Riasastra.com – Pernahkah kita membayangkan bahwa sesuatu yang tampak paling keras ternyata menyimpan denyut kehidupan paling dalam? Batu, yang selama ini dipandang sebagai simbol kekerasan, kebisuan, ketegaran, bahkan ketidakpedulian, dalam karya Helvy Tiana Rosa menghadirkan hal tersebut sebagai ruang sunyi tempat nurani hidup dan bergetar. Melalui buku Jantung yang Berdetak dalam Batu, pembaca diajak memasuki wilayah batin manusia yang sering terabaikan, yaitu sisi empati yang terpendam di balik luka, konflik, dan kekerasan. Karya ini tidak hanya menghadirkan ungkapan puitik, melainkan mengajak pembaca merenungkan kembali makna kemanusiaan melalui bahasa yang halus namun menggugah.
Helvy Tiana Rosa dikenal sebagai penulis yang konsisten mengangkat isu kemanusiaan, khususnya penderitaan akibat konflik sosial, kekerasan, dan ketidakadilan. Dalam Jantung yang Berdetak dalam Batu, tema tersebut hadir bukan dalam bentuk ceramah moral, melainkan melalui ungkapan puitik yang menyentuh pengalaman batin subjek liriknya. Penderitaan tidak disampaikan dengan nada keras atau dramatis, melainkan melalui kesunyian yang justru terasa lebih menyakitkan. Kesunyian ini menjadi tempat untuk menghadirkan realitas luka yang sering tidak terucapkan, karena selalu berlindung dibalik batu yang sangat keras.
Judul Jantung yang Berdetak dalam Batu menyimpan metafora yang kaya makna. Batu dapat dimaknai sebagai simbol hati yang membeku akibat trauma, penindasan, atau kehilangan, sedangkan jantung melambangkan kehidupan, harapan, serta kepekaan nurani. Metafora ini menegaskan bahwa sekeras apa pun pengalaman hidup membentuk seseorang, denyut kemanusiaan tidak pernah benar-benar lenyap. Dalam realitas sosial, korban kekerasan sering terlihat kuat di permukaan, namun menyimpan luka yang dalam dan kompleks di balik sikap tersebut.
Ketika membaca buku ini, pembaca akan menemukan wajah seorang anak kecil yang kehilangan ibunya di balik reruntuhan, ada seorang ibu yang tak bisa lagi menatap mata anaknya karena matanya tertinggal di medan tempur, dan seorang pemuda yang tetap tersenyum meski tubuhnya telah kehilangan satu kaki. Namun dibalik itu, mereka semua masih punya jantung, dan jantung itu masih berdetak, meski dunia seolah membiarkan mereka membatu.
Puisi-puisi dalam buku ini banyak menggambarkan individu yang hidup dalam situasi ekstrem, seperti perang, penindasan, dan ketidakpastian masa depan. Namun, pengungkapan puitik tidak berhenti pada penderitaan fisik semata, melainkan menelusuri dampaknya terhadap jiwa manusia. Kekerasan digambarkan bukan hanya sebagai peristiwa, tetapi sebagai pengalaman yang perlahan membentuk cara berpikir, merasa, dan bersikap. Fakta sosial menunjukkan bahwa trauma psikologis akibat konflik sering bertahan lebih lama dibandingkan luka fisik, sehingga penggambaran batin tokoh dalam buku ini terasa lebih relevan dengan kondisi nyata.
Gaya bahasa yang digunakan Helvy tergolong sederhana, namun sarat makna. Larik-larik puisinya tidak berbelit, tetapi mampu menciptakan suasana emosional yang kuat. Kesederhanaan ini justru menjadi kekuatan karena pesan kemanusiaan dapat diterima oleh pembaca dari berbagai latar belakang. Pilihan bahasa tersebut mencerminkan keberpihakan penulis pada nilai kemanusiaan universal, bukan semata-mata pada keindahan estetika atau permainan kata.
Posisi suara lirik dalam puisi-puisi memperlihatkan kedekatan emosional antara narator dan peristiwa yang diceritakan. Pembaca tidak diposisikan sebagai penonton pasif, melainkan sebagai saksi batin atas penderitaan tokoh. Dengan cara ini, pembaca diajak merasakan kegelisahan, ketakutan, dan harapan secara langsung. Dalam kajian sastra, pendekatan semacam ini kerap dianggap mampu menumbuhkan empati dan kesadaran moral, karena pembaca mengalami peristiwa secara emosional, bukan sekedar memahami secara rasional.
Hal menarik lainnya adalah keberanian Helvy menghadirkan harapan di tengah situasi gelap. Harapan dalam buku ini tidak muncul sebagai solusi yang menghadirkan kebahagiaan di akhir, melainkan sebagai denyut kecil untuk terus bertahan. Jantung yang Berdetak dalam Batu menjadi simbol bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalan untuk hidup, meskipun berada dalam ruang yang sempit dan menekan. Dalam kondisi konflik, tindakan-tindakan sederhana seperti solidaritas, kepedulian, dan keberanian untuk tetap peduli sering menjadi penopang utama keberlangsungan hidup manusia.
Dalam konteks kajian sastra, Jantung yang Berdetak dalam Batu dapat dibaca sebagai bentuk sastra kesaksian yang merekam realitas kemanusiaan melalui pengalaman individu. Sastra semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai karya estetis, tetapi juga sebagai dokumentasi emosional atas peristiwa sosial. Dengan menghadirkan penderitaan dalam bentuk personal, pembaca diajak menyadari bahwa konflik besar selalu berdampak langsung pada kehidupan manusia biasa.
Karya ini juga memperlihatkan keterkaitan antara ruang personal dan ruang sosial. Pergulatan batin subjek lirik tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkaitan dengan struktur sosial yang tidak adil atau situasi politik yang menekan. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan sastra kontemporer yang menegaskan bahwa teks sastra lahir dari realitas sosial dan berinteraksi dengannya. Secara tidak langsung, buku ini mengajak pembaca bercermin pada sikap pribadi terhadap penderitaan di sekitar. Ketika kekerasan dan tragedi semakin sering hadir dalam berita, kepekaan manusia berisiko menurun. Dalam situasi seperti ini, sastra berperan mengembalikan sisi manusiawi yang mulai hilang.
Pada akhirnya, buku ini menegaskan bahwa empati bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan sikap yang perlu terus dipelihara. Batu dalam cerita tidak hanya melambangkan kekerasan, tetapi juga peringatan tentang bahaya membiarkan hati beku. Melalui kisah-kisah yang sunyi namun bermakna, Helvy Tiana Rosa berhasil menghadirkan sastra sebagai ruang refleksi kemanusiaan. Membaca Jantung yang Berdetak dalam Batu berarti belajar mendengarkan degup kehidupan yang tersembunyi, baik dalam diri tokoh maupun dalam diri pembaca sendiri.
Referensi
- Rosa, H. T. (2025). Jantung yang berdetak dalam batu. D.I. Yogyakarta: Bukunesia.
***
ممباچ دڬوڤ ترسمبوڽي دالم جنتوڠ باتو
ڤرنهكه كيت ممبايڠكن بهوا سسواتو يڠ تمڤق ڤاليڠ كرسترڽات مڽيمڤن دڽوت كهيدوڤن ڤاليڠ دالم؟ باتو، يڠ سلام إني ديڤندڠ سباڬاي سيمبول ككراسن، كبيسوان، كتڬارن، بهكن كتيدكڤدوليان، دالم كريا هلۋي تيان روس مڠهاديركن هل ترسبوت سباڬاي رواڠ سوڽي تمڤت نوراني هيدوڤ دان برڬتر. ملالوي بوكو جنتوڠ يڠ بردتق دالم باتو، ڤمباچ دياجق مماسوكي ويلايه باتين مانوسيا يڠ سريڠ ترابايكن، يايتو سيسي امڤاتي يڠ ترڤندم د باليك لوك، كونفليك، دان ككراسن. كريا إني تيدق هاڽ مڠهاديركن اوڠكاڤن ڤويتيك، ملاينكن مڠاجق ڤمباچ مرنوڠكن كمبالي مكن كمنوسيائن ملالوي بهاس يڠ هالوس نامون مڠڬوڬه
























