gambar hanya ilustrasi. sumber: bing

Riausastra.com – Lingkungan hidup menjadi perhatian global yang tidak bisa diabaikan. Isu ini mencakup perubahan iklim, polusi udara, penumpukan sampah, dan hilangnya keanekaragaman hayati yang menjadi ancaman bagi kesehatan manusia, kesejahteraan, dan keberlanjutan isi bumi. Menurut Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), kesehatan lingkungan adalah suatu kondisi lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungan untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan bahagia.  Jadi, manusia memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan kondisi lingkungan yang sehat dan nyaman.

Media sosial adalah pilihan yang tepat bagi mahasiswa mengajak masyarakat untuk peduli pada lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian dalam Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa dan sastra berjudul “Peran Media Sosial dalam Mempromosikan Gaya Hidup Berkelanjutan: Studi Budaya Konsumen Hijau di Kalangan Milenial (Krisna Ardianto dkk, 2025). Media sosial menjadi alat yang efektif dalam mempromosikan produk dan praktik ramah lingkungan karena kemampuannya untuk menjangkau audiens yang luas dengan cepat dan mudah. Media sosial dapat kita gunakan untuk menggungah postingan gerakan peduli lingkungan untuk mengajak orang lain menjaga bumi ini supaya tetap sehat. Saat ini, media sosial dibanjiri dengan postingan kampanye bertema ajakan untuk hidup ramah lingkungan seperti save earth, plastic free, dan   zero waste life. Di balik ramainya postingan kampanye tersebut timbul satu pertanyaan, “Apakah kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan di media sosial lahir dari kesadaran, atau hanya sekedar simbol tanpa adanya pergerakan?”

Menjawab pertanyaan mengenai kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan, Duta Generasi Hijau menjelaskan bahwa kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan di kampus masih sangat rendah. Pernyataan ini dibuktikan dengan masih banyaknya sampah yang dibiarkan di sekitar kampus saat hari aktif kuliah, padahal itu sampah mahasiswa sendiri. Sehingga lingkungan tidak enak dipandang dan dirasa kurang nyaman.  Beliau juga menegaskan bahwa beberapa postingan kepedulian mahasiswa di sosial media bukan hanya simbol, postingan itu memang murni ingin mengajak orang lain untuk peduli lingkungan dengan melakukan tindakann nyata. Tetapi, masih ada mahasiswa yang hanya memiliki kepedulian palsu terhadap lingkungan di sosial media. Memang kepedulian lingkungan di media sosial bukanlah hal negatif. Namun, hal itu akan menjadi masalah lingkungan jika hanya sebatas unggahan di media sosial tanpa adanya tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena yang terjadi saat ini, tak jarang kampanye lingkungan dijadikan tren dikalangan mahasiswa di media sosial dengan menggungah foto cinta alam, namun di kehidupan sehari-hari mungkin masih ada kesulitan melakukan kebiasaan sederhana seperti membawa botol minum sendiri, memilah sampah dan membuang sampah pada tempatnya. Fenomena ini disebut performative activism – bentuk aktivisme yang menonjolkan tampilan ketimbang tindakan.

Padahal banyak kampus telah berusaha menjadi bagian dari gerakan hijau melalui program seperti, Bank Sampah, kampus hijau, dll. Kampus telah memasukan isu lingkungan melalui program kampus hijau, dengan menyediakan fasilitas pemilahan sampah, tempat sampah yang terpisah antara organik, anorganik, dan aktivitas penimbangan sampah. Terkadang upaya ini masih sia-sia karena tidak adanya kesadaran dan pengawasan.

Menumbuhkan kesedaran mahasiswa untuk peduli pada lingkungan tidak bisa jika hanya dengan imbauan. Perlu adanya pendekatan yang lebih menyentuh dan berkelanjutan. Pertama, kampus atau komunitas hijau bisa membuat kegiatan peduli lingkungan dengan melibatkan mahasiswa secara langsung dan rutin. Misalnya program eco-volunteer, bank sampah mahasiswa atau kegiatan kolaborasi green project antarorganisasi. Mungkin dibeberapa kampus sudah menerapkan cara ini.

Kedua, perlu adanya pemberian penghargaan bagi mahasiswa atau komunitas yang sudah konsisten menjaga dan peduli terhadap lingkungan. Hal ini sangat memotivasi mahasiswa lain yang belum memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Mahasiswa yang belum memiliki kesadaran dalam menjaga lingkungan akan tergerak hatinya untuk menjaga lingkungan sekitar.

Ketiga, mahasiswa perlu memulai dari diri sendiri, dimulai dari hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Namun, hal ini bisa dilakukan jika seseorang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Jika mahasiswa sadar bahwa tindakan kecilnya berdampak besar bagi lingkungan, maka budaya peduli lingkungan dikampus akan tumbuh dengan sendirinya, unggahan postingan peduli lingkungan tidak hanya menjadi sebuah tren tanpa adanya tindakan.

Lingkungan tidak akan berubah hanya karena kata-kata di postingan media sosial, melainkan melalui tindakan kecil yang dilakukan dilapangan. Media sosial memang memiliki peran besar dalam menyebarkan isu lingkungan. Namun, disisi lain media sosial membuat orang merasa sudah berbuat banyak, padahal hanya posting, like dan share atau menulis caption yang banyak. Mereka merasa sudah ikut berjuang menyelamatkan bumi. Mahasiswa memiliki niat baik dalam menjaga lingkungan, tapi penggunaan plastik sebagai tempat makanan masih belum bisa di kurangi karena plastik terbukti lebih praktis. Di sinilah muncul kata kepedulian lingkungan yang palsu.

Sebagai agent of change, mahasiswa memiliki peran sebagai penggerak perubahan sosial. Peduli lingkungan tanpa membutuhan sorotan kamera, mungkin jika kita menggungah satu foto aktivitas peduli lingkungan, orang-orang yang melihat postingan tersebut akan tertarik dengan kegiatan yang kita lakukan dan meniru tapi itu hanya dilakukan segelintir orang yang memiliki peduli lingkungan. Kepedulian terhadap lingkungan bukan perkara siapa yang paling sering bicara dan menggungah postingan di sosial media, melainkan siapa yang melakukan tindakan nyata. Gerakan hijau tidak akan hidup hanya dengan spanduk atau unggahan media sosial, melainkan melalui perubahan cara perpikir dan kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus. Sebenarnya tidak salah menggunakan media sosial untuk menggungah kegiatan dan pesan lingkungan. Namun pesan itu harus diikuti tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kini saatnya mahasiswa membuktikan bahwa aktivisme hijau tidak hanya berhenti di ruang digital. Kita perlu memahami bahwa menjaga lingkungan bukan hanya ajang pamer di sosial media, melainkan perjalanan panjang menuju kesadaran kolektif. Melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara terus menerus seperti membuang sampah pada tempatnya, menggurangi penggunaan plastik, menggunakan produk ramah lingkungan dan menolak produk yang merusak alam. Tanggung jawab individu dalam mengelola sampah memberikan pengaruh yang lebih nyata dibandingkan hanya membagikan kampanye di media sosial. Mahasiswa memiliki peran penting dan potensi besar untuk berkontribusi langsung pada pelestarian lingkungan. Mari kita mengubah aktivisme hijau menjadi kebiasaan dan terhadap isu lingkungan, agar kepedulian kita tidak hanya menjadi simbol di media sosial saja. Perubahan kecil yang dilakukan secara terus menerus akan memberikan dampak yang besar, konsistensi dapat menjadikan mahasiswa sebagai contoh nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya tren di media sosial saja, tetapi menjadi bentuk gaya hidup yang terus terjaga.

***

مهاسيسوا دان كڤدوليان ڤلسو

ليڠكوڠن هيدوڤ منجادي ڤرهاتيان ڬلوبل يڠ تيدق بيس ديابايكن. إسو إني منچاكوڤ ڤروباهن إكليم، ڤولوسي اودارا، ڤنومڤوكن سمڤه، دان هيلڠڽ كئنكرڬامن هياتي يڠ منجادي انچامن باڬي كسهات مانوسيا، كسجهترائن، دان كبرلنجوتن إسي بومي. منوروت هيمڤونن اهلي كسهاتن ليڠكوڠن إندونسيا (ه.ا.ك.ل.ي)، كسهاتن ليڠكوڠن اداله سواتو كونديسي ليڠكوڠن يڠ ممڤو منوڤڠ كسئيمباڠن اكولوڬي يڠ ديناميس انتارا مانوسيا دان ليڠكوڠن اونتوق مندوكوڠ تچاڤايڽ كواليتس هيدوڤ مانوسيا يڠ سهت دان بهاڬيا. جادي، مانوسيا مميليكي تڠڬوڠ جاوب بسر اونتوق منچيڤتاكن كونديسي ليڠكوڠن يڠ سهت دان ڽامن

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini