sumber foto asli: pixabay

Ritual Pemanggil Hujan

saat bunga seulanga berjatuhan
desir angin dari pascima dengan cepat menerpa
menjadikan udara sekitarnya di penuhi bau pemula syukur
mantra dari mulut petani pun menggema di mana-mana

sebab, musim kemarau gegas pergi
langit muram akan datang bertandang
demi mengguyur akar-akar yang berhenti menggelebar
juga membasahi rumah-rumah cacing

tatkala langit melahirkan yang dikandung
bunga seulanga bernyanyi mementahkan bait-bait rima
para petani menari dalam kecipak hujan
cacing-cacing menggeliat menyuburkan tanah

bunga seulanga menginginkan hujan,
para petani menginginkan hujan,
cacing-cacing menginginkan hujan,
hingga seluruh ingin menjelma doa-doa paling sempurna

Bekasi, 30 September 2021

Artikel sebelumnyaPuisi: Cahaya yang Hilang
Artikel berikutnyaPuisi: Ayah, Aku Pulang Dulu, Ya
Lahir pada 11 Februari 1995 di Banda Aceh. Buku pertama yang diterbitkan oleh Alinea Medika Pustaka berjudul Kemarau Di Matamu Hujan Di Mataku, puisi dan cerpen yang ia tulis telah banyak terangkum pada beberapa Media seperti, kumparan.co, ideide.id, barisan.co, negeri kertas, dll. Juga terangkum di beberapa antologi puisi. Prestasi yang didapatkan mewakili Provinsi Aceh pada lomba PAI (Cerdas Cermat Agama Nasional Tingkat Tsanawiyah) di Jakarta, FLS2N cabang Tilawah di Surabaya. Alamat: Perum Tytyan Kencana Blok A4 No.12B, Kel. Marga Mulya, Kec. Bekasi utara, Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Telp/WA: 08111130295

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini