gambar hanya ilustrasi sumber: bing

Riausastra.com – Malam-malam di Desa Lilot berubah menjadi sangat mencekam. Matahari selalu pamit dengan rasa waspada yang tak tertahankan. Jadwal mengaji anak-anak yang tadinya selepas magrib menjadi lebih cepat. 

Para pemuda tak lagi memetik gitar dan melewati malam dengan botol-botol  minuman cap kaki lima. Entah kemana mereka. Suara nyanyian mereka tak terdengar lagi. Demikian pula suara sayatan gitar mereka. Menghilang.  Mensunyikan malam di Desa Lilot. 

Saat gelap tiba, pintu -pintu setiap rumah dikunci dengan rapat, juga jendela. Semuanya serba rapat. 

Setidaknya dalam beberapa minggu ini, suasana malam di Desa Lilot amat kontradiksi dengan suasana kehidupan yang sebenarnya yang dilakoni para warganya dalam berkehidupan dan bersosialisasi sebagai warga bangsa. 

Keakraban dan semangat gotong royong adalah simbol hidup dan kehidupan para warga di Desa yang terletak dekat Pantai ini. 

Kini usai sholat Isya, para warga lebih senang berada dalam rumahnya masing-masing. 

Para penghuni Desa lilot lebih bahagia berkumpul bersama keluarganya di rumah dengan kondisi apa adanya. 

Tak ada lagi suasana malam yang sarat dengan kelakar dan kumpul-kumpul di depan rumah warga menyongsong rasa kantuk. 

Tak ada lagi bunyi koor tawa dan derai bahagia yang biasanya selalu menjadi simbol keakraban para warga. 

Tak ada lagi saling berkunjung usai Sholat Isya. Simbol keakraban yang menjadi roh kehidupan di Desa Lilot itu kini sirna. Diterjang angin isu yang menggema dalam nurani warga tanpa ampun dan tak bisa tertahankan oleh warga Desa.

Kini Semua warga asyik masyuk dengan aksinya masing-masing di rumah.  Desa Lilot sepi dan hening hingga suara adzan Subuh berkumandang. 

Kalaupun ada suara yang terdengar, itu adalah suara knalpot-knalpot konvoi mobil yang datang pada tengah malam menuju  pantai di Desa Lilot.

Berita tentang penebuk (cerita kuno tentang pemenggal kepala anak kecil yang biasa digunakan untuk tumbal )  yang beredar hingga menembus jantung para warga, telah membuat para warga hidup dalam tingkat kewaspadaan yang tinggi dalam melindungi keluarganya. 

Perlindungan yang diberikan warga terhadap sekitarnya mengalahkan kepedulian dari para pemimpin yang telah mereka pilih dengan tulus ikhlas untuk melindungi darah dan tumpah darah bangsa.

Dan kini,tak heran usai dari aktivitas di siang hari, para warga Desa Lilot selalu ingin pulang ke rumah dan bertemu dengan anak istri dan keluarga mereka. 

Kalau dulu mereka berani melaut hingga bermalam-malam meninggalkan keluarga, kini mereka baru berani mencari nafkah saat matahari telah terbangun dari mimpi panjangnya yang selalu ingin menerangi penghuni bumi dari kegelapan.

“Isu penebuk ini lebih mahal harganya dari harga diri kita sendiri dan kehidupan kita, di Kampung ini,” umpat seorang warga Kampung sudah yang sudah lama tak melaut.  Sementara istrinya terus mengomel. Maklumlah beras persediaan di rumah mulai menipis.

”Sekali lagi mulutmu bicara seperti itu, kau akan mati. Atau angkat kakimu dari kampung ini. Itu pun kalau engkau masih mau melihat indahnya rembulan malam ini,” ungkap seseorang tetua Kampung. 

“Kamu masih muda. Belum tahu resikonya. Belum tahu akibatnya. Dan belum pernah merasakan akibat penebuk itu,” sambung seorang warga lainnya. 

Markudut memandang ke arah pantai. Sudah lama dia tak ke pantai. Maklum, kini Markudut sudah bermukim di kota. Dirinya pulang ke kampung untuk mengunjungi makam keluarga. Berziarah. 

Isu penebuk yang merebak di ruang publik kampung membuat pantai lenggang. Perahu nelayan Kampung berdiri kokoh  di atas air laut.  Sementara sampah berserakan di pasir putih pantai.  Sisa-sisa bekas sebuah aktivitas terlihat. Ada puntung rokok.  Ada jejak sepatu.  Dan sederet jejak lainnya yang menggambarkan adanya sebuah kegiatan di pantai itu. 

“Apakah mungkin, di zaman moderen ini ada tumbal untuk pembangunan sebuah jembatan?.” tanyanya dalam hati. 

Nalurinya sebagai aparat keamanan lahir. 

Markudut teringat dengan cerita ibunya saat di rinya masih kecil soal legenda penebuk ini.  

Penebuk  adalah narasi yang dinarasikan para orang tua kepada anaknya ketika anaknya berkeliaran saat siang hari dan menjelang magrib. 

Penebuk  adalah narasi tentang orang jahat yang memenggal kepala anak kecil untuk dijadikan tumbal pembangunan jembatan. Sebagai anak kecil Markudut saat itu langsung bergidik dan memeluk ibunya. 

Namun ketika isu penebuk dilontarkan ibunya, di luar rumah banyak orang-orang dewasa bernarasi tentang penyelundupan di pantai mereka.

Jam telah menunjukan pukul 01.00 dinihari. Cahaya rembulan mulai menyusut.

Bersama Pak Kades dan para hansip kampung serta dibantu beberapa pemuda , Markudut berangkat menuju pantai. Melewati jalan tikus yang hanya diketahui para penduduk asli Desa,.

Dan dalam waktu singkat, rombongan pun tiba di pantai. Keindahan pantai saat malam sungguh indah dan mempesona. 

Dan ini yang amat dirindukan  Markudut kalau pulang ke Kampung.

Hanya dalam hitungan menit, konvoi mobil yang selama ini selalu menghiasi malam-malam di Desa Lilot pun tiba di tepi pantai.

Di laut tampak sebuah kapal ukuran besar merapat di dermaga. Dalam hitungan menit muatan-muatan dalam mobil truk pun mulai dipindahkan menuju kapal.

“Ayo cepat. Nanti keburu siang,” perintah seseorang.

Dan sebelum proses pemuatan selesai, tiba-tiba puluhan aparat langsung menyergap mereka. 

Dalam hitungan menit semuanya tak berkutik. Truk-truk bermuatan tadi pun langsung menuju arah kota kecamatan dengan dikawal aparat keamanan berseragam lengkap menuju kantor Polisi.  

Sementara beberapa aparat keamanan, tampak mengamankan kapal yang masih bersandar di dermaga kayu kampung.

Paginya kegemparan melanda Desa Lilot. Kehebohan melanda desa terpencil ini. Desa ini tiba-tiba ramai dengan kunjungan para petinggi aparat keamanan. 

Para wartawan dan juru kamera pun turut meramaikan desa yang tak pernah tersentuh pembangunan ini, 

Para warga kini mulai tahu dan paham mengapa isu penebuk ini selalu digemakan hingga menembus jantung mereka. 

Yang amat membahagiakan warga, penangkapan para penjahat yang merugikan negara ini ternyata upaya dari putra desa yang kini ternyata seorang aparat keamanan berpangkat yang bertugas di kota. Dia adalah Markudut. 

“Saya atas nama warga, sungguh bangga. Ternyata kecintaan Nak Markudut terhadap desa tak luntur oleh pangkat dan tempat tinggal. Setidaknya kejadian semalam telah mengabarkan kepada kami semua warga desa untuk tidak percaya dengan isu-isu yang tak jelas asal muasalnya. Kami bangga, nak,” kata Pak Kades sambil memeluk Markudut yang ditimpali tepuk tangan yang bergemuruh dari para warga.

“Hidup Markudut.  Hidup Markudut,” teriak mereka dengan nada suara bahagia dan bangga.

Matahari mulai mengemaskan diri dari bumi yang gersang. Rembulan pun menyambutnya dengan riang. Malam pun tiba. Rumah para warga pun telah terang kembali. Bercahaya kan kebahagian. 

Kini aroma gelak tawa dan canda kembali menghiasi malam Desa Lilot. Para warga mulai bercengkrama. 

Markudut pun larut dalam keakraban itu yang selama ini menjadi simbol warga Desa Lilot. Dan itu momen yang selalu dirindukan Markudut saat pulang ke Desanya. 

Ya, Markudut merindui suasana keakraban yang tulus yang ditemuinya semenjak dirinya masih kecil. 

Sketsa/ilustrasi apa yang cocok menggambarkan data di atas? buat dengan kata-kata, buatkan 5 pilihan

Toboali Mei 2026.

***

ادا چريت ڤنبوق

مالم-مالم د دس ليلوت بروبه منجادي ساڠت منچكم. متهاري سلالو ڤاميت دڠن راس وسڤادا يڠ تق ترتاهنكن. جدوال مڠاجي انق-انق يڠ تاديڽ سلڤس مغريب منجادي لبيه چڤت

ڤارا ڤمودا تق لاڬي ممتيك ڬيتر دان ملواتي مالم دڠن بوتول-بوتول مينومن چڤ كاكي ليم. انته كمان مرك. سوارا ڽاڽيان مرك تق تردڠر لاڬي. دميكيان ڤولا سوارا سياتن ڬيتر مرك. مڠهيلڠ. منسوڽيكن مالم ددس ليلوت

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini