Riausastra.com – Karya sastra sering lahir dari denyut kehidupan manusia yang paling jujur, terutama ketika berbicara tentang perjuangan, penderitaan, dan harapan. Menurut (Bambang & Slamet, 1945) sebuah karya sastra merupakan cerminan atau refleksi masyarakat dan masyarakat merupakan sumber inspirasi bagi para sastrawan dalam menulis karya mereka. Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J.S. Khairen merupakan karya sastra yang menghadirkan potret kehidupan keluarga sederhana dengan segala keterbatasan ekonomi, namun kaya akan nilai moral kehidupan. Melalui alur cerita yang menyentuh dan karakter tokoh yang kuat, pengarang tidak hanya mengajak pembaca menikmati kisah, tetapi juga merenungkan makna perjuangan, pengorbanan, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian novel ini menjadi media refleksi yang efektif dalam menyampaikan pesan moral secara tersirat namun mendalam.
Menurut Setyorini (2014) karya sastra merupakan sebuah karya yang pada hakikatnya dibuat dengan mengedepankan aspek keindahan dan penyampaian pesan. Nilai moral dalam sastra dapat dipandang sebagai amanat dan pesan yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Kemudian nilai moral dalam sastra dipandang sebagai amanat yang menjadi dasar penciptaan karya itu sendiri. Burhan Nurgiyantoro menegaskan bahwa amanat merupakan gagasan pokok yang menopang keseluruhan cerita dan berfungsi sebagai sarana edukatif bagi pembaca. Oleh karena itu, novel Dompet Ayah Sepatu Ibu tidak sekadar menyajikan kisah kehidupan tokoh, tetapi juga mengandung nilai-nilai kehidupan yang dapat dijadikan pembelajaran moral bagi pembaca. Dalam kajian sastra, Burhan Nurgiyantoro mengklasifikasikan nilai moral ke dalam tiga bentuk hubungan utama, yaitu hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam kehidupan sosial, serta hubungan manusia dengan Tuhan. Kerangka inilah yang relevan digunakan untuk menganalisis nilai moral dalam novel Dompet Ayah Sepatu Ibu. Melalui penggambaran konflik dan perjuangan tokoh, pengarang secara konsisten menghadirkan ketiga bentuk hubungan tersebut sebagai fondasi moral yang membangun keseluruhan cerita.(Khairen, 2024)
Hubungan manusia dengan dirinya sendiri dalam novel ini ditunjukkan melalui nilai moral pantang menyerah dan rela berkorban. Tokoh Zenna digambarkan sebagai sosok yang memiliki semangat juang yang tinggi dalam menghadapi keterbatasan hidup. Ia tetap bersekolah meskipun harus berjalan jauh, menggunakan sepatu yang telah rusak, dan berjualan sejak pagi hari demi membantu ekonomi keluarga. Sikap tersebut mencerminkan keteguhan pribadi dan kesadaran moral individu dalam menghadapi kehidupan, seperti yang dikemukakan oleh Nurgiyantoro bahwa nilai moral individu berkaitan erat dengan sikap tanggung jawab dan keteguhan diri. Kemudian nilai rela berkorban juga terlihat sangat kuat dalam perjalanan hidup tokoh utama. Zenna digambarkan rela mengorbankan masa depannya dengan menunda pendidikan demi memastikan adik-adiknya tetap dapat bersekolah. Pengorbanan ini bukan dilakukan karena keterpaksaan, melainkan lahir dari kesadaran moral sebagai anak tertua dalam keluarga. Tindakan tersebut menunjukkan kedewasaan sikap dan keikhlasan, yang dalam pandangan Nurgiyantoro merupakan bentuk nilai moral tinggi karena individu mampu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi.
Selain hubungan dengan diri sendiri, juga adanya nilai moral yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia lain dalam kehidupan sosial. Nilai tersebut meliputi sikap saling menghargai, tolong-menolong, dan peduli terhadap sesama. Hal ini tergambar melalui sikap tokoh Bapak yang menghargai usaha anaknya dengan memberikan hadiah sederhana, serta tokoh Ibu I’i yang menunjukkan kepedulian terhadap kondisi keluarga Zenna dengan memberikan bantuan secara ikhlas. Sikap-sikap tersebut mencerminkan nilai moral sosial yang menekankan pentingnya empati dan penghargaan dalam membangun hubungan antarmanusia yang harmonis. Kemudian nilai tolong-menolong dalam novel ini juga tercermin melalui kerja sama antaranggota keluarga dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tokoh-tokoh digambarkan saling membantu dalam mengambil air, mencari belut, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga bersama. Praktik kebersamaan ini menunjukkan bahwa solidaritas keluarga menjadi kekuatan utama dalam menghadapi kesulitan hidup. Sikap tolong-menolong tersebut mempertegas pandangan Nurgiyantoro bahwa nilai moral sosial berfungsi memperkuat ikatan antarmanusia dalam kehidupan bermasyarakat. Lalu adanya nilai kepedulian terhadap sesama juga terlihat dalam hubungan tokoh dengan lingkungan sekitarnya. Kepedulian ini ditunjukkan oleh pedagang sayur yang membeli dagangan Zenna serta teman-teman sekolah yang datang melayat ketika keluarganya mengalami musibah. Tindakan-tindakan ini mencerminkan solidaritas sosial dan empati yang menjadi bagian penting dari nilai moral kemanusiaan. Sikap peduli tersebut menunjukkan bahwa nilai moral tidak hanya tumbuh dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam interaksi sosial yang lebih luas.
Hubungan manusia dengan Tuhan menjadi nilai moral yang tidak kalah penting dalam novel ini. Nilai spiritual tergambar melalui sikap sabar, ikhlas, dan pasrah tokoh dalam menghadapi cobaan hidup, seperti kehilangan anggota keluarga dan tekanan ekonomi. Tokoh Zenna digambarkan mampu menerima kenyataan pahit dengan keteguhan iman dan keyakinan bahwa segala peristiwa merupakan kehendak Tuhan. Sikap ini menunjukkan bahwa spiritualitas menjadi sumber kekuatan batin dalam menghadapi penderitaan hidup. Kemudian nilai spiritual dalam novel Dompet Ayah Sepatu Ibu tercermin dari kemampuan tokoh dalam menerima takdir dengan lapang dada serta menjaga keimanan di tengah cobaan hidup. Hubungan manusia dengan Tuhan digambarkan secara batiniah melalui sikap sabar dan ikhlas, yang menurut Nurgiyantoro merupakan wujud nilai moral religius dalam karya sastra
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J.S. Khairen mengandung nilai moral kehidupan yang komprehensif dan relevan dengan realitas sosial masyarakat. Dengan menggunakan teori nilai moral Burhan Nurgiyantoro dan merujuk pada kajian jurnal, novel ini menghadirkan pembelajaran tentang keteguhan diri, kepedulian sosial, serta kekuatan spiritual sebagai bekal utama dalam menjalani kehidupan. Nilai-nilai tersebut menjadikan novel ini tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga edukatif dan layak dijadikan bahan pembelajaran sastra serta pembentukan karakter.
Daftar Pustaka
- Bambang, Y., & Slamet, M. (1945). Fungsi d an Peran Karya Sastra dari Masa k e Masa. Jurnal Sains, Teknologi, Masyarakat, Dan Jejaring, Vol 1, 24–40.
- Khairen, J. S. (2024). MORALITAS DALAM NOVEL DOMPET AYAH SEPATU IBU KARYA JS. KHAIREN. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 09.
***
نيلاي مورل كهيدوڤن دالم نوۋل “دومڤت ايه سڤاتو إبو” كريا ج.س. خايرن
كريا سسترا سريڠ لاهير داري دڽوت كهيدوڤن مانوسيا يڠ ڤاليڠ جوجور، تروتام كتيك بربيچارا تنتڠ ڤرجواڠن، ڤندريتائن، دان هراڤن. منوروت (بمبڠ دان سلامت، ١٩٤٥) سباه كريا سسترا مروڤاكن چرمينن اتاو رفلكسي مشراكت دان مشراكت مروڤاكن سومبرإنسڤيراسي باڬي سستراون دالم منوليس كريا مرك. نوۋل دمڤت ايه سڤاتو إبو كريا ج.س. خايرن مروڤاكن كريا سسترا يڠ مڠهاديركن ڤوترت كهيدوڤن كلوارڬ سدرهان دڠن سڬالا كتربتاسن اكونومي، نامون كاي اكن نيلاي مورل كهيدوڤن. ملالوي الور چريت يڠ مڽنته دان كاركتر توكوه يڠ كوات، ڤڠارڠ تيدق هاڽ مڠاجق ڤمباچ منيكماتي كيسه، تتاڤي جوڬ مرنوڠكن مكن ڤرجاڠن، ڤڠوربانن، دان كتڬوهن هاتي دالم منجلاني كهيدوڤن. دڠن دميكيان نوۋل إني منجادي مديا رفلكسي يڠ افكتيف دالم مڽمڤايكن ڤسن مورل سچارا ترسيرت نامون مندالم
























