gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Kita sering memperlakukan kegagalan seolah-olah ia adalah musuh terbesar dalam hidup, sebuah jalan buntu yang harus disembunyikan, disangkal, atau dihapus dari ingatan. Kita ingin hidup dengan  penuh capaian, dan layak dipamerkan. Namun bagaimana jika justru momen-momen paling berantakan itulah yang perlahan membentuk siapa diri kita sebenarnya? Pertanyaan inilah yang diselami Matt Haig dalam novel Perpustakaan Tengah Malam, sebuah kisah yang lembut sekaligus menghantui tentang penyesalan, pilihan, dan makna menjadi manusia.

Novel ini mengikuti kisah Nora Seed, seorang perempuan yang merasa hidupnya telah selesai sebelum benar-benar dimulai. Di ambang keputusasaan, Nora menemukan dirinya berada di sebuah perpustakaan yang aneh dan nyaris magis Perpustakaan Tengah Malam, tempat setiap buku mewakili kehidupan lain yang bisa ia jalani seandainya ia membuat pilihan berbeda. Melalui perjalanan ini,  Matt Haig seolah ingin mengatakan bahwa identitas manusia bukanlah sesuatu yang dibangun dari kesuksesan yang sempurna, melainkan dari lapisan kegagalan, kesalahan, dan penyesalan yang akhirnya kita pahami dengan cara yang lebih dewasa.

Bagi Nora, kegagalan terasa seperti parasit yang melekat kuat pada dirinya. Ia merasa telah meninggalkan terlalu banyak hal mulai dari impiannya menjadi musisi, kesempatan menjadi atlet, cinta yang dilepaskan, dan hubungan yang tak pernah benar-benar utuh. Semua itu membuatnya yakin bahwa hidupnya hanyalah rangkaian pilihan yang salah. Namun saat ia mulai menjalani kehidupan-kehidupan alternatif hidup sempurna yang dulu ia dambakan, Nora justru menemukan kebenaran yang tidak terduga. Tanpa kegagalan, hidup terasa hampa. Tanpa luka, tidak ada makna yang benar-benar tumbuh.

Pada usia 35 tahun, Nora memandang dirinya sebagai kumpulan kegagalan. Audisi yang gagal, kompetisi yang tak dimenangkan, dan mimpi yang kandas membuatnya percaya bahwa ia tidak pernah cukup baik. Hubungan pernikahannya berakhir, hubungannya dengan keluarga dipenuhi penyesalan, dan kesepian menjadi teman paling setia dalam hidupnya. Beban ini semakin berat ketika kesehatan mentalnya memburuk, hingga ia merasa hidup bukan lagi sesuatu yang pantas untuk dijalani. Pada titik ini, kegagalan tidak lagi sekadar pengalaman ia menjadi identitas yang mengekang, membuat Nora terjebak dalam rasa kasihan pada diri sendiri dan penyesalan yang tak berujung.

Namun dalan novel “Perpustakaan Tengah Malam” mengubah cara pandangnya. Di tempat itu, Nora dipaksa menghadapi kegagalannya secara langsung, bukan untuk dihukum, melainkan untuk dipahami. Ia menjalani hidup sebagai musisi terkenal, atlet Olimpiade, hingga versi dirinya yang tampak berhasil di mata dunia. Tetapi satu per satu kehidupan itu menunjukkan kenyataan yang sama kesuksesan tidak otomatis membawa kebahagiaan. Justru dari kehidupan yang penuh kegagalan itulah Nora belajar empati, ketahanan, dan kemampuan untuk menghargai hal-hal kecil yang sering terabaikan.

Peran Nyonya Elm sebagai penjaga perpustakaan menjadi kunci dalam proses ini. Ia membimbing Nora untuk melihat setiap kegagalan bukan sebagai hukuman, tetapi sebagai pelajaran yang membentuk dirinya. Dari pengalaman-pengalaman singkat itu, Nora akhirnya menyadari bahwa dirinya yang versi dulu ia benci justru adalah versi yang paling manusiawi. Tanpa kegagalan, ia tidak akan memiliki belas kasih, ketangguhan, dan penghargaan terhadap kehidupan yang sederhana namun nyata.

Pada akhirnyadi dalam novel “Perpustakaan Tengah Malam”mengajak kita berdamai dengan kegagalan. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak diukur dari seberapa sempurna pilihan kita, melainkan dari seberapa dalam kita belajar memaknainya. Kegagalan bukanlah akhir dari cerita, melainkan bagian penting dari kisah tentang menjadi diri sendiri utuh, rapuh, dan tetap layak untuk hidup.

Kemarin aku tahu aku tidak punya masa depan, dan mustahil bagiku untuk menerima hidupku seperti saat ini. Namun, hari ini, hidup kacau yang sama itu tampak penuh harapan. Berpotensi. Hal yang mustahil, kurasa, terjadi lewat menjalani hidup. Akankah hidupku secara ajaib bebas rasa sakit, putus asa, duka, patah hati, kesusahan, kesepian, depresi? Tidak. Tapi apakah aku ingin hidup? Ya. Ya. Seribu kali, ya.

(Haig, 2021: 352-353)

Melalui kalimat tersebut dapat dijelaskan bagaimana Nora sangat ingin hidup. Ini merupakan wujud pengaktualisasian yang ia tunjukkan melalui cara Nora memadangan realitas dan memaknai kehidupan sekalipun kehidupan mungkin tak akan begitu saja terbebas dari rasa sakit, putus asa, duka, patah hati, kesusahan, kesepian atau bahkan depresi. Tapi Nora tetap ingin hidup karena kehidupan memiliki harapan dan potensi untuknya.

Namun, novel “Perpustakaan Tengah Malam” dengan tegas menolak pandangan bahwa kegagalan adalah sesuatu yang mematikan. Melalui perjalanan Nora Seed, Matt Haig justru menunjukkan bahwa kegagalan merupakan bagian dari pembentukan identitas yang terus bergerak dan berkembang. Dibimbing oleh Nyonya Elm, Nora menjelajahi berbagai kehidupan alternatif, kehidupan di mana ia berhasil menjadi atlet berprestasi atau musisi ternama, hidup tanpa penyesalan yang selama ini menghantuinya. Akan tetapi, pengalaman-pengalaman itu perlahan membuka mata Nora pada sebuah kebenaran yang tidak sederhana kesuksesan yang ia dambakan ternyata tidak serta-merta menghadirkan kebahagiaan sejati. Justru kegagalan dalam kehidupan aslinya lah yang menumbuhkan empati, ketahanan batin, serta kesadaran akan nilai-nilai yang lebih otentik, seperti cinta, kebaikan, dan kehadiran manusia lain.

Kita cenderung memandang kegagalan sebagai akhir dari kehidupan, sebuah lubang gelap yang ingin kita sembunyikan dari ingatan. Matt Haig, melalui novel ini, menawarkan sudut pandang yang berbeda, bagaimana jika puing-puing kegagalan itu justru menjadi bahan mentah paling jujur untuk membangun diri kita yang sesungguhnya. Di dalam novel  beban identitas yang menyakitkan ia merasa dirinya adalah “orang yang gagal”, dibentuk oleh mimpi yang runtuh, hubungan yang kandas, dan depresi yang menyeretnya hingga ke ambang bunuh diri. Bagi Nora saat itu, kegagalan bukanlah pelajaran, melainkan vonis yang menguncinya dalam penyesalan dan rasa tidak layak untuk hidup.

