Riausastra.com – Angin sepoi-sepoi yang berhembusan membuat suasana begitu menenangkan, bunga itu bermekaran dengan indah, wanginya yang semerbak, sungai yang mengalir.
Suara yang begitu dirindukan terdengar jelas memanggil dengan suara khasnya…
“Sayang…!”
Tangan yang sibuk memetik bunga cantik, tiba-tiba berhenti, dan menoleh, rasanya seperti mimpi, tangan gemetaran, terharu, bahagia, semuanya bercampur aduk, dengan suara bergetar menjawab…
“I-iya..” jawab dengan mata merah karena menahan aliran yang sudah siap terjun.
Memeluk dengan begitu erat seolah tidak mau lagi berpisah.
Suasana yang adem, ditemani suara kicauan burung yang merdu, kursi taman berperan sebagai saksi pertemuan yang begitu dinantikan. Pelukan yang tidak lepas ditemani dengan aliran yang terus menerus turun tanpa henti.
Ranjang tempat ternyaman semua orang, kini gadis itu terlelap dengan memeluk sebuah kain seperti halnya memeluk sebuah bantal guling yang seolah-olah itu adalah tempat ternyamannya, aliran yang tanpa permisi turun, membuat gadis itu terbangun dan bergumam…
“Mimpi…” disertai isakan yang tak kunjung berhenti.
Dan gadis itu kembali bergumam…
“Maafkan aku…, dan terimakasih.” masih dalam isakan ia terus bergumam…
“Terimakasih walaupun singkat aku senang…”
***
سجمڤوت كبهاڬيائن
اڠين سڤوي-سڤوي يڠ برهمبوسن ممبوات سواسان بڬيتو مڽنڠكن، بوڠا إتو برمكارن دڠن إنده، واڠيڽ يڠ سمربق، سوڠاي يڠ مڠالير
سوارا يڠ بڬيتو ديريندوكن تردڠر جلس ممڠڬيل دڠن سوارا خسڽ






















