sumber foto asli: riauhub

Songket

memeluk ia, berpancar rupa.
garis-garis kuning motif bunga.

kau ada diantara punggawa
melipat kata. kau ada diantara
takdir, menyemai janji.

janji dari kilau di tubuhnya.
cempaka atau tanjung.

durhaka atau disanjung.
kau mendekat raja. berkata menaruh
marwah. pantang membuat tegak
kepala paduka tatkala dihela
dari rumit kata.

hiasan yang indah dari lilitan
di tubuhnya adalah pelukan
songket yang menuntun jauh.

ketika majelis usai, lepas segala
janji. gerai dibuka kembali
dan kata-kata bertabur
semula jadi.

Selatpanjang, 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Selembar Kertas
Artikel berikutnyaPuisi: Kuantan (Air Sungai Kuantan)
Kelahiran Pekanbaru 1984. Bukunya yang telah terbit Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen, 2015), Mata Kaca (cerpen, 2017), Menuju ke Arus Sastra (esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (nonfiksi, 2019), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen, 2020), Amuk Selat (puisi, 2020), Menjaring Kata Menyelam Makna (esai, 2021). Puisi-puisinya tersiar di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Indo Pos, Lampung Post, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, NusaBali, Riau Pos, Batam Pos, Haluan Kepri, Tanjungpinang Pos, Harian Vokal, Majalah Sabili. Kini bekerja dan bermukim di Selatpanjang, Riau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here