Riausastra.com – Kegiatan Penjemputan Mahasiswa Magang PBSI FKIP Universitas Islam Riau (UIR) dan Bedah Buku novel Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Keris karya Rida K. Liamsi berlangsung meriah dan penuh antusias di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru, Ahad (21/6/2026).

Kegiatan yang merupakan kolaborasi Riau Sastra, TBM Azzamy Library, TBM Tauladan Syafitri, dan TBM Cahaya Rumah ini dihadiri oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, S.S., M.Hum., perwakilan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru, Ketua LAM Riau Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil, para sastrawan, pegiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Turut hadir pula dosen pembimbing mahasiswa magang PBSI FKIP UIR, Dr. Wilda Srihastuty Handayani Piliang, S.Pd., M.Pd. Sementara dari kalangan sastrawan hadir Fachrunnas MA Jabbar, Mostamir Thalib, Dr. Bambang Karyawan, dan Marhalim Zaini, bersama sejumlah pengurus dan anggota komunitas sastra serta literasi di Provinsi Riau.

Acara bedah buku menghadirkan empat narasumber, yaitu Dr. Husnu Abadi, S.H., M.Hum., Dr. Roziah, S.Pd., M.A., Murparsaulian, dan Willy Ana dengan moderator Fitri Wulandari, S.Pd., M.Pd. Sementara itu, penulis novel, Datuk Rida K Liamsi, hadir secara langsung dan berbagi cerita mengenai proses kreatif serta latar sejarah yang melahirkan novel tersebut.

Dalam pemaparannya, Datuk Rida K Liamsi menjelaskan bahwa Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Keris merupakan novel sejarah kedelapannya. Novel ini mengangkat pergulatan politik yang terjadi antara kelompok Melayu dan Bugis pada masa Kesultanan Riau, Johor, Pahang, dan Lingga. Menurutnya, tokoh Tun Dalam digambarkan sebagai sosok yang kompleks dan kontroversial, namun memiliki peran penting sebagai penyeimbang dalam dinamika politik kerajaan Melayu pada masanya.

Para pembedah menilai bahwa novel Seandainya Tun Dalam Tidak Mencabut Keris tidak hanya hadir sebagai sebuah karya sastra yang kaya akan imajinasi dan nilai estetika, tetapi juga menjadi media yang penting untuk memahami sejarah dan dinamika politik di kawasan Melayu. Melalui alur cerita dan tokoh-tokohnya, novel ini membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal lebih dekat perjalanan sejarah, pergulatan kekuasaan, serta hubungan antara kelompok Melayu dan Bugis yang pernah mewarnai perjalanan Kesultanan Riau, Johor, Pahang, dan Lingga.

Menurut para narasumber, kekuatan novel karya Rida K. Liamsi ini terletak pada kemampuannya merangkai fakta sejarah dengan unsur sastra secara menarik, sehingga pembaca tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai identitas, peradaban, dan warisan sejarah Melayu yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Diskusi semakin menarik ketika pembahasan beralih pada desain sampul buku. Perancang sampul, Willy Ana, mengungkapkan bahwa setiap unsur visual yang terdapat pada cover dirancang dengan pertimbangan filosofis yang erat kaitannya dengan isi cerita.

Ia menjelaskan bahwa ilustrasi peta menggambarkan jejak sejarah dan wilayah peradaban Melayu, sedangkan keris menjadi simbol gejolak emosi dan konflik kekuasaan. Adapun burung gagak dipilih sebagai lambang dendam yang hadir dalam pergulatan politik yang menjadi inti cerita.

Menurut Willy Ana, gagak bukan sekadar simbol kemarahan, melainkan perlambang dendam yang disertai kecerdasan dan perhitungan.

“Gagak adalah simbol dendam yang berpikir, bukan dendam yang lahir dari emosi sesaat,” ungkapnya, yang kemudian mendapat perhatian dan apresiasi dari para peserta.

Ketua Panitia, Azhar Gultom, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi terhadap karya sastra, tetapi juga menjadi wadah mempererat hubungan antara dunia akademik, komunitas, dan masyarakat dalam mengembangkan budaya literasi.

Selain prosesi penjemputan mahasiswa magang PBSI FKIP UIR, acara juga dimeriahkan dengan empat penampilan mahasiswa yang menampilkan kreativitas dan hasil pembelajaran selama menjalani program magang di Riau Sastra, TBM Azzamy Library, TBM Tauladan Syafitri, dan TBM Cahaya Rumah.

Kegiatan yang diikuti sekitar 100 peserta ini berlangsung dengan hangat dan penuh semangat, menegaskan bahwa sastra dan literasi tetap menjadi ruang penting untuk merawat sejarah, budaya, dan identitas Melayu di tengah perkembangan zaman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini