rajut, sebab sekilas kau tampak hendak bersaing dengan lantunan azan yang sudah mengudara. Selain itu, akhirnya kulepas juga pertanyaan yang liar berlarian dalam kepala dan menjadi alasanku sejak tadi bertahan.
Sejujurnya, aku sungguh sudah tahu jawabannya. Aku hanya ingin memastikan, apakah kini aku tidak akan terluka setelah tumbuh lebih dewasa? Sebab dahulu, aku akan gemetar hanya dengan bibirmu yang baru terbuka setengah.
Sekarang aku berusia dua puluh tiga tahun. Tubuhku tinggi semampai, bahkan melebihi jangkungnya tubuhmu yang sudah membungkuk. Aku tidak lagi berambut panjang, bukan karena takut pada permen karet, tetapi aku belajar untuk merawat tiap helainya dan pilu bila rontok tak kira-kira. Aku sudah bisa membedakan yang baik dan buruk walaupun mereka tak berwarna. Aku sudah tumbuh.
Namun, pada sekon berikutnya, tahu-tahu pipiku sudah memanas dan dengung memecahkan rungu. Garis-garis tanganmu kembali memahat karya pada cantiknya wajahku. Hanya butuh setengah detik kemudian untuk aku menyadari sesuatu, yaitu rasa sakit mulai mengakuisisi pipiku dan jawabanmu benar-benar sesuai ekspektasiku. Rupanya, aku masih terluka dan tidak baik-baik saja.
***
بربينچڠ سومبڠ
اكو دودوق سمبيل منلن بولت-بولت ستياڤ چچر، تڤتڽ د ترس رومهمو يڠ ورن دينديڠڽ مولاي ڤودر. اسل چچر إتو داري كلوهنمو يڠ لاڬي-لاڬي تورون، ڤرسيس سڤرتي هوجن يڠ تق ڤيليه-ڤيليه موسيم اونتوق برجاتوهن
“كامو إني دڠر ڤاڤ بيچارا ڬق، سيه؟ سسق دادا ڤاڤ إني بيچارا ڤنجڠ لبر، تاريك ناڤس جوڬ سوسه كارن اودراڽ جلك، كتمباهن كامو ماله لاڬكڽ ميريڤ اورڠ بودك دان ڬاڬو،” سڤهمو كمبالي دڠن لوڬس، سئكن اودارا لبيه بردوس كتيمبڠ كوتق-كوتق كرتكمو يڠ تله تندس























