gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Saat cahaya matahari mulai memanjat kaki langit, aku tiba di Kelekak Ayah yang berada tak jauh dari rumah kami. Tepatnya di ujung Kampung Kami.

Dengan berjalan kaki, Kelekak milik Ayah  itu dapat  ditempuh dalam waktu sekitar 20 hingga 30 menit. Kalau pakai kendaraan bermotor, cuma dalam hitungan menit. 

Sudah lama aku tidak melihat rimbunnya beragam jenis pohon yang berkehidupan di Kelekak Ayah. Mungkin, semenjak aku mulai kuliah di Kota. Dari hasil Kelekak Ayah, aku bisa kuliah di Kota.

Bagi warga Kampung Kami, Kelekak adalah hutan kecil di sekitar Kampung yang digunakan warga Kampung Kami untuk berkebun.

Beragam jenis pohon berkehidupan di Kelekak. Pohon-pohon besar dan rimbun yang menghuni Kelekak,  bukan hanya memberikan manfaat bagi manusia, tetapi memberikan manfaat bagi makhluk hidup lainnya.

Kelekak adalah rumah yang didiami beragam jenis pohon berusia puluhan hingga ratusan tahun, yang dilestarikan masyarakat Kampung Kami secara turun temurun. Durian, duku, manggis, nangka, cempedak, dan petai hidup berdampingan dengan mesra di sana.

Tidak heran saat musim buah-buahan tiba, aku dan keluarga memetik buah-buahan yang sedang berbuah di Kelekak. 

Terkadang, panenan hasil dari Kelekak Ayah  kami melimpah ruah. Para tengkulak berdatangan ke Kelekak Ayah untuk membelinya. Hasil dari penghuni Kelekak Ayah bisa untuk hidup selama setahun. Termasuk membiayai kuliahku.

Kelekak Ayah tergolong cukup luas. Tak heran  beragam jenis pohon berkehidupan di Kelekak orang tuaku.  Pohon-pohon yang berada di Kelekak  bukan hanya memberikan manfaat bagi keluarga kami semata. 

” Kelekak berfungsi menjaga  resapan air dan penyedia oksigen,” ungkap Ayah.

” Buah  yang ada di kelekak bukan hanya untuk kita saja. Buah yang ada di dalam Kelekak  tersebut dapat dikonsumsi sejumlah jenis burung, kelalawar, tupai, bahkan monyet,” lanjut Ayah. 

Aku terdiam mendengar penjelasan Ayah. Bak narasi para Menteri yang sering ku dengar di televisi.

Dulunya, setiap warga Kampung Kami memiliki Kelekak. Seiring perjalanan waktu dan menopang kehidupan yang makin konsumtif, Kelekak di Kampung Kami semakin menyusut. Bahkan bisa dihitung dengan jari warga Kampung Kami yang masih memiliki Kelekak. Salah satunya milik orang tua kami.

Milik Ayah.

Kini Kelekak milik warga Kampung Kami menjelma menjadi perkebunan sawit milik para Taipan Kota. Hamparan sawit membentang luas. Menghiasi Kampung Kami.

Ayah sudah mendengar berita tentang banyaknya  warga Kampung Kami yang telah menjual Kelekak milik mereka kepada Taipan dari Kota. 

Kelekak milik warga dibeli dengan harga mahal oleh Taipan dari Kota.  Berbekal nutrisi materi, kini orang-orang kampung Kami bisa memiliki sepeda motor hingga perabotan rumah tangga ala orang Kota. Kursi mahal. Tipi ukuran besar menghiasi rumah warga Kampung Kami. Bahkan banyak warga Kampung Kami yang memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor. Saat parkir di halaman rumah warga, bak showroom.

“Aku tahu,  banyak warga Kampung kita telah menjual Kelekak mereka kepada Bos-bos kota itu,” ungkap Ayah.

Ayah  lalu menceritakan bahwa Kelekak yang kini dikelolanya adalah warisan dari generasi sebelumnya.

“Dulu yang mengelola Kelekak ini adalah buyutmu. Lalu diwariskan kepada Kakekmu. Lalu diwariskan kepada Ayah dengan tetap memperhatikan keluarga besar  Kakekmu. Makanya, setiap Kelekak panen,  ponakanmu mendapat hak pula. Tak terkecuali tetangga kita,’ terang Ayah. 

Aku cuma manggut-manggut mendengar cerita Ayah.

Ayah terkadang menyebut Kelekak dengan sebutan spektakuler bernada positif . Seperti paru-paru dunia.

Terkadang Ayah menyebut Kelekak adalah zamrud khatulistiwa karena hijaunya yang sarat dengan keanekaragaman hayati. 

Kepada para teman-temannya, Ayah selalu mengatakan Kelekak memiliki manfaat jangka panjang yang tidak terkira dan tidak dapat dinilai dengan uang.

“Apalagi bila  kita biarkan kayu yang ada dalam kelekak berdiri kokoh dan tegar. Tidak diganggu.  Bisa menjadi penjaga kita,” ucap Ayah.

“Coba kita dengarkan suara riang gembira dari penghuni  Kelekak. Suara satwa yang merdu dan berpadu, sangat indahkan? Bagaikan musik orkestra,” lanjut Ayah.

Teman-temannya terdiam mendengar celoteh Ayah.

“Sekarang kita sudah sangat  jarang mendengar riuhan suara satwa yang beragam yang menghuni Kelekak di Kampung ini. Bahkan kini  sudah semakin jarang kita melihat binatang-binatang menampakan rupa. Mereka entah kemana. Hilang di rimba yang tak lagi raya,” sambung Ayah.

Kembali teman-teman Ayah diam. Membisu. Sejurus kemudian, keheningan tiba. Ada rasa sesal yang menggeluti jiwa mereka. Bunga-bunga penyesalan tumbuh dalam jiwa mereka. 

Ibarat pepatah sesal kemudian, memang tak berguna. Nasi sudah jadi bubur. Kelekak  sudah berpindah tangan. Ke tangan Taipan Kota.

Pernah, pada suatu malam, usai Ayah pulang dari masjid, aku bertanya kenapa Ayah tidak menjual kelekaknya.

Ayah cuma tersenyum kecil, mendengar pertanyaan aku.

” Harga yang ditawarkan bos dari Kota itukan cukup tinggi, Yah.  Kita bisa kaya ,” ujarku.

Kembali Ayah tersenyum kecil.

Beberapa waktu lalu, seorang Taipan dari Kota memang pernah mendatangi rumah kami. Tujuannya  ingin membeli Kelekak milik Ayah.

Aku sempat mendengar pembicaraan mereka. Aku sungguh kaget saat mendengar angka yang disebutkan Taipan dari Kota itu.

“Saya ingin membeli Kelekak Bapak. Saya beli  Kelekak Bapak seharga lima ratus  juta rupiah. Kami bayar sekarang juga. Itu uangnya,” kata Taipan dari Kota sembari menunjukkan tas besar di sampingnya.

Ayah cuma tersenyum mendengar tawaran menggiurkan dari Taipan dari Kota itu.

“Saya belum berniat untuk menjual Kelekak itu,” jawab Ayah dengan suara intonasi tenang.

Taipan dari Kota itu pun pulang dengan tangan hampa. Balik badan. Wajahnya lesu. Padahal saat datang ke rumah Ayah, wajahnya sumringah dengan membawa tas besar yang berisikan duit.

Beberapa orang kaki tangan Taipan dari Kota pun menemui aku. Merayu aku. Mempropaganda aku.

“Bujuk lah Ayahmu itu agar mau menjual Kelekak itu sehingga kalian semua sebagai ahli warisnya bisa kaya raya dan hidup senang,” bujuk seorang kaki tangan Bos Kota kepadaku.

“Kelekak  itu lebih mahal harganya dari harga diri Ayahmu sendiri,” sambung seorang kaki tangan Bos Kota yang sudah lama memburu Kelekak milik Ayah namun selalu ditolak oleh Ayah.

”Sekali lagi mulutmu bicara seperti itu, kau akan mati . Angkat kalian dari rumah ini. Itu kalau kalian masih mau melihat indahnya rembulan malam ini,” 

Aku  menggertak kaki tangan Bos Kota yang sudah merendahkan harga diri Ayahku. Seketika wajah mereka bak kain kafan. 

Ketika usia Ayah memasuki angka 80 tahun, Ayah tampaknya mulai berkeyakinan, ajalnya tinggal menghitung waktu saja. Izrail sudah menghampiri. 

Ayah tampak diliputi sebuah perasaan yang menandakan bahwa hari itu adalah gilirannya yang akan mati. 

Burung liar sudah seminggu ini hinggap di pohon besar yang tak jauh dari rumah Ayah  Aroma kematian semerbak.

Melihat tubuh rentanya yang tergolek lemah dan ringkih, terbaring di ranjang tua peninggalan kompeni, barangkali tak sampai sekilo beras, Ayah sudah berangkat ke alam baka.

Ayah tampaknya sadar bahwa kematian amat akrab dengan manusia. 

Semua anaknya dikumpulkannya. Keluarga besarnya pun datang.

Ayah memandang kami semua satu per satu dari ranjang tuanya.

“Sebagai orang tua dan keluarga, aku berwasiat untuk mewariskan Kelekak milik keluarga besar kita  itu untuk Kampung Kita. Untuk kepentingan warga Kampung kita. Mohon dijaga. Itu adalah Kelekak terakhir di Kampung kita.  Itu adalah paru-paru dunia. Zamrud Khatulistiwa,” ungkapnya dengan nada suara terbata seiring kepalanya tergolek.

Narasi religius keluar dari mulut kami, para anaknya dan keluarga besar Ayah. Tiba-tiba jantungku berdegub kencang tidak beraturan. 

Pikiranku melayang. Teringat dengan duit Taipan dari Kota yang telah ku terima sebagai panjar penjualan Kelekak itu. Bahkan sebagian duitnya telah ku belikan motor.

Kepala ku mendadak pusing. Aku ambruk di lantai kamar Ayahku. Suara teriakan menggema. Riuh. 

Setelah itu, aku  tidak tahu lagi, dimana aku berada. Apakah masih di dunia nyata atau dunia lain bersama Ayah?

Catatan :

Kelekak adalah hutan kecil di sekitar kampung yang digunakan untuk berkebun.

***

كلكق تراخير

سائت چهاي متهاري نولاي ممنجت كاكي لاڠيت، اكو تيب د كلكق ايه يڠ برادا تق جاوه داري رومه كامي. تڤتڽ د اوجوڠكمڤوڠ كامي

دڠن برجالن كاكي، كلكق ميليك ايه إتو داڤت ديتمڤوه دالم وكتو سكيتر ٢٠ هيڠڬ ٣٠ منيت. كالاو ڤاكاي كندرائن برموتور، چوم دالم هيتوڠن منيت

سوده لام اكو تيدق مليهت ريمبونڽ براڬم جنيس ڤوهون يڠ بركهيدوڤن د كلكق ايه موڠكين، سمنجق اكو مولاي كولياه د كوتداري هاسي كلكق ايه، اكو بيس كولياه د كوت

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini