gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Seekor cicak jatuh tepat di depan muka Pak Iomo ketika membuka pintu kamar anaknya. Ekornya putus, membuat Pak Iomo hampir terjengkang karena kaget. Ekor itu sekejap menggeliat, lengket seperti baru kena getah. Firasatnya aneh, sang anak belum juga bangun di jam makan siang. Saat Pak Iomo menyelidiki, anak itu sudah terbujur kaku tak bernafas. Seisi rumah gempar. Cicak tadi adalah pertanda buruk. Kampung ini memang hidup dengan mempercayai mitos-mitos lama. Termasuk mitos cicak sebagai hewan pembawa sial. Riwayat ceritanya entah bermula dari siapa dan kapan. Namun agaknya jika kejatuhan cicak dari atas dinding, atas pohon, plafon, maka kesialan sudah menyergap kita dalam senyap. Bergayut-gayut bagaikan permen karet di sol sepatu lars tentara. Berlekatan susah lepas. Ia akan ikut menjejak selangkah demi selangkah meninggalkan bekas di manapun tindak-tanduk kita. Oleh sebab itulah ada orang-orang macam Sodikin dan Darmuji, mereka adalah para pencari cicak.

Banyak hari sudah mereka lewati demi mencari cicak-cicak mengganggu pembawa sial. Kakak beradik dari desa seberang ini terkenal sebagai pencari cicak berpengalaman. Masuk kampung keluar kampung mencari cicak untuk sekedar nafkah makan sehari-hari. Kadang mereka berhasil membawa buruan sekaligus memperoleh upah dari tuan rumah, kadang juga sekedar jabat tangan. Kadang rezeki itu memang tidak selaras dengan kerja keras. Kalau sudah begitu mereka hanya bisa pasrah, sambil nggrundel tentu saja. Sang kakak Sodikin dibekali karunia tidak biasa dari Tuhan, ia bisa merasakan getaran dari suara cicak dan langsung menemukan tempat reptil melata itu berada. Sedangkan Darmuji memang tidak sehebat Sodikin, hanya saja ia sangat tangkas. Sendi-sendi tangannya lihai bukan main, apabila sudah mengetahui keberadaan cicak-cicak tersebut ia dapat mengejar mereka menggunakan perangkap tongkat lem cicak. Meliuk-liuk bagai moncong ular mendesis mangsa. Pasti tangan itu sudah dijejali sensor akurat.

Belakangan kampung ini dirundung cicak, mendadak banyak cicak memenuhi dinding-dinding rumah. Hewan itu juga menyatroni atap, suaranya berisik sekali cek-cek-cek-cek. Bayi-bayi menangis terbangun malam hari saking berisiknya. Lebih buruknya tahi-tahi cicak itu ada dimana-mana. Jorok sekali. Semenjak itu pula satu persatu musibah datang silih berganti. Contohnya tentu saat anak Pak Iomo tahu-tahu ditemukan tak bernyawa. Kabarnya beberapa hari sebelumnya ia sempat bercerita kejatuhan bangkai cicak yang ia pukul sekuat tenaga karena berisik di kamarnya.

Tidak lama berselang giliran Budhe Takiyah yang tertimpa sial. Kandang ayamnya kebakaran. Sedikit yang mampu diselamatkan. Padahal di kandang itu Budhe Takiyah menggantungkan seluruh penghidupannya. Telur-telur ayam kampung yang harganya lebih mahal daripada ayam broiler itu matang sebelum waktunya, matang bukan karena digoreng tapi karena gosong dijilati api. Kata warga Budhe Takiyah menjepret cicak-cicak yang memasuki kandang ayamnya dengan potongan ban bekas. Salah satu cicak masuk ke dasternya, yang membuatnya menggelinjang geli tak terkira.

“Kita harus panggil Sodikin dan Darmuji!” kata seorang warga di pos ronda.

“Kalau dibiarkan bisa-bisa kita habis kena sial,” warga lain mulai ikut ketakutan atas apa yang telah menimpa Pak Iomo dan Budhe Takiyah.

Sodikin dan Darmuji datang bak pahlawan, punggung mereka dihujani tepukan keyakinan para warga yang mengharapkan adanya perubahan atas segala musibah. Warga sekalian sangat percaya. Lagipula tidak ada hukum yang mengejar mereka nantinya. Toh cicak bukanlah termasuk hewan dilindungi seperti yang disebutkan dalam Permen 20/2018 Menteri LHK macam Badak Sumatera, Owa Jawa, atau Orangutan. Hewan ini juga tidak diperebutkan karena memiliki khasiat tertentu laiknya lebah, ular, atau tokek. Yang ada hanya keyakinan jika cicak-cicak itu pergi maka kehidupan kembali aman sentosa. Sodikin dan Darmuji tampil penuh percaya diri. Mereka selama ini mengaku tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas. Ya walaupun tidak ada satu pun dari kami yang mampu membuktikan keaslian klaim tersebut. Kami percaya saja. Toh portofolio Sodikin dan Darmuji tidak akan membuat mata para perekrut kerja kantoran tertarik. Ini bidang yang langka. “Kemampuan kami berdua spesial, tidak ada yang punya.” Begitu jawab Sodikin yakin.

Dua kakak beradik itu mulai dari rumah Pak Iomo, saat tahlil tujuh harian masih diadakan mereka segera melangsungkan ritual penangkapan cicak-cicak pembawa sial. Kamar mendiang anak Pak Iomo dipenuhi benda-benda yang tak lagi tersentuh. Gitar bertanda tangan gitaris band kondang yang tak bisa lagi dipetik. Smartphone yang masih menyimpan pesan-pesan tak terbalas. Hingga layar komputer yang mulai ditempeli debu. Sodikin mulai mengecek keadaan, ia tampak menimbang-nimbang isi kamar. Matanya berhenti cukup lama pada meja milik anak Pak Iomo. Darmuji mengeluarkan persenjataan, perangkap tongkat lem cicak untuk cicak yang ada di dinding dan atap, perangkap jepit untuk yang ada di belakang lemari serta semprotan racun cicak. Setelah hampir dua jam tidak banyak cicak yang berhasil terkumpul, Darmuji menghitung hanya ada tiga cicak besar yang terjaring. Pak Iomo mengamplopi Sodikin,

“Sudahlah Pak, kita hanya membantu semampunya,” ujarnya basa-basi tapi tangannya tidak juga menjauh.

“Terima kasih ya, semoga dengan ini anak saya bisa tenang.” Pak Iomo menghapus bercak-bercak embun di kacamatanya. Saat hendak keluar dari rumah Pak Iomo, Sodikin mengintip isi amplopnya. “Jangkrik!” gumamnya ditahan, isinya tidak sampai lima puluh ribu. Rautnya mengeras sekejap. Tampaknya tidak semua orang takut pada mitos, sebagian lebih takut pada kurangnya penghargaan.

Keduanya harus menunggu jarak satu hari untuk menuju ke rumah Budhe Takiyah, bagaimanapun kandang ayam tersebut telah luluh lantak. Sodikin tidak mau terkena barang berbahaya macam pecahan beling atau paku-paku berkawat. Profesional sekali. Setibanya di kandang, kedua orang itu lebih dulu memisahkan ayam, telur, serta anakan yang selamat. Mereka berdalih pekerjaan akan lebih cepat tuntas jika ayam-ayam itu tidak mengganggu mereka. Tidak ada satu jam Darmuji menyeringai menunjukkan kaleng bekas rengginang yang ia bawa. Terdapat lima cicak berukuran besar memenuhi kaleng, ada dua cicak yang buntutnya sudah putus.

Budhe Takiyah tidak mengamplopi mereka. Sebaliknya mempersilakan Sodikin dan Darmuji mengambil apa saja yang tersisa di kandang. Darmuji mengantongi enam butir telur, sedang Sodikin berkata ia meminta satu anakan ayam jago. Kali ini mereka cukup mampu menghibur diri. Setelahnya Sodikin dan Darmuji mendapat pekerjaan tambahan. Kabar tersiar mengenai kediaman Mbok Nurbaeti. Nenek tujuh puluh tujuh tahun itu tinggal sendirian di ujung kampung. Ternyata rumahnya sudah jadi sarang cicak-cicak liar, awalnya warga tidak peduli, tapi kemudian khawatir juga jika sampai si nenek mengalami musibah. Pasti akan merepotkan warga juga.

Cicak-cicak di rumah Mbok Nurbaeti sangat gesit, susah sekali ditangkap. Sodikin menaiki tangga untuk memeriksa dibalik plafon yang sudah pecah. Cukup banyak memang jumlahnya di sana. Tapi ia merasa ada yang aneh. Senter Sodikin menangkap keberadaan seekor cicak berwarna putih sebesar anakan tokek. Ia seperti sedang memimpin kawanan. Sodikin menyipitkan mata, ingin tahu apakah yang ia lihat benar-benar cicak atau bukan. Sungguh gerak-geriknya jauh berbeda dari cicak lainnya. Sodikin merasa cicak tersebut tidak takut akan kehadirannya. Bahkan seperti tahu sedang diperhatikan.

“Ji, arahkan tongkatmu ke yang putih!” Sodikin menyuruh Darmuji untuk naik, ia menunjukkan dimana posisi si cicak putih berada.

“Wah, kok kayak babonnya itu Cak?” Darmuji melihat cicak putih memang sangat berbeda dari yang lain.

“Makanya! Jangan sampai lepas Ji! kalau dia tertangkap yang lain juga bakal lebih gampang ditarik!”

Berkali-kali Darmuji mencoba untuk meraih si cicak putih dengan tongkat lem namun ia melesat menghindari perangkap. Gesit sekali pikir Darmuji. Bahkan ia kerap menunggu dalam kebekuan layaknya sedang menantang Darmuji. Sejurus kemudian cicak putih besar itu melompat ke muka Darmuji. Darmuji mengibas-ngibaskan mukanya dengan panik. Ia menggerayangi seluruh kepala dari ubun-ubun sampai janggut. Lalu ke leher, dalam baju, sampai punggung belakang sambal misuh-misuh. Berharap si cicak putih hilang dari tubuhnya. Karena perbuatan cicak putih, ia kalang kabut dan hampir saja tergelincir dari tangga. Beruntung Sodikin siaga di bawah.

“Hei Ji!! Kenapa?” Sodikin geram melihat kelakuan adiknya itu. Ia melongok ke atas mengawasi Darmaji yang geleng-geleng.

Darmaji segera turun dari sana. Ia memegang lengan Sodikin untuk menjauh. Keduanya lantas berbisik-bisik dan mengemas peralatan lalu keluar dari rumah Mbok Nurbaeti begitu saja. Baru kali ini dua bersaudara itu pergi tanpa bawa hasil.

Semenjak kegagalan perburuan malam itu keberadaan keduanya nihil, ada yang bilang keduanya jatuh sakit, mungkin bisa jadi mereka terkena balak atas pekerjaannya. Hingga suatu hari Pak Iomo dan Budhe Takiyah mendatangi rumah pak RT untuk mengadukan sesuatu,

“Smartphone anak saya hilang Pak!” Pak Iomo kehilangan smartphone mendiang anaknya, padahal sebelumnya masih ada di meja. Budhe Takiyah juga ternyata kehilangan satu anakan ayam betina, ia baru menyadari saat akan mengambil telur,

“Saya hitung sampai pagi, anakan ayam betina saya kok hilang satu. Saya yakin sekali karena catatannya saya simpan, padahal Sodikin bilang hanya minta satu anakan ayam jago,” suara Budhe Takiyah makin meninggi, “Pasti dia pelakunya!”

Pak RT memanggil beberapa linmas dan bapak-bapak. Mereka bergegas menuju ke rumah Sodikin dan Darmuji untuk meminta penjelasan. Sodikin tertangkap basah ada di samping rumah sedang mencampur dedak untuk dua anakan ayam barunya, jago dan betina. Saat dimintai keterangan oleh bapak-bapak serta pihak linmas ia mendadak menjerit ketakutan. Mendengar jeritan Sodikin dari luar, Darmuji yang berselimut di kamar karena nggreges[1] setelah dilompati cicak warna putih tempo hari lekas bangkit dan menyeret kakinya ke kamar mandi untuk sembunyi. Sial sekali ia terpeleset dengan kepala membentur lantai duluan. Mata Darmuji mendelik menatap langit-langit kamar mandi. Di sana tampak seekor cicak berwarna putih memandanginya. Cicak putih itu mengeluarkan suara parau seperti sedang menertawai Darmuji, lalu seketika menghilang.

[1]Demam

***

ڤارا ڤنچاري چيچق

سئكور چيچق جاتوه تڤت د دڤن موك ڤق إومو كتيك ممبوك ڤينتو كامر انكڽ. اكورڽ ڤوتوس، ممبوات ڤق إومو همڤير ترجڠكڠ كارن كاڬت. اكور إتو سكجڤ مڠڬليات لڠكت سڤرتي بارو كن ڬته. فيراستڽ انه، سڠ انق بلوم جوڬ باڠون د جم ماكن سياڠ. سائت ڤق إومو مڽليديكي، انق إتو سوده تربوجور كاكو تق برنافس. سئيسي رومه ڬمڤر. چيچق تادي اداله ڤرتندا بوروق. كمڤوڠ إني ممڠ هيدوڤ دڠن ممڤرچياي ميتوس-ميتوس لام. ترماسوق ميتوس چيچق سباڬاي هيون ڤمباوا سيال. ريوايت چريتاڽ انته برمولا داري سياڤ دان كاڤن. نامن اڬكڽ جيك كجاتوهن چيچق داري اتس دينديڠ، اتس ڤوهون، ڤلافون، ماك كسيالن سوده مڽرڬڤ كيت دالم سڽڤ. برڬايوت-ڬايوت باڬايكن ڤرمن كارت د سول سڤاتو لرس تنتارا. برلكاتن سوسه لڤس. إيا اكن إكوت منججق سلڠكه دمي سلڠكه منيڠڬلكن بكس د مناڤون تيندق-تندوق كيت. اوله سبب إتوله ادا اورڠ-اورڠ ماچم سوديكين دان درموجي، مرك اداله ڤارا ڤنچاري چيچق

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini