gambar hanya ilustrasi. sumber: ai

Riausastra.com – Kunyit biasanya dikenal sebagai bumbu dapur yang membuat masakan berwarna kuning. Namun, bagi sebagian masyarakat Melayu di Pelalawan, Riau, kunyit juga memiliki tempat dalam tradisi pengobatan. Tradisi tersebut dikenal dengan nama Katoguan. Dengan menggunakan kunyit dan doa, pengobatan ini diwariskan dari generasi ke generasi dan masih dikenal di tengah kehidupan masyarakat hingga sekarang.

Katoguan merupakan pengobatan tradisional yang menggunakan doa dan kunyit sebagai media pengobatan. Tradisi ini dipercaya oleh sebagian masyarakat dapat membantu mengatasi beberapa keluhan, seperti sakit kepala, demam, dan tesapo, yaitu kondisi yang dalam kepercayaan setempat dikaitkan dengan ditempeli makhluk halus. Biasanya, pengobatan Katoguan dilakukan dengan bantuan orang tua atau tetua yang mengetahui tata caranya.

Keberadaan Katoguan menjadi salah satu bagian dari pengetahuan tradisional yang masih dikenal oleh masyarakat Melayu di Pelalawan. Penggunaan kunyit yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar juga memperlihatkan bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan alami dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun alat yang digunakan cukup sederhana, pengobatan ini memiliki tahapan tertentu yang perlu diikuti.

Saat melihat proses pengobatan Katoguan, ada beberapa tahapan yang menarik untuk diperhatikan. Pengobatan ini menggunakan dua irisan kecil kunyit yang masih memiliki kulit. Sebelum digunakan, kedua irisan kunyit tersebut dibacakan doa dengan posisi diletakkan di depan mulut dan dijepit menggunakan ibu jari serta telunjuk. Setelah itu, kunyit diletakkan di atas punggung tangan kanan dan diputar mengelilingi tanah sebanyak tiga kali. Selanjutnya, telapak tangan dibalikkan hingga kedua irisan kunyit terjatuh. Posisi kunyit yang jatuh menjadi bagian penting karena menentukan tahapan berikutnya dalam proses pengobatan.

Apabila salah satu irisan kunyit jatuh dalam posisi terlentang, yaitu bagian dalamnya yang berwarna kuning menghadap ke atas, kunyit tersebut akan dibelah menjadi dua dan kedua bagiannya dibuang ke sisi kanan dan kiri. Sementara itu, apabila kunyit jatuh dalam posisi telungkup, yaitu bagian kulitnya menghadap ke atas, kunyit tersebut digunakan untuk dioleskan pada beberapa bagian tubuh dengan menggunakan penanda khusus, seperti dada dan kepala. Setelah itu, kunyit diselipkan di telinga kanan. Dengan demikian, rangkaian pengobatan dilanjutkan sesuai dengan posisi kunyit yang terjatuh.

Namun, terdapat pula ketentuan apabila kedua irisan kunyit terus-menerus jatuh dengan posisi yang sama hingga tiga kali percobaan. Dalam kepercayaan pengobatan Katoguan, keadaan tersebut dianggap sebagai tanda bahwa pengobatan gagal sehingga tidak dapat dilanjutkan atau diulangi kembali.

Dari informasi yang diperoleh, bacaan atau mantra dalam pengobatan Katoguan disebut mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Mantra yang digunakan dahulu perlahan menjadi lebih sederhana, tetapi tahapan pengobatannya masih dipertahankan. Perubahan ini memperlihatkan bahwa tradisi dapat mengalami penyesuaian seiring perkembangan zaman, meskipun sebagian tata caranya tetap diwariskan.

Sebagai seseorang yang berasal dari tanah Melayu, penulis tentu tidak asing dengan pengobatan katoguan. Penulis sendiri pernah mengalaminya. Awalnya, penulis menganggap pengobatan ini hanyalah bagian dari budaya dan kepercayaan yang masih dipegang oleh masyarakat setempat. Namun, setelah merasakan sendiri hasilnya, pandangan penulis mulai berubah. Pengalaman tersebut membuat penulis menyadari bahwa katoguan bukan sekadar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga bagian dari warisan nenek moyang yang masih hidup dan dipercaya oleh masyarakat Melayu hingga saat ini.

Bagi penulis, Katoguan bukan hanya tentang kunyit dan doa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah tradisi tetap hidup di tengah masyarakat. Keberadaannya menarik untuk dilestarikan karena menyimpan cerita tentang cara masyarakat mewariskan kepercayaan dan kebiasaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan mengenal tradisi ini, masyarakat dapat memahami salah satu bagian dari warisan budaya lokal yang masih dikenal hingga sekarang.

***

ڤڠوباتن كاتوڬوان داري ڤللاون وڠ ماسيه برتاهن د تڠه ڤركمباڠن زامن

كوڽيت بياساڽ ديكنل سباڬاي بومبو داڤور يڠ ممبوات مساكن برورن كونيڠ. نامون، باڬي سباڬيان مشراكت ملايو د ڤللاون، رياو، كوڽيت جوڬ مميليكي تمڤت دالم تراديسي ڤڠوباتن. تراديسي ترسبوت ديكنل دڠن نام كاتوڬوان. دڠن مڠڬوناكن كوڽيت دان دوع، ڤڠوباتن إني ديواريسكن داري ڬنراسي ك ڬنراسي دان ماسيه ديكنل د تڠه كهيدوڤن مشراكت هيڠڬ سكارڠ

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini