Riausastra.com – Banyak orang mengira bahwa setelah Soekarno dan Hatta membacakan teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945, Indonesia langsung hidup damai. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Tahun-tahun awal setelah merdeka justru menjadi masa yang berat, karena Belanda kembali datang dengan kekuatan militernya untuk merebut lagi tanah air yang baru saja merdeka. Masa penuh gejolak ini digambarkan dengan baik oleh Buya Hamka dalam novelnya yang berjudul Menunggu Beduk Berbunyi. Lewat novel yang terbit pertama kali tahun 1950 ini, Hamka menunjukkan bahwa perang bukan cuma soal angkat senjata, tapi juga soal bagaimana politik bisa memecah belah sebuah bangsa.
Kalau ditelusuri, konflik Republik dan Federalis yang ada dalam novel ini sebenarnya berakar dari perbedaan pendapat yang sudah muncul jauh sebelumnya, yaitu antara Soekarno dan Mohammad Hatta saat sidang BPUPKI tahun 1945. Waktu ditanya apa beda dirinya dengan Hatta, Soekarno pernah menjawab singkat bahwa dirinya seorang unitaris, sedangkan Hatta seorang federalis (Salam dalam Republika, 2017). Hatta lebih memilih bentuk negara federal karena melihat negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet, dan menurutnya bentuk ini lebih cocok untuk menyatukan masyarakat Indonesia yang beragam. Sementara itu, Soekarno lebih memilih bentuk negara kesatuan karena dianggap lebih kuat secara politik dan militer dalam menghadapi ancaman penjajah yang ingin kembali berkuasa. Meski berbeda pendapat, akhirnya mereka sepakat lewat musyawarah BPUPKI pada 29 Mei 1945 bahwa Indonesia berbentuk negara kesatuan, dan Hatta tetap menjalankan keputusan itu walaupun pandangan pribadinya berbeda.
Latar cerita novel ini sendiri berada di tahun 1948-1949, tepatnya saat Agresi Militer Belanda II. Pada masa itu, Belanda berhasil menduduki beberapa kota penting, termasuk Bukittinggi di Sumatra Barat yang jadi latar tempat cerita. Untuk bisa berkuasa lagi, Belanda tidak hanya mengandalkan senjata, tapi juga memakai taktik politik pecah belah (devide et impera). Mereka membangun pemerintahan-pemerintahan lokal dan membentuk negara berbentuk federasi dengan tujuan melemahkan Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta. Strategi inilah yang akhirnya membuat masyarakat terbelah menjadi dua kubu yang saling bermusuhan, yaitu kaum Republik dan kaum Federalis.
Dalam novel ini, Hamka menggambarkan dua pilihan hidup itu dengan sangat manusiawi. Di satu sisi ada kaum Republik, yaitu orang-orang yang tetap setia pada Proklamasi 1945 dan menolak bekerja sama dengan Belanda. Tokoh muda seperti Yusuf digambarkan rela meninggalkan hidup nyaman di kota untuk masuk hutan dan bergerilya demi mempertahankan harga diri bangsa. Di sisi lain ada kaum Federalis, yaitu orang-orang yang mau atau terpaksa bekerja di pemerintahan bentukan Belanda. Tokoh utama novel ini, Tuan Sharif, mewakili kelompok tersebut. Ia adalah mantan pegawai pemerintah Republik yang, ketika kotanya diduduki Belanda dan ekonomi lumpuh total, dihadapkan pada pilihan yang sangat berat: tetap idealis tapi membiarkan keluarganya kelaparan, atau bekerja untuk Belanda demi menghidupi keluarganya. Akhirnya, demi anak dan istrinya, Tuan Sharif memilih menerima pekerjaan dari pihak Belanda.
Pilihan berat yang diambil Tuan Sharif ini berujung tragis, karena di mata masyarakat ia langsung dicap sebagai pengkhianat, kaki tangan penjajah, bahkan mata-mata. Lewat tokoh ini, Hamka memperlihatkan betapa kejamnya stigma sosial yang harus ditanggung rakyat kecil yang sebenarnya cuma berusaha bertahan hidup di tengah perang. Bagian paling menyentuh dari novel ini adalah ketika perbedaan sikap politik mulai merusak hubungan darah dalam keluarga. Perpecahan antara Republik dan Federalis ternyata tidak hanya terjadi di ruang publik, tapi juga masuk ke dalam rumah tangga. Tuan Sharif harus menerima kenyataan pahit bahwa anak kandungnya sendiri, yang berjiwa Republik, berbalik membenci dan memusuhinya karena menganggap sang ayah sudah menjual harga diri bangsa kepada penjajah.
Konflik antara Tuan Sharif dan anaknya ini sebenarnya bisa dilihat sebagai gambaran kecil dari perdebatan besar yang sudah dimulai Soekarno dan Hatta bertahun-tahun sebelumnya. Bedanya, kalau Soekarno dan Hatta bisa menyelesaikan perbedaan pendapat mereka lewat musyawarah tanpa merusak hubungan baik di antara keduanya, konflik yang sama di tingkat rakyat biasa justru berakhir dengan kehancuran, seperti yang terlihat dari rusaknya hubungan ayah dan anak dalam keluarga Tuan Sharif. Dari sini, sepertinya Hamka ingin menyampaikan bahwa perbedaan pandangan politik seharusnya dibicarakan dengan kepala dingin, bukan malah jadi alasan untuk memutus hubungan kasih sayang antar sesama.
Di sinilah letak kekuatan utama tulisan Buya Hamka. Ia ingin menunjukkan bahwa korban paling menderita dari sebuah konflik politik bukanlah para pejabat yang duduk di meja perundingan, melainkan rusaknya hubungan kekeluargaan di tingkat yang paling dekat. Karena itu, novel ini bisa dibilang menjadi cermin sejarah yang jelas sekaligus kritik sosial tentang mahalnya harga sebuah persatuan.
Lewat judul novelnya, Hamka juga menyampaikan pesan tentang pentingnya kesabaran dalam menghadapi masa sulit. Penderitaan selama masa perjuangan digambarkan seperti menahan lapar saat puasa, sedangkan kemenangan yang ditunggu diibaratkan seperti bunyi beduk tanda waktu berbuka. Orang-orang yang tidak sabar dan memilih jalan pintas menjadi Federalis demi kenyamanan sesaat, pada akhirnya harus menanggung penyesalan yang panjang ketika beduk kemenangan itu benar-benar berbunyi.
Novel ini mengingatkan kita supaya tidak membiarkan perbedaan pandangan politik merusak nilai-nilai kemanusiaan atau mengorbankan hubungan persaudaraan hanya demi kepentingan sesaat. Lewat kisah Tuan Sharif dan keluarganya, Hamka mengajak pembaca untuk merenung bahwa di balik setiap label seperti “pejuang” atau “pengkhianat”, selalu ada sisi kemanusiaan yang layak dipahami, bukan sekadar dihakimi. Pada akhirnya, Menunggu Beduk Berbunyi bukan sekadar cerita fiksi tentang masa lalu, tapi juga cermin bagi kehidupan berbangsa sampai hari ini.
***
رفلكسي ڤنداڠن كاوم فدراليس هتت دان كاوم رڤوبليك سوكارنو دالم نوۋل منوڠڬو بدوق بربوڽي
بڽق اورڠ مڠيرا بهوا ستله سوكرنو دان هتت ممبچاكن تكس ڤروكلماسي ڤادا ١٧ اڬوستوس ١٩٤٥، إندونسيا لڠسوڠ هيدوڤ داماي. ڤداهل كڽتائنڽ تيدق سڤرتي إتو. تاهون-تاهون اول ستله مردك جوسترو منجادي ماس يڠ برت، كارن بلندا كمبالي داتڠ دڠن ككواتن ميليترڽ اونتوق مربوت لاڬي تانه ائير يڠ بارو ساج مردك. ماس ڤنوه ڬجولق إني ديڬمبركن دڠن بايك اوله بوي همك دالم نوۋلڽ يڠ برجودول منوڠڬو بدوق بربوڽي. ليوت نوۋل يڠ تربيت ڤرتام كالي تاهون ١٩٥٠ إني، همك منونجوككن بهوا ڤرڠ بوكن چوم سوال اڠكت سنجات، تاڤي جوڬ سوال بڬايمان ڤوليتيك بيس ممچه بله سبواه بڠس






















