gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Hubungan antara manusia dan alam bukan sekadar hubungan pemanfaatan sumber daya, melainkan jalinan emosional yang mendalam. Dalam antologi puisi Ikan-ikan Kebaikan Terbang, dari Sungai ke Langit Lengang karya Muhammad Asqalani eNeSTe, alam tidak hanya hadir sebagai latar belakang statis, melainkan sebagai subjek yang ikut merasakan arus kehidupan manusia. Seperti yang penulis kutip dari artikel Rinahayu & Kristianto (2022) bahwa hubungan alam dan manusia tidak hanya merepresentasikan persoalan alam, tetapi juga persoalan sosial manusia. Melalui teori ekologi, kita dapat melihat cara sang penyair menghubungkan alam dengan sosok “Ibu” sebagai sebuah perumpamaan tentang kesuburan, ketabahan, sekaligus kerapuhan lingkungan yang mulai tergerus oleh zaman.

Ekologi sastra mengajarkan kita bahwa lingkungan hidup memiliki pengaruh kuat dalam membentuk imajinasi manusia. Dalam puisi berjudul “Jika Kau Berhenti Menjadi Ibu”, kita diperkenalkan pada sosok ibu yang diumpamakan dengan “penanam ubi dan tebu”. Di sini, kehadiran ibu menyatu dengan alam. Ia adalah pemberi kehidupan layaknya bumi yang menumbuhkan tanaman. Alam dalam puisi ini digambarkan sebagai memori kolektif, yang digambarkan dengan anak-anak bermain dengan “bunga tanjung” dan “daun durian”. Seperti yang diungkapkan oleh Jannah & Efendi (2024) bahwa setiap elemen alam, dari pohon hingga lautan, memiliki peranan penting dalam membentuk identitas kolektif masyarakat. Hubungan ini menunjukkan harmonisasi hubungan mansia dengan alam yang saling berdampingan. 

Namun, kaseimbangan ekosistem ini mulai goyah ketika dunia modern dan perkembangan zaman masuk. Anak-anak diceritakan telah dewasa dan “hijrah ke kota”. Perpindahan dari desa ke kota dalam sedut pandang ekosistem seringkali digambarkan sebagai pemutusan ikatan dengan alam asal. Hal itu digambarkan ketika manusia meninggalkan “ladang” dan memilih “beton”. Ladang sebagai perwujudan kampung halaman dan beton sebagai perwujudan kota rantau. Ibu tetap tinggal di rumah yang mulai lapuk, menjadi penjaga memori alam yang kian sepi. Kesunyian ini dipertegas dengan gambaran kandang ayam yang kini kosong, hanya menyisakan “gundukan tanah merah penuh ani-ani”, simbol dari produktivitas alam yang mulai mati akibat ditinggalkan penghuninya. 

Penyair juga secara cerdik menggunakan metafora organ tubuh untuk menggambarkan kepekaan ekologis yang terlihat pada kutipan “Daun telinga ibu serupa gua semesta yang hapal suara langkah anak-anaknya” (ENeSTe, 2023). Kalimat ini menunjukkan bahwa ibu menjadi sosok dengan naluri yang tajam untuk anak-anaknya. Ibu tidak hanya mendengar melalui suara, tetapi melalui “dengung daun hidup yang menggaung”. Itu menunjukkan ikana yang kuat seorang ibu kepada anaknya. Ketika alam merasa terancam atau ada “firasat buruk”, ibu adalah orang pertama yang merasakannya. Ini menunjukkan bahwa kepentingan alam dan manusia dianggap setara dan saling terhubung.

Kaitan antara lingkungan dan nasib sosial juga tampak jelas dalam puisi “Batat”.Pada puisi ini, ekologi sastra bersinggungan dengan isu lingkungan akibat industri, yakni kehadiran “kebun PT Marihat”. Alam yang awalnya murni kini terkikis oleh perkebunan sawit. Namun, penyair melihat “Tuhan Maha Manis” karena menumbuhkan “pare yang membelit pokok sawit”. Pare yang pahit menjadi simbol perlawanan sekaligus adaptasi manusia terhadap takdir yang pahit. Di tengah dominasi industri (sawit), alam masih menyediakan ruang kecil (pare) untuk bertahan hidup bagi mereka yang “bernapas di tilas hari-hari melarat”.

Pada bagian akhir puisi pertama, penyair menggambarkan dunia dengan segala unsur alamnya menjadi “cahaya” ubi, tebu, ayam, hingga bunga tanjung semuanya bersinar. Kerusakan dunia dan penderitaan fisik disembuhkan melalui penyatuan kembali dengan cahaya Tuhan. Alam tidak lagi dipandang sebagai benda mati yang bisa dieksploitasi, melainkan sebagai sesuatu yang manusia kembali ke fitrahnya yang paling murni sebagai “anak-anak agama”. 

Dalam puisi “Kata Khatam Ibu”, kita melihat memori ekologis berfungsi sebagai petunjuk untuk pulang. Melalui kuliner tradisional seperti “pindang inggit-inggit” ikan jenis baung yang didapat dari sungai kenangan masa lalu dipanggil kembali. Sungai dalam puisi ini bukan sekadar air, melainkan urat nadi kehidupan yang menyimpan “ikan-ikan kebaikan”. Ketika manusia merasa tersesat dalam kehidupan dunia, jejak kaki ibu di tanah menjadi petunjuk yang mengarahkan mereka kembali ke asalnya. Alam (sungai, ikan, bunga kenanga) adalah rumah tempat manusia bisa membersihkan sirinya dari dosa masa lalunya. 

Sebagai penutup, antologi puisi karya Muhammad Asqalani eNeSTe ini memberikan pesan ekologis yang kuat bagi pembaca modern. Melalui bahasa yang ringan namun penuh makna serta diselipkan bahasa-bahasa kiasan yang memperindah puisi ini, kita diingatkan bahwa melupakan alam sama saja dengan melupakan ibu yang telah melahirkan kita. Alam adalah ruang yang di sanalah kelak kita akan menemukan jalan pulang yang paling damai. Karena sejatinya manusia dan alam memiliki ikatan yang tak terpisahkan. Kebaikan tidak hanya harus terbang ke langit, tetapi harus tetap mengakar kuat di bumi yang kita pijak.

Daftar Pustaka

  • ENeSTe, M. A. (2023). Sehimpun Puisi Ikan-Ikan Kebaikan Terbang dari Sungai ke Langit Lengang. Penerbit Meja Tamu.
  • Jannah, A., & Efendi, A. N. (2024). Kajian Ekologi Sastra ( Ekokritik ) dalam Antologi Puisi Negeri di atas Kertas Karya Komunitas Sastra Nusantara : Perspektif Lawrence Buell. GHÂNCARAN: JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA, 5(3), 77–90. https://doi.org/10.19105/ghancaran.vi.17182
  • Rinahayu, N., & Kristianto, B. (2022). Konstruksi Hubungan Alam dan Manusia melalui Kerangka Maskulinitas Ekologis dalam Film Jungle ( 2017 ): Ekokritik Sastra. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya, 5(1), 101–118.

***

هرموني الم دان لوك إبو دالم ڤويسي مهمد اسقولاني ن.س.ت

هوبوڠن انتارا مانوسيا دان الم بوكن سكادر هوبوڠن ڤمنفائتن سومبر داي ملاينكن جالينن اموسيونل يڠ مندالم. دالم انتولوڬي ڤويسي إكن-إكن كبايكن تربڠ داري سوڠاي ك لاڠيت لڠڠ كريا مهمد اسقولاني ن.س.ت، الم تيدق هادير سباڬاي لاتر بلاكڠ ستاتيس، ملاينكن سباڬاي سوبجك يڠ إكت مرساكن اروس كهيدوڤن مانوسيا. سڤرتي يڠ ڤنوليس كوتيڤ داري ارتيكل رينهايو دان كريستيانتو (٢٠٢٢) بهوا هوبوڠن الم دان مانوسيا تيدق هاڽ ممڤرسنتاسيكن ڤرسوالن الم، تتاڤي جڬ ڤرسوالن مانوسيا. ملالوي تيوري اكولوڬي، كيت داڤت مليهت چرا سڠ ڤڽائير مڠهوبوڠكن الم دڠن سوسوق إبو سباڬاي باه ڤرومڤمائن تنتڠ كسوبورن، كتباهن، سكاليڬوس كراڤوهن ليڠكوڠن يڠ مولاي ترڬروس اوله زامن

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini