Puisi: Waktu Kehidupan
Waktu Kehidupan
berjalan melewati hari-hari lelahmengeja satu per satu langkahketika menaiki anak-anak tangga kehidupan.waktu terus mengejar membuat kita terhenti di ujung jalan
denting jam mengingatkan kitaakan...
Puisi: Di Kamar Sunyi Menelusuri Pemilik Hati
Di Kamar Sunyi Menelusuri Pemilik Hati
kamar ini terlalu sempituntuk memikirkan masalahku yang bertebaran luaslangit-langit sepi meredam bising amarahdinding lusuh dan cat mengelupas,seperti hari-hari yang...
Puisi: Lelaki Dalam Tunjuk Ajar Melayu
Lelaki Dalam Tunjuk Ajar Melayu
Garis keriput retak di wajah lelakiyang mengendong khazanah pada petang lengangmenggambarkan riak di ranting bulan sabittenggelam diteluk matamu
Lelaki itu telah...
Puisi: Mahda di Langit Senja
Mahda di Langit Senja
Dua detik aku terlena dengan goresan putih yg menari disanaLima detik aku tersadarJika sketsa di balik goresan putih itu adalah dirimuBerdiri...
Puisi: Lukah Gilo
Lukah Gilo
Mantra telah ditiupkan ke Lukah GiloYang mengenakan seperangkat pakaianAsap kemenyan menyebar ke udaraBerpadu dalam pantun yang dilantunkanPawang lukah memegang sebilah rotanMemanggil jihin dengan...
Puisi: Senja di Pelabuhan Sri Bintan Pura
Senja di Pelabuhan Sri Bintan Pura
Hanya senja diam-diam tertambat di dermaga matamudi kejauhan seseorang mengikatnya ragu-ragusesekali aku mengingatmu, seakan kau rebahdibahuku yang lelah dengan...
Puisi: Ekologi Menyatukan Budaya Riau
Ekologi Menyatukan Budaya Riau
Gambut menjadi lahan utama ekologiMenelusuri pulau – pulau indah nan elok rupanyaMeniti sebuah rencana di kawasan Balai Besar KonservasiRiau serius akan...
Puisi: Minta Kesembuhan
Minta Kesembuhan
Diantara fajar yang sedang rintikDiantara desiran ombak yang mengaungKutadahkan tanganMengemis kepada Sang Pencipta
“Tuhan,Engkau-lah pemilik segala harapPemilik segala kasihDan pemilik segala cinta
Lindungilah aku dari...
Puisi: Meramu Sajak Duka
Meramu Sajak Duka
Dalam sajak ini aku meramu lukaRempahnya sejumput diksi tawaSecawan air mata mendidihdan satu sendok teh kecewaAku aduk hingga larut seperti kenanganMengepul penuhi...
Puisi: Seorang Nelayan Miskin di Tepian Sungai Kampar
Seorang Nelayan Miskin di Tepian Sungai Kampar
Angin sore bertiup kencang. Memecah arus sungai mengalir perlahan. Pepohonan kelapa dan durian bergoyang. Di sepanjang tepian bagai...




