Namun, di antara rak-rak buku yang tak berujung dan dengan bimbingan Nyonya Elm, pemahaman itu mulai bergeser. Perpustakaan memaksa Nora untuk menghadapi kenyataan bahwa kegagalan bukanlah penghalang, melainkan penunjuk arah bagi identitasnya. Ia menjalani kehidupan “sempurna” sebagai musisi terkenal atau perenang Olimpiade, tetapi alih-alih menemukan kepuasan, ia justru merasakan kehampaan. Dari sana, Nora belajar bahwa kesuksesan yang ia capai dengan mudah tidak menjamin kebahagiaan batin. Kehidupan tanpa kesulitan ternyata terasa rapuh dan kosong. Justru pengalaman gagal dalam kehidupan aslinyalah yang membentuknya. Kegagalan pernikahannya, misalnya, menjadi titik balik yang menyadarkannya bahwa identitas sejati harus berakar pada pilihan yang jujur, bukan pada usaha untuk sekadar menghindari penyesalan.

Proses ini mencapai puncaknya ketika Nora berhenti mencoba memperbaiki masa lalunya dan mulai menerima masa kini yang berantakan. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai korban, melainkan sebagai seseorang yang memilih untuk bertahan dan hidup dengan kesadaran penuh. Nora berhenti mencari dirinya yang sempurna dan justru menemukan kekuatan dalam menerima dirinya apa adanya diri yang ditempa oleh kesalahan, kehilangan, dan kegagalan.

Melalui perjalanan ini, Perpustakaan Tengah Malam menyampaikan pesan yang kuat, identitas bukanlah hasil dari kesuksesan yang dipoles rapi, melainkan sebuah kisah yang terus ditulis. Setiap kesalahan dan penyesalan menjadi tinta yang memberi warna dan makna pada kehidupan seseorang.

Pada akhirnya, kisah Nora Seed bukanlah tentang meraih hidup yang paling berhasil, melainkan tentang berdamai dengan ketidaksempurnaan. Identitasnya yang semula kaku dan menyakitkan sebagai orang gagal perlahan runtuh melalui pengalaman-pengalaman di perpustakaan. Dibimbing oleh Nyonya Elm, Nora memahami bahwa kegagalan bukan tembok penghalang, melainkan jalan yang membentuk kedalaman jiwa dan ketahanan hidup. Tanpa luka dan kemunduran, identitasnya akan kosong dan rapuh.

Kesadaran itu berpuncak ketika Nora dengan mantap memilih hidup dan berkata, “Apakah aku ingin hidup? Ya. Ya. Seribu kali, ya.” Di titik inilah ia benar-benar berubah dari seseorang yang terjebak dalam penyesalan menjadi pribadi yang berani mencintai hidup dan dirinya sendiri. Novel ini menegaskan bahwa identitas manusia bersifat dinamis, terus bergerak, dan terus tumbuh. Dalam perjalanan Nora Seed, setiap kegagalan bukanlah noda yang harus dihapus, melainkan bagian tak tergantikan dari kisah tentang menjadi manusia seutuhnya.

***

بڬايمان كڬڬالن ممبنتوق إدنتيتس نورا سيد دالم نوۋل “ڤرڤوستكائن تڠه مالم” كريا مت هايڬ

كيت سريڠ ممڤرلاكوكن كڬڬالن سئوله-اوله إيا اداله موسوه تربسر دالم هيدوڤ، سبواه جالن بونتو يڠ هاروس ديسمبوڽيكن، ديسڠكل، اتاو ديهاڤوس داري إڠاتن. كيت إڠين هيدوڤ دڠن ڤنوه چاڤايان دان لايق ديڤامركن. نامون بڬايمان جيك جوسترو مومن-مومن ڤاليڠ برنتاكن إتوله يڠ ڤرلاهن ممبنتوق سياڤ ديري كيت سبنرڽ؟ ڤرتڽائن إنيله يڠ ديسلامي مت هايڬ دالم نوۋل ڤرڤوستكائن تڠه مالم، سبواه كيسه يڠ لمبوت سكاليڬوس مڠهنتوي تنتڠ ڤڽسالن، ڤيليهن، دان مكن منجادي مانوسيا

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini