Riausastra.com – Program bincang sastra Ruang Binar kembali menghadirkan diskusi menarik seputar karya sastra kontemporer. Dalam episode terbaru, Wilda Sri Hastuti Handayani Piliang hadir sebagai narasumber untuk mengulas buku kumpulan cerpennya yang berjudul Takjil. Acara ini dipandu oleh Azhar Gultom dan disiarkan melalui kanal YouTube serta Instagram Riau Sastra pada Senin (27/4).

Dalam perbincangan tersebut, Wilda mengungkapkan bahwa Takjil merupakan kumpulan 11 cerita pendek yang ditulis dalam kurun waktu tiga tahun. Cerita-cerita dalam buku ini lahir dari pengamatan sehari-hari serta pengalaman personal penulis yang kemudian dikembangkan menjadi narasi reflektif.

Pemilihan judul Takjil sendiri tidak sekadar merujuk pada makanan berbuka puasa, tetapi juga menjadi simbol kedekatan dengan suasana Ramadan dan Syawal. Di balik itu, tersimpan berbagai lapisan makna sosial yang diangkat melalui cerita-cerita yang menyentuh realitas masyarakat.

Salah satu cerpen yang menjadi sorotan dalam diskusi adalah kisah tentang seorang penjual takjil sederhana yang mengalami kerugian akibat pembeli kaya yang membatalkan pesanan hanya karena kemasan yang dianggap tidak layak. Cerita ini menyoroti persoalan empati sosial yang kian menipis di tengah kehidupan modern.

Selain itu, tema-tema lain dalam buku ini juga mengangkat tradisi mudik, kerinduan orang tua terhadap anak di hari Lebaran, hingga fenomena sosial seperti praktik pemakaman yang tumpang tindih di kota Medan. Latar cerita yang digunakan pun beragam, mulai dari Medan, Bengkalis dengan tradisi lampu colok, hingga suasana perkotaan di Pekanbaru dan beberapa wilayah di Pulau Jawa.

Wilda juga menyisipkan kritik religius dalam karyanya, seperti dalam cerpen “Mengapa Ayah Tidak Salat” yang mempertanyakan fenomena ketidakseimbangan antara ritual puasa dan kewajiban ibadah lainnya. Hal ini memperlihatkan keberanian penulis dalam mengangkat isu-isu sensitif secara reflektif.

Secara keseluruhan, Takjil tidak hanya menawarkan cerita, tetapi juga mengajak pembaca untuk merenungkan nilai empati, kepedulian sosial, serta hubungan antarmanusia, khususnya dalam konteks keluarga dan masyarakat.

Dalam sesi bincang, Wilda menegaskan bahwa salah satu motivasinya menerbitkan buku ini adalah untuk memberikan teladan kepada mahasiswa. Sebagai dosen di Universitas Islam Riau, ia ingin mendorong mahasiswa tidak hanya memahami teori sastra, tetapi juga aktif berkarya dan berkontribusi dalam dunia literasi.

Bagi masyarakat yang tertarik membaca Takjil, buku ini dapat diperoleh melalui UIR Press yang berada di gedung perpustakaan lantai 3 Universitas Islam Riau.

Melalui Ruang Binar, Riau Sastra terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan ruang dialog sastra yang hidup, kritis, dan relevan dengan dinamika sosial masyarakat hari ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini