sumber asli foto: pixabay

Selembar Kertas

Sewaktu ia mematikan radio,

Terdengar tangki-tangki koin itu bereservoir dari terowongan gelap

Ternyata waktu telah menyuntikkan penyesalan yang amat menua

Tentu aku harus beranjak membawa tubuhku kepada penemuan baru

Seketika, ia pun menatapku yang mulai keriput

Dibukanya kancing-kancing liar yang berserakan

Terdengar hal memalukan keluar dari dalam rupiah

Namun di ujung ruang, ia mulai mengkhawatirkan waktu

Pencaharianku menghasilkan pundi-pundi rupiah

Lantas, aku salah apa?

Melihat selembar kertas dan sekantong koin bertuliskan rupiah

Salahku dimana?

Aku terlahir di tanah ini,

Terjadinya inflasi di masa pandemi bukanlah salah pertiwi

Lantas apa yang harus dicari?

Dalam sebuah fase, jemariku merogoh saku dan kulihat selembar kertas di tanganku sudah lusuh dan kumuh, banyak peminat yang berinteraksi di lembaran tipisnya

Dinamika waktu sekarang sedang menyetor cendramata rupiah

Rupiah tiada harga, jatuh bangun dia tidak berupa

Lantas apakah daya dan upaya?

Kuterawang selembar rupiah di tanganku, berharap menjadi ganda

Kembali ia berinteraksi dengan diri

Ia berkata kepada rupiah tentang cinta

Tapi, mungkinkah ia mencintai rupiah

Sedang kondisinya tak tentu arah

Artikel sebelumnyaPuisi: Tumbuh
Artikel berikutnyaPuisi: Songket
Perempuan yang memiliki nama panggilan Kasih adalah seorang penyuka hal kebatinan dan alumnus Community Pena Terbang (Competer). Karya-karya puisinya pernah dimuat di Expresi Riau Pos, Detak Pekanbaru, Sultrakini.com dan beberapa antologi. Kini ia sedang memerangi diri untuk menulis lagi. Sebab rasa yang ia terima ingin berpacu keluar melalui kata-kata.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini