sumber foto asli: pixabay

Seorang Nelayan Miskin di Tepian Sungai Kampar

Angin sore bertiup kencang. Memecah arus sungai mengalir perlahan. Pepohonan kelapa dan durian bergoyang. Di sepanjang tepian bagai mengusik ketenangan. Namun, seorang lelaki tua telanjang dada masih bersabar mencari ikan. Di atas sampan kayu didayung ke hilir perairan. Berulang kali tarik ulur jala ditebarkan. Karena dengan demikian itulah hidupnya digantungkan.

Menjelang maghrib menghulu ia kembali pulang. Wajah lelah dan kulit mengkilat terbakar legam. Dan walau hanya satu-dua ekor ikan ia dapatkan. Cukuplah itu jadi teman nasi untuk makan malam. Diceburkannya tubuh ke sungai setelah sampan ditambatkan. Bersihkan badan sekalian berwudhu jelang adzan berkumandang. Seorang diri ia tinggal dalam gubuk kayu di tebing perairan. Tempat istirah dan juga bersujud ia sembahyang.

Setelah itu, dalam cahaya dua dian menerangi petang. Duduk ia memperbaiki jala koyak berlubang. Sembari menunggu menanak nasi hingga matang. Untuk menikmati ikan hasil tangkapan tadi siang.

Semakin larut malam matanya tak kuat bertahan. Dihantarkannya tubuh berbaring beralas lusuh tikar pandan. Menyemai mimpi tentang istri dan anaknya yang lama hilang. Dihempas ombak perahunya pecah dihantam gelombang.

Desember 2021

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini