sumber foto asli: pixabay

Tampung Mandau, Matinya Anak Sungai Jantan

aku terombang benak tentang tampung mandau si anak sungai yang mati di belakang rumah
masih terlihat samar bangkaibangkai perahu konting milik abah, pokokpokok rumbia, limau
wuluh dan gemerisik-bisik daundaun nipah di sekitar bantaran
mewarnai aroma dapur mak yang hanya selemparan batu statak. tanpa uap arus yang deras
“sungainya hanya menampung hujan”. suara, mak lirih sembari membawa rantingan kayu
bakar
kehidupan yang sayup menyalai pagi di rumah gubuk beranyam bambu

getir getaran tangkai yang dihinggap serindit dan murai, kepaknya menyeruak di tepian
landai tanah bergambut lumut dengan akarakar mangrove meninggi tajam.
masa kecil memang masih membayangi jalaran akar rindu yang mengumbi bak keris
anyaman daun pinang yang dibuat abah, sebelum ia mati diseret, dicampakkan kompeni ke
hulu anak sungai

sementara, mak tabah membilas bajunya di tepian sungai tampung mandau yang berlumuran
darah
riwayat hidup bersilang rupa, harga diri tak hanyut ditelan anak sungai jantan

aku mendengar gemericik pelan di sebalik kayukayu ara sekitaran tampung mandau
mengalir di sepanjang saraf kranial dari retina berbelok ke ingatan bersama ruap amis darah
yang membawa wangi melati dan pandan kesukaan, mak;
“abahmu dahulu pahlawan kebanggakan negeri ini”
sambil mengunyah sirih pinang, luruh mata mak semata bulan
mengalir kecil di tampung mandau; anak sungai jantan yang mati.

(Tualang Timur, Juni 2022)

Artikel sebelumnyaPuisi: Masih Kuingat Jelas Hari Itu
Artikel berikutnyaBangun Sinergitas, Komunitas Riau Sastra Kunjungi Balai Bahasa Provinsi Riau
Lahir di Aek Pamingke. Bermastautin di Siak Sri Indrapura. Penggiat Literasi, Seni, dan Sastra. Saat ini aktif sebagai Dewan Kehormatan UKM Batra UR. Menggeluti seni teater, musik, lukis, dan ukir. Puluhan naskah teater telah dipentaskan, diantaranya; Prahara Cik Apung (Jakarta: 2013), Bulang Cahaya (Batam: 2013), Malam Botak (Palu: 2014), Raja Minyak (Banjarmasin: 2015), dan puluhan peran lainnya. Beberapa karya telah dibukukan; Kepompong (Trilogi Novel: Nulisbuku Publishing, 2015), Fragmen Hitam (Trilogi Novel: Nulisbuku Publishing, 2015), Rumah Kita (Antologi Puisi dan Cerpen- Pustaka A2, 2016), Hom Pim Pa (Naskah Teater, bentuk Dummy 2017; pernah dipentaskan di Laman Anjungan Seni Idrus Tintin), Kitalah yang Hidup di Sungai Itu (Juara 2 Cipta Puisi Festival Sastra Sungai Jantan, 2019), Sebuah Kisah Tentang Waktu (Juara 1 Cipta Puisi Nasional-Jendela Sastra Indonesia, 2020), Potret Kehidupan (Juara 1 Cipta Puisi Nasional-Tzone Publisher, 2020), Suara yang Lindap dan Malam Senyap (Antologi Puisi Bersama Penyair ASEAN- Salmah Publishing, 2020), Ode Kerinduan (Juara 1 Cipta Puisi Nasional-Inong Agam Publishing, 2020), Mimpi dan Puisi (Juara 3 Cipta Puisi Nasional-Mentari Media, 2020), Langkah Bahtera Langka (Antologi Puisi Bersama Alumni UKM Batra UR-Malay Culture Studies, 2020), Puisi Para Pendaki Bisik Langit Pasak Bumi (Antologi Puisi Pendaki- Pendaki Indonesia-Rumah Sunting, 2021), dan beberapa sekumpulan buku lainnya juga beberapa karya yang terbit di media massa. 0813 1044 0782

4 KOMENTAR

  1. Tak diragukan lagi pak @M.husein Al Arief sastrawan sejati semoga smakin jaya karya” nya sampai ke kancah internasional Good Luck Forever to youpendidik yg patut jd panutan

Tinggalkan Balasan ke Nurholifah Ifah Batal membalas

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini