gabar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com“Allahu Akbar…Allahu Akbar”

Lantunan adzan subuh berkumandang.

Di gubuk tua seorang pemuda bangun dari tempat tidurnya. Berjalan perlahan menuju sumur, lalu membasahi wajah yang melenyapkan kantuknya. Sebuah lemari lusuh terdapat tumpukan baju yang sangat rapi, pemuda tersebut mengambil sehelai baju dari lemari tersebut untuk mengganti bajunya. Ia berjalan ke mesjid yang tak jauh dari gubuknya untuk menunaikan kewajiban seorang muslim.

Dialah Andi, pemuda yang baru berusia 19 tahun. Setelah lulus SMA Andi membantu orang tuanya di kebun. Kebun timun tersebut memang milik mereka tetapi ukurannya tak luas, Maka dari itu sangat nihil untuk Andi dan orang tuanya hidup bermegah-megahan. Selain itu Ibu dan bapak Andi juga pedagang di pasar sayur, bermacam-macam yang mereka jual sesuai dengan sayur yang mereka dapatkan dari bosnya. Ketika menjelang magrib Andi juga kerap mengajar ngaji anak-anak di sana. Tetapi Andi tak mendapat imbalan sepeser pun, semua yang ia lakukan ikhlas tanpa pamrih.

Saat matahari mulai terbenam, Andi beraktivitas seperti biasa. Pergi ke musholla dan menjadi guru ngaji di sana.

“Ustadz, cita-cita ustadz apa??” Tanya seorang anak didik Andi.

Andi terdiam sejenak.

“apa ya? Hmm jadi….guru ngaji” Jawab Andi dengan nada bercanda.

Semua anak-anak itu pun tertawa.

“Berarti kerenan cita-cita kita dong pas ustadz” Saut salah satu anak tersebut.

“memangnya cita-cita kalian apa nih?” Tanya Andi.

Semua anak pun menjawab dengan lantang, dan seketika suasana musholla menjadi ramai oleh suara mereka.

“Jadi pilot pak ustadz”

“Jadi Polisi”

“Jadi dokter”

“Jadi Tentara”

Andi yang mendengar pun langsung kagum seketika.

“Ayo kita Aamiin kan semua cita-cita kita agar bisa tercapai” Ucap Andi.

Anak-Anak pun langsung serentak berkata “AAMIIN”

Keesokan harinya….

“dring…dring..dring…”

Suara telefon berbunyi yang membuat Andi terbangun dari tidurnya.

Nomor kontak tersebut menunjukkan nama Umar, Dia adalah teman dekat Andi di SMA, rumahnya pun tak jauh dari desa Andi.

Assalamualaikum Umar” Ucap Andi.

Wa’alaikumussalam bro, saya ada kabar baik” Jawab Umar.

Andi pun langsung duduk karena sangat penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Umar.

“saya dapat info ada lowongan kerja di Jakarta. Gajinya cukup besar Ndi, 15 juta” Tambah Umar dengan semangat.

“Jauh kali Mar, syaratnya apa aja kalo saya boleh tahu?” Tanya Andi.

“Nah itu Ndi, Syaratnya kita daftar pake uang 3 juta dan KTP, itu aja Ndi” Jawab Umar.

“Ah yang benar Mar? Kamu yakin itu Benar Mar?” Tanya Andi meyakinkan Umar.

“Bener Ndi, Katanya Uang itu nanti di balik in pas kita gajian, cuman sebagai jaminan aja kata mereka” Jawab Umar.

“Tapi uang dari mana Mar, kamu kan tahu saya di sini juga belum punya penghasilan” Ucap Andi.

“Coba aja Ndi pinjam uang dulu ke ibumu dulu, mana tahu ada kan. Kalo kamu tertarik, nanti kita pergi sama-sama Ndi. Rencana saya pergi Minggu besok” Jelas Umar.

“Yaudah Mar, Nanti saya usaha in” Ucap Andi.

 Saat makan bersama dengan orang tuanya Andi berniat untuk mengatakan soal pekerjaan di Jakarta, tetapi Andi masih ragu dan tak yakin Ibu nya akan mengizinkannya. Karena Andi adalah anak tunggal yang tak punya kakak ataupun adik, tentu saja keluarganya sangat berharap banyak dengannya. Tapi di satu sisi ia tak mungkin menetap di gubuk tersebut dengan menggantungkan hidupnya pada orang tuanya.

Andi pun mengurungkan niatnya dan melanjutkan menghabiskan nasinya.

Keesokan harinya, bertepatan dengan hari panen timun di kebun orang tuanya, Andi membantu orang tuanya memetik timun dari batang.

“Nak, kok kamu gak pake sarung tangan?” Tanya ibu Andi.

“Eh iya bu, sarung tangan Andi gak ketemu tadi di lemari” Jawab Andi.

“Kalo gak salah di lemari ibu masih ada sarung tangan, ambil sana nak” Ucap ibu Andi.

Andi pun pulang ke rumah untuk mengambil sarung tangan di lemari ibunya.

Namun secara tak sengaja Andi menemukan emas di bawah tumpukan baju ibunya saat hendak mencari sarung tangan yang ingin di pakainya. Namun saat itu Andi benar-benar tak peduli dengan emas itu. Setelah mengambil sarung tangan Andi langsung kembali ke kebunnya.

Senja kembali berwarna merah merona, matahari mulai menghilangkan wujudnya. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar merdu sampai ke sudut-sudut desa. Suasana ini menandakan waktu Magrib akan segera tiba. Andi melakukan aktivitasnya seperti biasa, sesudah melaksanakan sholat, ia pun langsung berprofesi menjadi guru ngaji. Di tengah kegiatan, terdengar dering telefon dari handphone Andi. Ia pun segara mengangkatnya.

“Ndi, gimana? Sudah dapat uangnya?” Tanya Umar.

“Belum Mar, Saya sepertinya gak ikut kamu Mar” Jawab Andi.

“Kesempatan kita loh ini Ndi, sudahkah kamu ceritakan ini kepada orang tuamu?” Tanya Umar.

“Gimana ya Mar, gak yakin aku Mar mereka akan memberikan izin kepadaku” Jawab Andi.

“Coba saja lah Ndi, kamu ini gimana. Ayolah kita sudah dewasa, tak mau kah kamu mengangkat derajat orang tuamu?” Tegas Umar kembali.

“Tentu saja saya mau Mar, tapi…”

Sebelum Andi menyelesaikan ucapannya, Umar yang merasa kecewa langsung mematikan telefon.

Andi benar-benar sangat kebingungan dan gelisah saat itu. Jujur saja di dalam hatinya ia sangat ingin pergi ke kota dan melamar pekerjaan itu, tapi ia tak punya daya jika harus berurusan dengan uang yang jumlahnya cukup besar.

Saat malam hari, di mana seharusnya menjadi waktu tidur. Tapi tidak dengan Andi, ia merenung seperti orang yang bimbang. Berjalan ke sana kemari di dalam kamarnya sembari memikirkan solusi. Di saat itulah tiba-tiba Andi terpikirkan soal emas ibunya. Andi sangat tau bahwa perbuatan ini tercela  tapi di keinginannya membuatnya tak peduli akan hal itu.

Sebelum subuh saat orang tuanya sedang terlelap, ia menyelinap masuk. Apa yang ia rencanakan pun berhasil, Andi tak lupa memberikan secarik kertas yang berisi surat untuk orang tuanya.

“Buk pak, besar maaf untuk kalian. Andi tak bermaksud mengambil sesuatu yang bukan milik Andi, tapi pak buk Andi sangat ingin pergi ke kota dan melamar pekerjaan di sana. Jika andi sudah mendapatkan gaji, Andi berjanji akan mengembalikan milik ibu dan bapak, Andi akan bawa uang banyak untuk ibu bapak. Doa kan Andi pak buk”

Itulah isi surat dari secarik kertas tersebut.

Sesampainya di kota…

Andi dan Umar pergi ke ATM untuk mentransfer uang tersebut.

Sudah 2 jam mereka duduk di depan ATM menunggu telefon dari orang yang memberikan info tentang pekerjaan tersebut.

“Belum ada panggilan juga Mar dari orangnya?” Tanya Andi.

Umar menggelengkan kepalanya, sudah berulang kali dia mengecek notifikasi dari handphonenya tapi tetap saja tak ada pesan atau panggilan yang masuk.

Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12.00. Mereka masih di tempat yang sama dan juga dengan harapan yang sama.

“Bodoh” Ucap Andi.

“Maafkan saya Ndi” Jawab Umar dengan menundukkan kepalanya.

“Dua belas tahun kita belajar Mar, tapi kenapa tetap saja kita bodoh” Ucap Andi.

Air matanya tak terbendung. Sungguh perasaan yang campur aduk. Ia merasa kesal, menyesal, marah tapi Andi merasa tak punya hak untuk itu.

“Kucuri emas ibuku Mar untuk hal sebodoh ini” Ucap Andi.

Umar sama sekali tak berkutik, ia merasa menyesal dan merasa bersalah kepada Andi.

Seminggu berlalu lebih cepat…

 Andi dan Umar hidup luntang-lantung di kota. Mereka hidup dengan uang yang tersisa di sakunya, Lalu tidur di mesjid satu ke mesjid yang lain.

“Dring…Dring…Dring”

Dering telfon Andi berbunyi, nomor tak di kenal tertulis dari panggilan tersebut. Tanpa basa-basi pun Andi langsung mengangkatnya.

Assalamualaikum” Ucap Andi.

Wa’alaikumussalam nak, ini ibu Ndi” Benar saja, Suara yang didengar Andi adalah suara ibunya.

“Bu, maafkan Andi bu…Andi gagal bu” Ucap Andi dengan meneteskan air mata dan perasaan menyesal.

“Ku maafkan selalu kau nak, Sungguh kau tak gagal. Hanya saja itu bukan jalanmu” Ucap Ibu Andi.

Andi tak mampu mengucapkan kata-katanya, ia benar-benar menangis mendengar ucapan ibunya.

“Kami tak mengharapkan uangmu nak, pulanglah nak. Kami sudah tua, hanya kau yang kami punya. Sungguh kau tak gagal, tak usah kau ganti apa yang telah kau ambil. Selama ini kami tak meminta apa pun dari mu nak, tapi untuk kali ini pulang lah nak” Ucap bapak Andi yang meyakinkan Andi bahwa mereka sangat membutuhkan Andi bersama mereka.

Keesokan harinya Andi dan Umar memutuskan untuk pulang. Andi tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa.

“Hidup di desa tidak terlalu begitu buruk, meski jauh dari kata maju tapi di sini kita tak pernah kekurangan. Jauh dari hiruk piruk jalanan, walau lampu jalan tidak selalu ada setiap malam tetapi selagi masih terdengar ayam berkokok setiap pagi, suara Adzan yang menyusup setiap sudut desa dan masih berdiri tegak gubuk tua ini. Percayalah bahwa ini yang dinamakan ketenangan.”

***

تاڠن يڠ تق ڤرنه لڤس

” الله اكبر…الله اكبر”

لنتونن ازن سوبوه بركومندڠ

د ڬوبوق توا سئورڠ ڤمودا باڠون داري تمڤت تيدورڽ. برجالن ڤرلاهن منوجو سومور، لالو ممبساهي واجه يڠ ملڽڤكن كنتوكڽ. سباه لماري لوسوه ترداڤت تومڤوكن باجو يڠ ساڠت راڤي، ڤمودا ترسبوت مڠمبيل سهلاي باجو داري لماري ترسبوت اونتوق مڠڬنتي باجوڽ. إيا برجالن ك مسجيد يڠ تق جاوه داري ڬوبوكڽ اونتوق منونايكن كواجيبن سئورڠ مسليم

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini