Riausastra.com – Sebuah judul dalam karya sastra sering kali tidak hadir tanpa alasan. Ia menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan yang tersembunyi di balik cerita. Hal tersebut tampak dalam novel Salah Asuhan karya Abdul Muis. Jika dibaca sekilas, novel ini dapat dipandang sebagai kisah percintaan antara Hanafi, seorang pribumi, dengan Corrie, seorang perempuan keturunan Eropa. Namun, apabila dibaca lebih jauh, persoalan yang dihadirkan Abdul Muis jauh lebih kompleks. Di dalamnya terdapat persoalan keluarga, perjodohan, adat, pendidikan, perbedaan kebudayaan, serta krisis identitas seorang pribumi di tengah pengaruh kehidupan Barat. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: mengapa novel ini diberi judul Salah Asuhan? Siapa yang sebenarnya salah mengasuh, dan siapa yang salah diasuh?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kehidupan Hanafi sejak awal memang berada dalam persimpangan berbagai nilai. Di satu sisi, ia tumbuh sebagai bagian dari keluarga pribumi yang masih memegang hubungan kekerabatan dan kewajiban keluarga. Di sisi lain, pendidikan dan pergaulannya dengan orang-orang Eropa membuatnya semakin dekat dengan cara hidup Barat. Persoalan semakin rumit ketika ibunya menjodohkan Hanafi dengan Rapiah, anak dari saudara laki-laki ibunya. Perjodohan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada keinginan Hanafi, melainkan juga berkaitan dengan hubungan keluarga dan jasa besar yang telah diberikan keluarga Rapiah kepada Hanafi.
Perjodohan Hanafi dan Rapiah: Asuhan yang Berubah Menjadi Kewajiban
Perjodohan Hanafi dan Rapiah menjadi salah satu bagian penting untuk memahami makna Salah Asuhan. Ibu Hanafi ingin agar anaknya menikah dengan Rapiah, yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarganya. Keputusan tersebut berkaitan dengan kedudukan keluarga dan jasa orang yang telah membantu kehidupan Hanafi. Dalam lingkungan keluarga seperti itu, perkawinan bukan hanya persoalan antara dua orang yang saling mencintai. Perkawinan juga dapat menjadi sarana untuk mempertahankan hubungan kekeluargaan, menghormati orang yang berjasa, dan memenuhi harapan keluarga. Karena itu, pilihan ibu Hanafi tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang diyakininya.
Bagi ibunya, mempertemukan Hanafi dengan Rapiah merupakan bentuk tanggung jawab terhadap keluarga. Ada jasa yang harus dihargai dan hubungan kekerabatan yang perlu dipertahankan. Namun, bagi Hanafi, persoalan tersebut berbeda. Ia telah memiliki cara pandang yang semakin jauh dari nilai-nilai yang dipegang keluarganya. Di sinilah terjadi benturan pertama. Ibu Hanafi melihat perkawinan dari sudut kewajiban keluarga, sedangkan Hanafi melihat perkawinan dari sudut pilihan pribadi dan gaya hidup yang telah ia serap dari lingkungan Eropa. Perbedaan cara pandang tersebut membuat perjodohan yang dimaksudkan sebagai bentuk kebaikan keluarga justru menjadi sumber konflik.
Pendidikan dan Pergaulan yang Membentuk Hanafi
Persoalan Hanafi tidak terhenti pada perjodohan. Cara ia memandang Rapiah dan lingkungan pribumi juga menunjukkan adanya perubahan dalam dirinya. Pendidikan dan pergaulannya membuat Hanafi semakin dekat dengan kehidupan orang Eropa. Ia bahkan menunjukkan sikap merendahkan terhadap orang-orang sebangsanya sendiri. Hal tersebut menjadi salah satu inti persoalan dalam novel. Hanafi merupakan seorang pribumi, tetapi ia tidak lagi merasa nyaman dengan identitas tersebut. Ia menganggap kehidupan Eropa lebih sesuai dengan dirinya dan berusaha menjauh dari kebiasaan masyarakat pribumi. Pendidikan yang diterimanya sebenarnya dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan.
Namun, persoalannya terletak pada bagaimana pengetahuan dan lingkungan tersebut diterima oleh Hanafi. Ia tidak menjadikan pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk memahami kebudayaan lain sekaligus mengenali kebudayaannya sendiri. Sebaliknya, ia menjadikan kebudayaan Barat sebagai ukuran untuk menilai dirinya dan masyarakat asalnya. Akibatnya, Hanafi mengalami apa yang dapat disebut sebagai krisis identitas. Ia berada di antara dua kebudayaan. Ia lahir sebagai pribumi, tetapi ingin menjalani kehidupan seperti orang Eropa. Ia memiliki hubungan dengan keluarga dan lingkungan pribumi, tetapi justru merasa asing terhadap kehidupan tersebut. Dengan demikian, “salah asuhan” tidak hanya dapat dipahami sebagai kesalahan dalam merawat atau mendidik seorang anak. Istilah tersebut juga dapat dibaca sebagai kegagalan dalam membentuk identitas seseorang ketika pendidikan dan lingkungan tidak menghasilkan keseimbangan antara keterbukaan terhadap budaya lain dan kesadaran terhadap budaya sendiri.
Corrie dan Puncak Benturan Budaya
Krisis identitas Hanafi semakin jelas ketika ia mencintai Corrie. Corrie merupakan perempuan keturunan Eropa yang menjadi bagian dari dunia yang selama ini dikagumi Hanafi. Keinginan Hanafi untuk menikahi Corrie bukan sekadar persoalan cinta. Hubungan tersebut memperlihatkan keinginannya untuk semakin dekat dengan kehidupan Eropa yang ia anggap lebih tinggi. Akan tetapi, keinginan tersebut berhadapan dengan kenyataan bahwa masyarakat pada masa itu memiliki batas sosial dan budaya yang kuat. Hubungan Hanafi dan Corrie mendapatkan penolakan dari keluarga. Ayah Corrie tidak menyetujui hubungan tersebut, sementara ibu Hanafi juga sebelumnya menghendaki agar Hanafi menikah dengan Rapiah. Hanafi akhirnya berada di tengah-tengah dua tuntutan yang bertentangan: tuntutan keluarga dan identitas pribuminya di satu sisi, serta keinginannya untuk hidup dalam lingkungan Eropa di sisi lain.
Persoalan tersebut memperlihatkan bahwa Hanafi tidak benar-benar bebas dari identitas asalnya. Ia ingin menjadi bagian dari dunia Eropa, tetapi dunia tersebut juga tidak serta-merta menerimanya sebagai bagian yang setara. Pada saat yang sama, ia telah menjauh dari lingkungan pribumi yang sebenarnya merupakan bagian dari dirinya. Hanafi akhirnya berada dalam posisi yang ironis: ia meninggalkan sesuatu yang merupakan bagian dari dirinya demi sesuatu yang belum tentu menerimanya sepenuhnya.
Lalu, Siapa yang Salah Mengasuh?
Pertanyaan tentang siapa yang salah mengasuh Hanafi tidak dapat dijawab dengan hanya menunjuk kepada ibunya. Memang, ibu Hanafi mempunyai peran dalam perjalanan hidup anaknya. Keputusannya menjodohkan Hanafi dengan Rapiah memperlihatkan bagaimana kehendak keluarga dapat ditempatkan di atas kehendak individu. Namun, keputusan tersebut juga lahir dari nilai yang diyakini sang ibu: menghormati keluarga dan membalas jasa orang yang telah membantu Hanafi. Dengan demikian, perjodohan tersebut tidak tepat jika hanya dilihat sebagai bentuk kesalahan seorang ibu. Justru di situlah Abdul Muis memperlihatkan benturan antara nilai keluarga dan pilihan individu.
Di sisi lain, pendidikan dan lingkungan pergaulan Hanafi juga memiliki peran dalam membentuk kepribadiannya. Ia memperoleh pendidikan yang membuka jalan baginya untuk mengenal kehidupan Barat, tetapi proses tersebut tidak membuatnya semakin matang dalam memahami identitasnya. Ia justru memandang rendah masyarakat pribumi. Hanafi pun tidak dapat sepenuhnya ditempatkan sebagai korban. Ia memiliki kehendak dan pilihan sendiri. Sikapnya terhadap orang pribumi dan keinginannya untuk menjalani kehidupan Eropa merupakan bagian dari keputusan yang ia ambil. Karena itu, “salah asuhan” dalam novel ini dapat dipahami sebagai persoalan yang kompleks: ada pengaruh keluarga, pendidikan, lingkungan sosial, kebudayaan, dan pilihan pribadi yang saling berkelindan dalam membentuk Hanafi.
“Salah Asuhan” sebagai Kegagalan Membentuk Identitas
Pada akhirnya, makna Salah Asuhan dapat dilihat lebih luas daripada sekadar persoalan perjodohan Hanafi dan Rapiah. “Asuhan” dalam novel tersebut dapat dipahami sebagai keseluruhan proses yang membentuk Hanafi: keluarga, pendidikan, pergaulan, nilai budaya, dan pengalaman sosialnya. Hanafi menjadi “salah diasuh” karena proses tersebut tidak menghasilkan pribadi yang mampu berdiri secara seimbang di antara dua kebudayaan. Ia justru menyerap kebudayaan Barat dengan cara yang membuatnya merendahkan kebudayaan sendiri.
Di sinilah letak ironi tokoh Hanafi. Ia ingin melepaskan dirinya dari identitas pribumi karena menganggap kehidupan Eropa lebih tinggi. Akan tetapi, keinginannya tersebut tidak serta-merta membuatnya menjadi bagian dari masyarakat Eropa. Ia justru semakin terasing. Sementara itu, perjodohannya dengan Rapiah menunjukkan sisi lain dari persoalan tersebut. Keluarga Hanafi berusaha mempertahankan hubungan kekerabatan dan membalas jasa melalui perkawinan. Akan tetapi, keputusan itu juga memperlihatkan bahwa Hanafi tidak sepenuhnya diberikan ruang untuk menentukan kehidupannya sendiri. Dengan demikian, terdapat dua bentuk “asuhan” yang sama-sama membentuk konflik Hanafi. Di satu sisi, ia dibentuk oleh keluarga dan nilai kekerabatan yang mengikatnya. Disisi lain, ia dibentuk oleh pendidikan dan pergaulan Barat yang membuatnya menjauh dari identitas asalnya. Ketika kedua pengaruh tersebut bertemu, lahirlah konflik yang semakin besar dalam diri Hanafi.
Penutup
Salah Asuhan bukan hanya kisah tentang seorang laki-laki yang mencintai perempuan dari kebudayaan berbeda. Novel Abdul Muis tersebut juga merupakan gambaran tentang seseorang yang kehilangan keseimbangan ketika berhadapan dengan dua dunia kebudayaan. Perjodohan Hanafi dengan Rapiah memperlihatkan kuatnya peran keluarga, hubungan kekerabatan, dan kewajiban untuk membalas jasa. Sementara itu, hubungan Hanafi dengan Corrie memperlihatkan keinginannya untuk mendekati kehidupan Eropa yang telah lama ia kagumi. Kedua persoalan tersebut bertemu dalam diri Hanafi dan melahirkan konflik yang tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga menyangkut identitas dirinya. Karena itu, “salah asuhan” tidak harus dipahami sebagai kesalahan satu orang. Ia merupakan gambaran tentang proses pembentukan manusia yang tidak berhasil menghasilkan keseimbangan antara pendidikan, keluarga, kebudayaan, dan pilihan pribadi. Hanafi adalah seseorang yang salah diasuh, tetapi dalam perkembangannya ia juga ikut memilih jalan yang semakin menjauhkannya dari identitas asal.
Pada akhirnya, pertanyaan “siapa yang salah mengasuh Hanafi?” justru membawa pembaca pada pertanyaan yang lebih besar: apa yang terjadi ketika seseorang mengenal kebudayaan lain tanpa lagi mampu berdamai dengan kebudayaannya sendiri? Melalui Hanafi, Abdul Muis menunjukkan bahwa persoalan identitas tidak selalu muncul karena seseorang kehilangan tempat tinggal. Seseorang dapat tetap berada di tengah masyarakatnya sendiri, tetapi menjadi asing ketika ia tidak lagi mengenali dan menerima bagian dari dirinya yang berasal dari kebudayaan tersebut. Di situlah makna Salah Asuhan menemukan kedalamannya.Catatan penting: untuk versi yang benar-benar siap dikirim ke media sastra, artikel ini sebaiknya kita naikkan satu tingkat lagi dengan memasukkan kutipan-kutipan pendek dari novel sebagai bukti untuk setiap argumen, lalu merapikan bagian tentang hubungan kekerabatan dan perjodohan supaya benar-benar sesuai teks novel. Itu akan membuat tulisanmu terasa sebagai esai kritik sastra, bukan sekadar rangkuman isi novel.
***
سياڤ يڠ ساله مڠاسوه هنافي؟ ڤرجودوهن، بنتورن بوداي، دان كريسيس إدنتيتس دالم نوۋل ساله اسوهن كريا ابدول موئيس
سبواه جودول دالم كريا سسترا سريڠ كالي تيدق هادير تنڤ الاسن. إيا منجادي ڤينتو ماسوق اونتوق ممهامي ڤرسوالن يڠ ترسمبوڽي د ناليك چريت. هل ترسبوت تمڤق دالم نوۋل ساله اسوهن كريا ابدول موئيس. جيك ديباچ سكيلس، نوۋل إني داڤت ديڤندڠ سباڬاي كيسه ڤرچينتائن انتارا هنافي، سئورڠ ڤريبومي، دڠن چوري، سئورڠ ڤرمڤوان كتورونن اروڤ. نامون، اڤابيلا ديباچ لبيه جاوه، ڤرسوالن يڠ ديهاديركن ابدول موئيس جاوه لبيه كومڤلكس. د دالمڽ ترداڤت ڤرسوالن كلوارڬ، ڤرجودوهن، ادت، ڤنديديكن، ڤربدائن كبوديائن، سرت كريسيس إدنتيتس سئورڠ ڤريبومي د تڠه ڤڠاروه كهيدوڤن بارت. ڤرتڽائن يڠ كموديان مونچول اداله: مڠاڤ نوۋل إني ديبري جودول ساله اسوهن؟ سياڤ يڠ سبنرڽ ساله مڠاسوه، دان سياڤ يڠ ساله دياسوه؟






















